Jumat, 02 November 2012

Kopi dan Wedelia






“Sejak kapan kamu minum kopi?”Wedelia memegang erat cangkir kopi di tangannya. Ditatapnya asap yang mengepul tipis
“Sejak kapan kamu minum kopi?”
Wedelia masih memegang erat cangkirnya, menghirup aromanya dalam-dalam.
“Wedeliaaaaaaa!”
“Em, eh, ya?! Ups..hampir tumpaah”
“Kamu melamun?”
“Eeengggak. Aku kan minum kopi?”
“Minum kopi? Aku tanya dua kali, sejak kapan kamu minum kopi?”
Wedelia tersenyum.
“Kamu kan gak suka kopi. Lambungmu selalu perih setiap kali kamu habis minum kopi. Bahkan meski minum satu seruputan, beberapa jam kemudian kamu akan bilang kalau lambungmu perih. Hingga satu seruputan kopi akan kamu netralkan dengan segelas air putih.”
Wedelia tersenyum, menatap kopinya, lalu menyesapnya pelan, hingga menimbulkan suara. “slruup”,  lalu menatapku dengan senyum.
“Sejak aku tahu kalau kopi itu ternyata, nikmaaaaat banget.”
Aku menggeleng, lalu meninggalkan Wedelia sendirian.
***
Kukira semua akan berhenti sampai di situ saja. Kupikir Wedelia hanya ingin minum kopi sesekali saja. Tapi ternyata dugaanku keliru. Aku semakin sering melihat Wedelia memegang cangkir kopi yang sepertinya dilakukan dengan penuh perasaan. Kadang aku melihatnya di dapur sedang mengaduk kopi. Kadang aku melihatnya membawa sebungkus kopi dari kamar, kadang aku melihatnya mencuci cangkir kopi, dan kadang aku melihat Wedelia membawa sekotak kopi sepulang kuliah. Kadang juga, dia akan duduk diam di balqon sambil memegang cangkir kopi, dan kali ini dia duduk di kursi teras sambil memandang hujan yang menyisakan gerimis.
“Kopi lagi?”
Dan seperti biasanya Wedelia hanya tersenyum. Lalu kami segera berbincang tentang banyak hal. Aku menunggu dia membahas tentang kopi, namun hingga aku ingin mengerjakan hal lain dan otomatis pembicaraan kami selesai, dia tidak menyinggung tentang kopi sama sekali.
Lain waktu saat aku akan mau belanja,
            “Aku nitip koi ya. Kopi hitam ya?”
            “Kopi lagi? Emang yang kemarin sudah habis kamu beli sekotak itu?”
            “Hehehe…”
            “yee, malah cengengesan! Jangan banyak-banyak. Nanti kalau maghmu kumat siapa yang repot?”
            “Enggak kok Si. Jangan didoakan kumat dong, kalau kumat aku gak bisa minum kopi lagi nanti.”
Aku menatap Wedelia, mencoba membaca otaknya lewat sorot matanya yang bening. Namun tak kutemukan jawaban di sana.
:) :)

10 komentar:

  1. Bagi penikmat kopi hal itu merupakan suatu hal yang wajar. Dimana kita dapat mulai merasakan sebuah rasa kenikmatan yang dapat selalu mengantarkan kita pada suatu citra rasa yang selalu menempel dalam panca indera kita, dan didalam tubuh kita.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada orang-orang yang merasa paginya belum lengkap sebelum minum kopi.
      Terima kasih sudah mampir Pak Indra :)

      Hapus
  2. Hehehe...
    Wedelia nekat minum kopi lah, kopi hitam lagi padahal udah tau punya penyakit maagh..
    salam kenal ya...

    wow..bukunya banyak banget
    kereeennn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...Halo Itik Bali, sodaraan ama PING nih ya...:)

      Makasih ya udah mampir. Yuk minum kopi dulu :)

      Hapus
  3. Aku doyan kopi.. mau yang item atau kopi susu atau capucino atai mocacino... semuaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Niken, waduuh...penikmat beneran tuh...sy jarang klo yang hitam. rasanya teralu berat :)
      Makasih ya dah mampir :)

      Hapus
  4. kopi cappuccino memang mantap, lebih mantap lagi kopi hitam, dan yang paling mantap adalah kopi luwak, harus coba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiyyyaaaa...saya blom coba kopi luwak..klo luwaknya dah lihat dulu di kampung. hehe
      Makasih dah mampir :)

      Hapus
  5. bahasa yg lembut khas shabrina ws :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...