Jumat, 18 Maret 2011

LELAKI LEBAH

Aku bertemu dengannya di suatu siang, di awal Agustus. Tepat di bawah langit berwarna abu-abu muda. Dia duduk seorang diri di sebuah bangku panjang di ruang tunggu sebuah terminal. “Hafiz,” begitu dia menyebut namanya.

Berkali-kali aku menghela nafas panjang, mencoba mencari udara segar. Tapi kabut benar-benar menyerang semua orang dengan bertubi-tubi. Ow, rupanya sebagian lahan gambut di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah terbakar.

Aku mendengar orang-orang berbicara dengan bahasa yang menyadarkanku bahwa aku tidak di pulau jawa lagi, “Ding”, “Acil”, “nyawa”, “unda” dan bahasa Banjar lainnya.
Setelah beberapa saat menunggu kami naik bus yang telah merapat di terminal. “Banjarmasin – Palangkaraya,195 km, rute yang sudah menjemukan.” Hafiz bergumam. Padaku? Aku rasa tidak, karena dia duduk bersama gadis cantik berjilbab ungu.

Aku tak melepaskan kameraku sepanjang perjalanan itu. Bahkan saat bus singgah di Kabupaten Pulang Pisau hingga sampai ke terminal Bundaran Burung Tingang. Aku juga sempat makan di sebuah warung dan mencicipi ikan haruan dan sambal acan sebelum akhirnya mengikuti Hafiz menuju jalan Bukit Keminting, dekat Universitas Palangkaraya, tempat tinggalnya, di sebuah barak sederhana.

Hari-hari selanjutnya aku terus mengikuti kemanapun dia pergi. Bahkan ketika malam-malamnya sering dihabiskan di kantor.
Tapi suatu hari aku mendapati dia masih termangu di depan layar yang bersih.
“Hafira akan pergi…dia akan menikah…” ucapnya dengan wajah muram.
“Kau mencintainya?”
“Dia sepupuku, yang selama ini merawat ayahku yang stroke dan sakit-sakitan.”

Ah, aku tahu menjadi PNS di luar kota seperti dirinya, dengan gaji pas-pasan bukanlah hal yang mudah. Membawa ayahnya pindah ke Palangkaraya juga hal yang tidak mungkin. Masalah demi masalah terus menimpa Hafiz, seperti pande besi yang tak pernah lelah menempa besinya. Bahkan hingga akhirnya dia harus menjadi kuli bangunan.
“Carmen dan Mariana tidak suka kau jadi kuli,” ucapku menatap Hafiz yang berpeluh karena mengangkati bahan-bahan bangunan.
“Hidup adalah pilihan,” ucapnya tanpa menoleh.
“Jadi siapa yang kau pilih? Carmen atau Mariana?”
“Tidak keduanya.” dia terus memasukkan bata-bata ke dalam gerobak.
“Tapi mereka sangat mencintaimu.”
“Tapi bukan berarti aku harus mencintainya, kan?”
“Atau…jangan-jangan kau menyukai Selia? gadis yang dulu menabrakmu?” tanyaku antusias. Hafiz menggeleng, lalu mendorong gerobak yang penuh batu bata.

Selia, aku terkejut saat bertemu gadis itu, kupikir itu Selia yang pernah ku kejar sampai ke Muara tungkal. Tapi ternyata bukan, beda jauh malahan.

Bukan Carmen, bukan Mariana, bukan Selia. Siapa? Ya Tuhan, aku tersentak saat aku tahu diam-diam Hafiz menyimpan sebaris nama dalam harapnya. Sebaris nama yang kemudian membagi dua ruang hatinya. Ruang untuk ayah dan ruang untuk Latifah.

“Gadis dalam bus itu? bukankah waktu itu kalian hanya saling diam? kau konyol ya, bagaimana kalau dia sudah bersuami? Kau pun tidak tahu nomor hpnya, emailnya, fbnya, apalagi alamatnya. Belum tentu juga dia suka padamu.” Hafiz hanya tersenyum mendengarku. Cinta memang aneh.

“Duh, sorry Fiz, jatah perjalanku habis. Aku harus pulang. Terima kasih untuk semuanya.” ucapku saat mendengar alarm waktu.

Aku segera kembali ke Jawa membawa berbagai kenangan dan peristiwa demi peristiwa yang kutemui. Maaf aku tak bisa menceritakan semuanya. Tapi yang jelas tiket kuning bertulis LELAKI LEBAH itu telah menyeretku menembus ruang dan waktu, ke pulau Kalimantan, berkenalan dengan tokoh-tokohnya, serta mengakrabi setiap jengkal alam dan budayanya. Dan sepanjang perjalananku, kutemui kisah-kisah yang kental dengan warna lokal yang eksotis, menggelitik empati, kaya wacana dan penuh motivasi.

Judul novel :LELAKI LEBAH
Penulis :Mahmud Jauhari Ali
Halaman :265 halaman
Penerbit :Tuas Media (0878 1559 4940)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...