Minggu, 31 Agustus 2014

BAQO



“Sangat tampan. Petarung ulung. Jagoan!” Begitu kata bapak sambil menepuk-nepuk punggung Baqo.
Saya tidak menyembunyikan tawa melihat adegan itu. Kenyataan bahwa kucing kuning itu menjadi anak lelaki di rumah kelahiran kami sepertinya justru menjadi kalimat yang pas.
Bapak menemukan hewan itu di lahan kosong dekat tempatnya bekerja, membawanya pulang setelah berhari-hari tak ditengok induknya.
Waktu seringkali menjadi saksi perubahan-perubahan pada seseorang. Termasuk kedua orangtua saya.
Bapak, tidak pernah membenci hewan sepanjang dalam ingatan saya. Tapi ibu? Beliau selalu mengatakan, “bulu-bulu rontok”, “kotoran-kotoran” dan kalimat-kalimat lain.
Tapi, ketika saya dan adik saya membangun keluarga sendiri, dan mereka hanya tinggal berdua saja perburuan itupun di mulai. Satu persatu kucing datang dan pergi. Hingga hadirlah Baqo.
Di telepon, ibu mengatakan mencari kucing sebagai penjaga tikus di dapur. Bapak terang-terang mengatakan  dari dulu suka kucing.
Belakangan, ibu sering cerita kalau Baqo seringkali menjadi temannya saat memasuk, mengikat sayuran, mencetak rengginang, atau penghangat kaki saat menonton televisi. Mendahulukan memberi makan kucing sebelum mulai aktifitas. Tak pernah lupa membeli ikan dan menyempatkan menggoreng. Bahkan, menjadi orang yang paling panik ketika Baqo tak pulang selama dua hari.
Pernah juga, dengan bangga cerita kalau Baqolah yang membangunkan untuk sholat subuh ketika mereka kesiangan.
Katanya, hewan seringkali memilih tuannya. Di saat tertentu kehadiran mereka menjadi sepenting keluarga. Terlepas dari itu, kehadiran kucing-kucing di tengah bapak dan ibu, memberi saya renungan, bahwa sejauh apapun jarak dan waktu membentang, jangan sampai saya melupakan komunikasi dan kunjungan ke rumah tempat bapak ibu menyebut kami dalam doanya, tempat sebagian kenangan tersimpan.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...