Sabtu, 23 Juli 2016

Lelaki di Bawah Pohon Turi [Minggu Pagi 17 Juli 2016]



Lelaki itu bersandar  di bawah pohon turi. Di sampingnya, kendi berisi air putih, sepotong singkong bakar di atas daun talas layu, dan cangkul bergagang kokoh tergeletak tak jauh darinya. Tulang-tulang dadanya menonjol. Keringat bercucuran,. Rambutnya lepek. Berkali-kali ia menarik nafas berat sambil memandangi hamparan tanaman cabe di hadapannya.
            “Panennya si Darmin langsung dibelikan motor baru.”
            “Tukijo beli mobil bekasnya pak Lurah.”
            “Katiran sudah mulai beli pasir, mau mbangun rumah.”
            Masih jelas suara-suara itu. Di ladang, di perempatan jalan, di tempat-tempat mencuci untuk umum, juga di  truk-truk pengangkut orang-orang yang hendak ke pasar.
Berita panas itu dengan cepat menyebar ke seluruh kampung. Membuat orang-orang tersulut tekadnya. Inilah saatnya petani harus mengubah nasib. Dari wong cilik, menjadi wong nduwe.
            Dan berbondong-bondonglah para petani mulai membersihkan ladang mereka. Tidak ada lagi rasa sayang untuk menghabisi singkong yang perkilonya hanya seharga logam bergambar bunga melati. Membabat jagung-jagung yang membuat jempol bengkak saat memipilnya untuk dijual. Bahkan, harga kedelai yang katanya menjanjikan tak cukup membuat air liur mereka menetes.
            Ayam-ayam, kambing-kambing dan sapi-sapi  di keluarkan dari kandang, dibawa ke pasar untuk dijadikan uang. Emas-emas yang tersimpan rapi dalam kantong di bawah tikar tempat tidur juga ikut melayang.  Semuanya menjadi  wujud yang sama. Benih cabe, poliback, plastik-plastik penutup, mulsa, aneka pupuk dan obat semprot serta ratusan batang lanjaran dari kayu.
            “Harga terus naik!”
Tak ada yang lebih menarik dibicarakan selain cabe! Petani mana yang tidak ngiler  setiap kali mendengar harga cabe semakin melambung? Dari yang biasanya tiga ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, sampai lima puluh ribu. Bahkan, sembilan puluh ribu.
“Edan!”
Pun bagi lelaki itu, lelaki yang kini bersandar di batang pohon turi. Kalau saja…
            “Jangan dijual kambingnya, Pak. Kita kan sudah sepakat, itu satu-satunya persiapan untuk khitan  Jalu, empat bulan lagi.” Begitu ucapan istrinya, pada suatu malam saat dia mengutarakan niatnya.
            “Jangan jadi kuno, Bu. Yang lain berani maju, masa kita tidak?”
            “Tapi Jalu sudah ngotot minta sunat liburan sekolah nanti?”
            “Empat bulan waktu yang cukup untuk umur cabe, Bu.”
            Lalu, benar-benarlah lepas satu-satunya kambing di kandang mereka. Kambing yang dibeli dari uang hasil buruh tanam padi. Satu juta seratus, masih kurang sembilan ratus ribu lagi untuk modal awal menanam cabe-cabe yang menggiurkan itu.
            “Aku tidak setuju  kita hutang segitu banyak, Pak. Uang dari mana untuk mengembalikan?”
            “Orang takut itu ndak akan bisa maju, Bu. Setuju atau tidak, aku akan tetap mencari tambahan untuk modal.”
            Begitulah, dengan tekat yang kuat dan perasaan membuncah ia merasa telah bisa mengalahkan ketakutannya untuk maju. Sekarang, atau tidak untuk selamanya. Batinnya.  Entah mendapatkan kata-kata dari mana.
            Lalu esoknya ia bangun bersama suara ayam jantan. Dengan cepat kaki telanjangnya menyusuri jalan setapak menuju ladang. Menjebol singkong-singkong, mencabut beberapa tanaman jahe, mencangkul bongkahan-bongkahan tanah, menggemburkan dan membuatnya menjadi rata.
            Pagi-pagi berikutnya –seperti petani lain di kampungnya—ia  merawat tanaman cabenya dengan penuh kasih sayang. Mengawasi perkembangannya: ngocor, nyemprot obat, memberi pupuk sesuai usia, juga menaruh lanjaran-lanjaran penyokong cabe agar tidak ambruk.
            Lelaki itu, yang kini mengipasi badannya dengan caping yang sudah tidak berbingkai, kembali mengembuskan napas berat. Dia pandangi hamparan pohon cabe di hadapannya. Apa yang salah? Bukankah hidup harus berusaha? batinnya.
            Lahir dan besar di kampung itu, lalu menjadi petani,  baginya bukan  pilihan. Tapi seperti sebuah keharusan yang harus dijalani. Tak ada yang diwariskan oleh kedua orangtuanya selain keterampilan mencangkul dan menanam. Seperti kebanyakan orang-orang di kampungnya.
            Dulu, dia dan orang-orang di kampungnya, pernah menjuakkan harapan, saat musim-musim kaos dibagi gratis dan bendera warna-warni dikibarkan di tiang-tiang. Saat beberapa orang bicara dari atas panggung, menjanjikan akan didirikannya pasar induk di kecamatan yang kelak bisa menampung apa saja hasil bumi. Pasar yang menjadi tempat pesta para petani, sehingga tak ada lagi permainan harga oleh tengkulak dari kota.
            Namun hingga kini, bertahun-tahun kemudian, kabar itu hanya seperti ikan asin yang aromanya menyengat  saat dibakar, lalu akan menghilang begitu saja setelah dingin.
            Bulan belum berputar penuh, tapi harga cabe semakin jatuh. Para petani mulai gaduh, gundah, gemetar, sambil sebisanya terus menghibur diri. Terus memupuk keyakinan, bahwa seturun-turunnya harga, tak akan sampai merugikan mereka.
foto ambil dari klipingsastra.com

