Rabu, 31 Desember 2014

Hujan, dan Kami Bertukar Cerita di Beranda



Cerita hujan untuk Cantigi

Salam kenal Cantigi. Aku menemukan link blogmu yang sedang mengadakan GA Cerita Bersama Hujan di beranda facebook. Aku tersenyum, GA yang pas banget di musim hujan. Aku pikir banyak  orang menyukai hujan ya. Banyak sekali tulisan-tulisan lahir dari kata hujan.  

Pernah suatu hari, aku iseng mencari buku-buku yang berjudul hujan. Belum lagi puisi dan cerpen-cerpen. Mungkin benar ya, bersama jatuhnya hujan ada kata-kata yang tumbuh.

Bahkan GAmu ini menambah panjang daftar tentang hujan. Dan pada akhirnya,  akupun tertarik untuk mengikutinya.

Tapi, aku harus merenung lama untuk menulis cerita  bersama hujan. Beberapa menit lagi DL dan aku tidak sempat membaca naskah peserta lain.

Yang terbayang dalam kepalaku ketika membuka halaman kosong, adalah kilasan adegan beberapa hari lalu, sewaktu aku mudik dan berbagi kisah dengan kakek di beranda rumah ibu.


Hari masih pagi ketika gerimis menjelma deras.  Kami tertawa-tartawa setelah sebelumnya tiga kali menjemur dan mengangkat cucian.
“Deras juga,” kataku ketika akhirnya hujan menciptakan genangan di halaman.
Lelaki itu terkekeh.
“Apa yang kakek sukai dari hujan?” Aku bertanya iseng.
“Laron.”
Aku tertawa. 

Ya, kakek memang suka Laron. Dan hujan di awal musim selalu membuatnya sibuk dengan  laron-laron. Bapak akan bangun pagi-pagi, mencari rumah-rumah Laron, menggali lobang, membuat tandon laron dari daun pisang dan menutupnya sedemikian rupa.

Lalu, kakek dengan senang hati mengumpulkannya ke dalam ember beberapa jam kemudian, sebelum akhirnya dibawa pulang dan diberikan kepada ibu.
Kakek menyukai masakan apapun yang berbahan Laron. Dipepes, digoreng, disantan pedas bahkan dibuat rempeyek.
“Kalau aku, suka melihat hujan sambil melamun Kek,” kataku.
Kali itu, gantian kakek tertawa. 

“Kek, dulu setiap kali hujan datang almarhum Nenek Buyut selalu di depan tungku, membakar apa saja asal dapurnya hangat ya?”
“Ya.” Jawab kakek pendek.
“Aku sering mengingat itu Kek. Kalau langit hitam dan angin kencang, buyut akan menaruh ember di tengah halaman dan diberi sabit. Aku benar-benar  tak tahu apa fungsinya. Kakek tahu?”
Kakek tersenyum. Lelaki itu menggeleng.
“Atau kalau hujan dan petir sangat deras, Nenek Buyut akan  berteriak ‘ dalane duwuuur, dalane duwuuur’ sambil melempar  garam ke tengah hujan.”
Kakek tersenyum lagi.  Tapi kulihat matanya berkaca-kaca.  

Lalu kami sama-sama diam menatap  gerimis yang kian jarang-jarang.
Mungkin kakek mengenang segala hal tentang nenek buyut. Seperti aku mengenangnya.

Nenek Buyutku adalah orang yang tak akan makan dan minum jika aku tak ada di rumah saat hujan. Ia akan duduk di depan pintu dan menunggu hingga aku pulang. Aku pernah, terjebak hujan deras ketika pulang dari TPA. Menangis sendiri di tepi sungai yang meluap. Mencari cara agar sampai ke tepian. Hujan mengaburkan air mata kanak-kanakku.

Hingga di pertengahan jalan becek berlumpur, ibu berdiri di bawah hujan. Nenek Buyut yang memintanya menyusulku. Sampai di rumah, nenek buyut telah menyiapkan perapian, teh hangat dan kata-kata kekhawatirannya. Rasanya baru kemarin. Padahal itu terjadi 20 tahun yang lalu. 

Tapi, kenanganku tentang nenek buyut itu dibuyarkan oleh penjual cilok yang lewat. Aku membeli, dan percakapanku dengan kakek tentang hujan benar-benar berhenti. Kakek masuk ke dalam rumah, dan aku menikmati cilok pedas.

Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba ada pelangi. Aku memanggil kakek yang di dalam rumah. Lelaki berambut abu-abu itu bergegas kehalaman. 

“Kalau kamu bisa menemukan ujung pelangi, kamu bisa menemukan bidadari yang membawamu ke langit,” kata kakek. Aku tahu dia bercanda.  Dan kami tertawa-tawa.

“Kakek mau foto dengan pelangi?” tanyaku. Aku mengambil beberapa jepretan dan menunjukkan pada kakek.


Cantigi, begitulah sepenggal ceritaku tentang hujan. Terima kasih sudah menyelenggaran GA bertema hujan.
Salam
Shabrina Ws :)






4 komentar:

  1. Kisahnya indah Mbak, jadi mengingatkanku pada almarhum kakek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Ayunin sudah mampir :)

      Hapus
  2. Duh, mbak Shabrina. Membaca cerita di atas tak terasa membuat hati hangat. Tanpa sadar, ada yang meleleh dimata. Cerita yang indah mbak, terima kasih sudah menuliskannya.

    BalasHapus
  3. puisi dan kisah mbak Eni selalu membuat jantungku berdenyut kembali...pelanginya apiiik, koleksi pribadi ?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...