Rabu, 23 Oktober 2013

Aku Jatuh Hati Padanya




“Kamu pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama,”  kata Daym.
“Huuh, gak mungkin. Aku bukan orang yang gampang jatuh cinta.”
“Kita buktikan saja.”
“Oke, kita buktikan!” tantangku.
***
            Liburan tiga hari, tidak kugunakan untuk pulang kampung. Aku merelakan jatah pulangku sekaligus merelakan jatah jajan bulananku untuk ke Donorojo, rumah temanku Daym. Bahkan untuk perjalanan itu akupun harus menabung dari uang laba hasil jualan majalah dan  jilbab.
            Dan begitulah, pagi itu aku, Daym, dan Benti berangkat menuju Donorojo. 35km ke arah barat kota Pacitan. Aku pergi ke rumah teman dengan tenang, karena sebelumnya sudha minta izin pada orangtuaku. Meskipun aku anak kos yang kata beberapa orang bebas melakukan apa saja karena jauh dari pandangan orangtua, aku tetaplah gadis manis yang menjaga pesan-pesan orangtua. Jadi aku memang jarang pergi-pergi seperti yang dilakukan beberapa temanku.
            Kami bertiga naik bus jurusan Solo dari depan stasiun radio RGPA.  Sampai di Donorojo kami menyambung dengan naik angkutan menuju rumah Daym di Kalak. Kami menunggu angkutan penuh, dengan penumpang yang masing-masing harus memangku sendiri barang bawaannya.
            Turun dari angkutan aku kira kami sudah langsung di depan rumah Daym. Ternyata kami masih jalan agak jauh.
            Namun setelah sampai di rumah Daym perjalanan kami terbayar sudah dengan suguhan es kelapa muda dan gula jawa buatan ibunya Daym. Sambutan yang ramah dari seluruh keluarga membuat aku merasa pulang ke rumah saudaraku sendiri.
            Sorenya, saat tiba waktunya untuk mandi, betapa terkejutnya aku dan Benti. Karena untuk mandi dan wudhu kami hanya mendapat jatah satu ember air.
            “Lho, Ym. Memang di sekitar sini gak ada tempat mandi umum gitu? Kalau di tempatku namanya jeding umum?” tanyaku
            “Ada tapi ngantri kalau musim kemarau gini. Biasanya kami punya tandon air dari selang sih. Tapi karena kemarau airnya sudah nggak sampai sini.”
            “Terus ini air dari mana?”
            “Bapakku bawa dari tempat pengambilan air umum, itupun harus ngantri juga.”
Ah, aku jadi malu. Untuk mandi saja kok ya kami merepotkan bapaknya Daym. Maka air itu aku gunakan untuk wudhu sholat ashar, maghrib dan isya.
            Dan pagi yang kami tunggupun datang. Saatnya aku akan membuktikan pada Daym aku yang benar atau dia yang benar. Enak saja aku dibilang akan jatuh cinta.
            “Kalian sudah siap?” tanya Daym.
            “Hah? Berangkat sekarang?” Benti mengangkat kepalanya yang sejak selesai subuh ditutup bantal.
            “Iya. Ayo.”
 Aku dan Benti saling pandang. Ya Ampun, subuh-subuh gitu lho. Masa mau mengadakan perjalanan? Tapi karena kami tamu ya kami manut saja sama yang empunya rumah.
Perjalananpun di mulai. Kami menyusuri jalan tanah yang remang-remang. Beberapa barang bawaan membuat tas kami menjadi gendut.
“Rasanya aku tidak sabar,” ucap Benty yang berjalan di depan..
“Halah, biasa sajalah, Ben.”
Aku lupa berapa menit kami berjalan. Spontan, aku menahan langkahku saat kudengar suara seruling.
            “Ym, gila. Siapa jam segini main seruling?” aku menatap Daym penuh tanya. Hiih bisa juga kan hantu. Batinku
            “Nanti kamu akan tahu. Sekarang pejamkan mata, bergandengan ya?” kata Daym.
            “Apa-apaan sih?”
Oke, sekali lagi kami mengikuti saja perintah Daym. Kami berjalan bergandengan dengan memejamkan mata mengikuti panduan Daym. Benti ngomel-ngomel. Aku diam-diam merapal doa. Dan setelah agak jauh melangkah, kami disuruh membuka mata.
            “Taarrraaaaraaa….selamat datang di Klayaaaaar!”
            Waw! Subhanalloh…kami bagaikan tamu agung yang disambut dengan hamparan pasir putih yang lembut. Sementara suara seruling semakin jelas terdengar.