            Lelaki itu, yang masih bersandar di pohon turi, mengusap wajahnya.
“Kalau sudah begini, lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?”  susah payah ia menelan ludah. Pertanyaan istrinya semalam seperti duri dadap yang menancap di gendang telinganya.
“Ingat! Jangan sekali-kali kau berniat bunuh diri seperti Parji!” bisik istrinya.
 Ya, Parji adalah puncak kenyataan paling menakutkan dari cabe. Dia salah satu orang yang paling percaya bahwa cabe bisa mengubah nasibnya. Parji berani  hutang dua ekor sapi, dan menyewa berpetak-petak ladang sebagai modal.
“Tinggal mengalikan saja tho hasilnya, dan keuntungan sudah bisa dihitung.” Begitu kata Parji. Hingga diapun memberanikan diri untuk mencoba. Melepas seekor kambingnya dan mencari tambahan dengan berhutang.
Namun, sebulan kemudian harga cabe yang semula 40 ribu, sudah merosot ke 30 ribu, 24 ribu, 19 ribu, 15 ribu. Dan minggu lalu, saat cabe-cabe masih sangat hijau, harga semakin jatuh ke tujuh ribu, kemudian tiga ribu.
Lelaki itu ingat. Bagaimana Parji menjerit seperti orang kesetanan. Berlari ke ladang. Membabat cabe-cabenya. Kemudian  penduduk menemukannya gantung diri di pohon randu. Nyawanya sudah tak bisa diselamatkan. Sementara  istri Parji yang semula berkali-kali pingsan, kini hanya tertawa-tawa  sambil menyebut hutang-hutang suaminya.
“Kalau saja….” Lelaki itu berkata.
Ya, kalau saja dulu ia menuruti kata-kata istrinya. Tak perlu menjual kambing yang hanya satu-satunya harta simpanan mereka. Tak perlu berhutang yang semakin menambah beban. Dan tak perlu membabat semua tanaman ladang yang masih bisa untuk dimakan.
 Lalu dengan keadaan seperti ini, pada siapa dia dan para petani lainnya mengadukan nasib mereka? Nyatanya, wong cilik tetaplah wong cilik. Hanya seperti anak kecil yang bola matanya naik ke atas dan ke bawah ketika melihat orang dewasa bermain yoyo.
“Aku jadi sunat kan, Mak?” pertanyaan Jalu tadi pagi masih terngiang jelas.
“Tanya saja sama bapakmu!” jawab istrinya.
Wanita itu meliriknya tajam. Tak harus dikasih tahu. Dia mengerti makna lirikan itu.
            Lagi, lelaki itu menganjur napas panjang. Diraihnya kendi berisi air, lalu diteguknya pelan. Siapa sesungguhnya yang menaikturunkan harga? Tanyanya dalam hati. Semilir angin membuat dia kembali menyandarkan badannya ke pohon turi.
Semalam, lelaki itu telah menghitung, mengira-ngira berapa uang yang akan didapat jika dia menjual cabenya sekarang. Masih hijau, masih terlalu murah. Namun menunggu seminggu lagi juga tak ada jaminan harga bisa naik , bahkan bisa-bisa tambah merosot. Sementara cabenya sekarang saja sudah kelihatan kurang segar.
Sehelai daun turi jatuh di kepalanya. Andai saja dia tidak pernah mendengar bahwa ada kehidupan setelah mati. Andai saja dia tidak pernah mendengar bahwa semua yang dilakukan di dunia dimintai pertanggungjawaban. Andai saja tidak ada Sayekti, wanita yang telah lima belas tahun menemani hidupnya. Andai saja tak ada Jalu, anak semata wayang yang dititipkan Tuhan di tahun ke sembilan pernikahan mereka. Mungkin, lelaki itu tak perlu berpikir dua kali untuk mengikuti langkah Parji.[]

