Selasa, 24 September 2019

One Day

Kamu pernah nonton film 'One Day'?"
Hujan masih turun ketika saya menerima pertanyaan itu. Artinya itu terjadi semusim lalu.
"Film apa?"
"Thailand."
"Enggak. Maksudku belum nonton."
"Semalem aku nonton itu di Hooq."
"Bagus?"
"Lumayan. Filmnya 2 jam lebih. Endingnya jadi pengen banting hp."
"🤤"
"Coba deh tonton."
"Akhirnya mbanting apa?"
"Nonjokin kasur sama gigitin bantal."
"Kau memang dramatis. Ayo ceritain!"
"Tonton aja. Kalo di ceritain nggak seru."
"Ini ngetes ajaaa, apa aku akan pengen banting hp apa nggak?"
"Intinya seorang cowok kutu komputer kerja bagian IT. Naksir sama cewek satu kantor. Ceweknya seleranya tinggi pacarnya bosnya...."
"Lalu?"
"Tonton aja."
"Kayaknya kok ngga seru. Tapi kok bikin kau pengen banting hp.Kan aku jadi penasaran."
"Endingnya itu lho...."
"Tapi kadang nggak semua hal tentang ending. Meski ya namanya nonton pasti memang menunggu ending."
"Tapi kalo aku jadi cowoknya juga pasti melakukan hal sama. Berhubung aku penonton ya nggak terima."
"Berarti bagus endingnya, dong."
"Bagus dari sisi pribadi pemeran cowok. Kalo dari sisi penonton ya..."
"Ya, karena penonton mencari hiburan kan? Bukan mau banting hp. Kebayang nggak ekspresi orang-orang yang keluar dari bioskop hahaha."
"Kalo penontonnya baper bisa bakar gedung bioskop kali."
"Kamu baper dong mau banting hp?"
"Sedikit."
Kami tertawa bersama.
"Ending baguslah kalau gitu, jadi tidak terlupakan tho?"
"Ya sih... bisa berkesan."


Jadi kemarin saya nonton film itu. Setelah kamarau mencapai puncaknya. Memang, tidak ada hubungannya antara musim dengan film sih. Maksud saya, setelah sekian lama pembicaraan tentang film itu saya akhirnya nonton.

Jadi, One Day, seperti yang dia katakan. Tentang Denchai, seorang penyendiri dan tak pernah dianggap ada oleh sekelilingnya.
Bahkan tidak ada orang yang mengingat namanya. Orang-orang mendekatinya hanya kalau membutuhkan bantuannya. Atau menyapanya karena basa basi saja.

Film itu dimulai dengan kalimat, "Aku adalah pria yang tak terlihat. Bisakah kah melihatku?"

Hingga suatu hari, Nui memanggil namanya. Memanggil namanya dengan lengkap, dan saat itu Denchai merasa hidup.
Itu menjadi awal dia mencari tahu semua hal tentang Nui.

Denchai tahu Nui kesulitan menemukan tempat parkir. Jadi lelaki itu berangkat pagi-pagi mencari tempat parkir dan saat mobil Nui datang dia akan pergi sehingga Nui dengan mudah parkir di sana.

Denchai membereskan meja Nui yang berantakan setiap hari setelah jam kerja. Sehingga keesokan harinya Nui datang dan mejanya dalam keadaan bersih dan rapi.

Denchai tahu Nui menyukai lagu-lagu lama dan diam-diam dia mengisi list lagu di komputer Nui.

Denchai tahu segalanya tentang Nui. Makanan kesukaan, impian, bahkan rahasia yang menyedihkan, hingga hal remeh temeh, seperti koleksi boneka mini yang seri terakhinya ia temukan.

Jadi film dua jam ini bicara tentang apa? Seperti yang Denchai bilang "Saat kau benar-benar jatuh cinta, kau tak perlu alasan apapun." Bahkan alasan untuk mengambil keputusan yang bagi sebagian orang ingin membanting hp, menendang tembok atau membakar bioskop. Hahaha.


4 komentar:

  1. Aku nonton ini udah dari kapan tahun. Kalau bicara ending film Thailand, aku udah kebal banget hahaha. One day, belum nambah hari lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloo iya yaa. Dan meski udah dibocorin endingnya tetep aja seru 😄

      Hapus
  2. Mantul banget tulisannya kak. Kereeen!

    Kalo sempat bisa krisan punya saya ya kak. (Cerpen) Biduan by Alister N

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...