Senin, 03 Februari 2014

[Puisi] Pintu

Pintu selalu menunggu, berdiri tetap di tempatnya.
Meski engselnya karatan.
Meski aromanya apak.
Meski rayap-rayap menggerogoti kekuatannya.
Meski lumut memenuhi wajahnya.
Pintu tetap menunggu, tak kenal waktu.
Karena dinding mengajarinya untuk tetap setia.

Tapi hatinya tak berpintu, juga tak berjendela.
Ketika kau keluar dari sana,
maka kau harus berjuang keras
dan mencari seribu cara
untuk kembali menjadi penghuninya.


2 komentar:

  1. Mbak fontnya angel, tidak bisa dibaca cepat :(,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, kemarin mau ngedit keburu inetnya mogok.
      Makasiih, udah edit :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...