Rabu, 06 Juli 2011

Untukmu, Kutulis dari Ruas Jalanku


Bismillahirrahmanirrahim
Untukmu, di kota X
Lalu kenapa air mata kita jatuh bersama sedangkan kita sudah mengatakan hanya akan menangis saat sendiri saja? Aku bahkan bingung ingin mengucapkan apa?

Pasti kau lupa bahwa kemarin kita berjabat tangan pun tidak. Kau dan aku sibuk mengusap mata-mata kita yang basah, menyembunyikan dari berpasang-pasang mata yang mungkin memandang kita penuh tanya.

Dan aku sengaja berpaling ke arah lain, sebab aku tak sanggup menyaksikan punggungmu menjauh. Meski saat aku menoleh tinggal debu-debu yang beterbangan.

Kelak, suatu hari nanti, jika Alloh mengijinkan kau dan aku bertemu kembali, aku ingin kita bertemu dengan senyum yang sama seperti saat pertama kali kita bertemu dulu. Senyum yang manis saat kau berlari-lari mendekatiku dan aku dengan bahagia menyambutmu. Lalu kita bergandengan berjalan di ruas jalan yang sama. Memang tak banyak jejak yang kita tinggalkan. Karena bisa dihitung kan berapa kali aku dan kau bertatap mata?

Kini, dari ruas jalanku ini, kulipat senyummu, kubungkus dengan doa, jangan pernah berhenti mengukir ruas jalan di kotamu nanti.

Untukmu, di kota Y
Tahun-tahun kita belakangan ini memang tak lagi bisa saling bertatap mata. Tapi kabar yang kau tulis di awal tahun lalu, cukup membuatku terkejut. Dan kita terpaksa membatalkan rencana yang pernah kita bahas bersama.

Lalu hari-harimu sibuk, sangat sibuk. Kita hanya sesekali saling sapa. Dan beberapa kali kudengar tawamu. Ah, itupun kau yang selalu lebih dulu menghubungiku.

“Aku mengagumimu sejak pertama kita bertemu. Dan selalu mengagumimu hingga kini.” Kataku suatu hari.
 “Ah, rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau,” aku yakin kau tertawa sambil berkata begitu.

Dan ini juni yang hangat, bulan yang kau katakan di awal tahun itu. Jangan sampai lupa apa-apa yang harus kau bawa untuk semuanya. Meski rasanya jarak antara kita semakin jauh, bukankah kau bilang sama saja. Karena selama 6 tahun ini pun hanya layar-layar kita yang berbicara.

Selamat mengukir hari di belahan bumi yang lain, tak ada pelukan, tak ada jabat tangan, tapi masih ada doa, semoga Alloh memudahkan segala langkahmu.

Untukmu, di kota Z
Matahari belum sampai di ubun-ubun saat kau datang padaku. Itu pertemuan kita yang kedua, dan aku harus jujur mengatakan bahwa kau tersenyum kepadaku dengan lebih manis, sangat manis.
Maka, jangan pernah melarangku lagi, jika aku bangga dan bahagia bisa mengenalmu dan belajar banyak hal darimu.
Kini aku tak lagi peduli apakah kita bisa berjalan di ruas jalan yang sama atau tidak.Terima kasih untuk semuanya, semoga Alloh menjagamu, selalu.

Gadingkirana 41118611
Perpisahan bukan berarti kehilangan
Tak bersama bukan berarti tak bahagia

2 komentar:

  1. bagus banget ceritanya nih,,,semoga perpisahan ini bisa mnejadi pelajran yang berarti utuk kita bial bertemu dengan perpisahan...

    Salam Kenal

    BalasHapus
  2. salam kenal kembali mas Sofyan. Terima kasih telah berkenan mampir :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...