Kamis, 13 Desember 2012

Suaramu Masih Tumbuh di Sini



Aku berdiri di sini, di tempat biasanya kau menyandarkan kepala.  “Pohon yang tumbang tak akan berdiri lagi dan telur yang pecah tak akan bisa menetas. Seberapa dalam sebuah penyesalan tak akan pernah mengembalikan apa yang telah terjadi. Tapi ada satu hal, menyadari kesalahan bisa menjadi rambu-rambu agar hal itu tak terulang kembali.” Begitu ucapmu, dulu. Sambil menatap deretan pohon jati dengan lengan-lengannya yang  tanpa daun. 

Kini, halaman belakang itu sudah hilang. Tak ada lagi aroma ilalang. Semak  tempat sigung sembunyi kini berubah menjadi pagar tinggi. Tak ada sinar matahari pagi menembus panci-panci hitam yang bergantung di samping meja dapur. 

Namun, aku masih sering mendengar suaramu, Kakak. Di antara dengung kulkas, desisan komputer tua dan jam yang bergantung di dinding yang catnya telah mengelupas. Meski saat aku menoleh, aku hanya menemukan udara.

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...