            “Itu suara seruling laut, yang berasal dari celah batu karang dan deburan ombak,” Daym menunjuk ke arah batu karang. Wah..ternyata bukan hantu, batinku.
            “Waw! Gundukan emas?!” Benti menjerit.
            “Subhanalloh…gundukan-gundukan karang yang terkena sinar matahari itu benar-benar seperti gundukan emas. Ini luar biasa!” aku menjerit sekerasnya. Berlari-lari di pasir dengan telanjang kaki. Bermain dengan ombak dan berteriak sekuat tenaga.
            “Ayo kita main di pancuran air mancur alam,” ajak Daym sambil menunjukkan air mancur yang semburannya kira-kira 10 meter.
            “Kereeeen!”
Kami asyik bermain di bawah gerimis air mancur alam. Gerismis yang tercipta karena gelombang tekanan udara di laut yang menghantam batu-batuan berongga.
Kami persis anak-anak yang baru mendapatkan mainan. Pantai masih sepi. Hanya kami bertiga yang menjerit-jerit berlomba dengan suara ombak.
            Puas bermain-main dengan air, aku sibuk mengumpulkan kulit-kulit kerang. Ya, ini memang sudah aku rencanakan, makanya aku sengaja membawa kresek. Berlomba aku dan Benti mengumpulkan kulit kerang-kerang yang cantik.
             Bukan apa-apa, kami pernah memenangkan lomba hasta karya pada kemah persahabatan. Waktu itu kami membuat hiasan dari pasir laut dan kulit kerang. Maka akupun tidak lupa memasukkan pasir putih yang lembut itu ke dalam plastik lain yang sudah aku persiapkan.
            Daym hanya geleng-geleng melihat ulah kami. Setelah itu kami berjalan ke  arah timur melihat tebing-tebing kapur yang berdiri gagah. Lalu kami kembali lagi ke arah barat. Menaiki  tebing hijau dan hamparan rumput-runput yang seperti karpet.
            Kami membuka bekal yang kami bawa. Menikmatinya sambil memandang laut biru .
            “Kamu sudah tidak sedih lagi kan, Ben?” tanya Daym. Ya, kami baru ingat, kalau kepergian kami waktu itu juga untuk menghibur Benti yang sedang patah hati.
            “Jangan membayangkan dia ada di sini. nanti kamu malah sedih,” imbuhku.
            Benti membuang pandangan ke laut lepas. “Kalau aku tinggal di sini, rasanya tak butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka.”
            “Cie…jadi puitis.”
Kami membiarkan Benti hanyut dengan hatinya. Aku rasa benar, bercanda dengan pantai memang salah satu cara untuk melepaskan sesak di hati. Aku masih ingat ketika suatu siang saat hatiku seperti diparut, aku juga memilih lari ke pantai. Berteriak sepuasku. Aku juga masih ingat ketika banyak tugas-tugas sekolah aku berlari ke pantai dan mengerjakan di atas pasir.
Dulu kukira  pantai Teleng Ria yang selalu menjadi teman akrabku adalah pantai setia dan terindah yang aku tahu. Aku rasa Klayar yang tempatnya jauh dari keramaian dan agak terpencil itu, hanya bisa-bisanya Daym saja mempromosikan kepada kami.
Namun ternyata aku salah. Klayar sangat cantik. Dia seperti syurga yang tersembunyi.  Klayar mempunyai keindahan dan keunikan sendiri. Dan, saat itu aku mengakui kalau ternyata Daym benar, aku jatuh hati, di sini, pada dia, Klayar.
“Huaaaa!”
Kami terkejut ketika Benti tiba-tiba berteriak.
“Benti? Kau tidak apa-apa?” kami mendekati Benti
“Huaaa! Hari ini kulepas kau dari hatikuu!” Benti kembali berteriak. Aku dan Daym saling pandang. Dan untuk beberapa saat masih membiarkan Benti sendirian berdamai dengan hatinya.
“Jadi, siapa yang menang?” tanya Daym.
“Menang apa?”
“Menang apa? Ya menang tebakannya dong. Apa benar kau tak jatuh hati?”
“Iya, Ym. Aku jatuh hati pada pantai ini. Klayar,” aku mengaku, jujur.

Sidoarjo 2010-nostalgia SMA 
Fotonya copas dari sini

2 komentar:

  1. Ini fiksi apa kisah nyata yang berangkat dari pengalaman pribadi mbak Brien :D?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini dari kisah nyata Mbak. Tapi gak punya foto2nya, gak punya kamera :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...