Rabu, 22 Juni 2016

Kumpulan Fabel, Sedang Proses



Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman email tentang perkembangan calon buku --kumpulan cerita anak yang bagi saya spesial. Insya Allah, ini akan menjadi buku bergambar pertama saya. 
Karena lima novel anak yang  sudah terbit lebih dulu memang tidak ada ilustrasinya.

salah satu ilustrasinya :)

Buku ini adalah kumpulan cerita tentang hewan, berisi 14 judul, dengan tokohnya macam-macam. 
Mulai dari Orang utan, Gajah, Bekantan, Komodo,  Katak, Tikus, Kelinci dan lain-lain. Oh ya, tentu saja Kucing ;)


Naskah ini bisa dibilang adalah draft tabungan dalam waktu lama.

Jadi, ceritanya, ketika awal tahun lalu ada penerbit yang sedang mencari naskah kumpulan cerita dan boleh fabel, saya langsung mengumpulkan file-file di folder dan mengajukan naskah itu.

Alhamdulillah, senang sekali  ketika menerima email acc.  


Saat ini ilustrasi sudah selesai, cover sudah, lay out juga sudah dan insya Allah sedang antri naik cetak.

Oh iya, buku ini nanti selain dilengkapi dengan beberapa fakta unik tentang binatang, juga ada bonus animal paper toysnya.  


Mohon doanya ya. Semoga prosesnya lancar dan kelak disukai pembaca dan mengalirkan kebaikan. :)

Selasa, 17 Mei 2016

#Pizza, Love, and Other Stuff That Made Me Famous.


Salah satu kalimat yang membekas dari novel ini adalah, tentang pentingnya menghormati bahan yang akan kita masak. Kata-kata itu, melemparku ke ladang sayur bapak. Aroma pupuk kandang, air dari bebatuan, langu kapri, manis bunga jagung, segar timun.

Dan, ketika sampai pada kutipan, "Makanan adalah tentang berbagi sesuatu, tentang berkumpul di meja dengan keluarga dan sahabatmu," semua sayuran itu menyeret pada aroma makan malam kami di meja kayu depan tungku.

Novel yang ringan, segar dan mengharukan. Tentang memasak, kompetisi memasak, yang tak hanya di dapur, tapi juga di pasar dan di kebun.

Tentang keluarga, persahabatan dan persaingan yang manis.

#Pizza, Love, and Other Stuff That Made Me Famous.
#KathrynWilliams
#Ten@Noura

Minggu, 15 Mei 2016

A Man Called Ove (Fredrik Backman)

Jadi begini, karena sukaaa banget sama novel ini, saya beli dua. Yang satu untuk saya pribadi, penuh coretan dan lipatan. Yang satu buat dipinjemkan. Boleh dicoret atau dikasih cattaan pinggir dan semacamnyalah sama peminjam :)



Cinta adalah sesuatu yang ganjil  (hal 427)
Ketika penerbit  Noura posting cover novel ini di Facebook, saya berkata dalam hati, harus baca!
Ketika blurb di sampul belakang menyusul beberapa waktu kemudian, saya kepincut, harus segera beli.
Dan, ketika waktu membawa saya ke toko buku, novel ini yang pertama kali masuk tas belanja. 

A Man Called Ove!
Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini, mungkin bukan tipemu.
Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun.

Seumur hidup yang dipercaya hanya Sonja yang cantik, yang mencinta buku-buku dan menyukai kejujuran Ove.
Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam putih, sedangkan Sonja penuh warna.
Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab dan tentu saja Sonja.
Mencintai seseorang bisa disamakan dengan pindah ke sebuah rumah –hal 399.

Butuh empat Kamis bagi  saya untuk menyelesaikan novel setebal  440 halaman ini (Kamis--karena saya berusaha mematuhi jadwal baca saja, novel di hari Kamis) hehehe.

Dibuka dengan adegan Ove lima puluh sembilan tahun yang berada di toko kumputer, kisah selanjutnya bergulir maju mundur, ke masa lalu dan masa kini Ove. Yang membuat  tertawa,  jengkel, menangis dan bersimpati. Yah, beberapa orang bahkan menganggap Ove tak punya hati.

Ketika orang tidak saling berbagi, kemungkinan besar kepedihan malah akan menjauhkan mereka.

Dari segi alur, memang agak lamban. Tapi novel ini punya benang merah yang terus mengikat kisah demi kisah serta menggiring pembaca untuk sampai ke ending.  Fredrik  menghadirkan penokohan  yang  begitu kuat. Ove begitu hidup, mempesona dan sempurna dengan segala ketidak sempurnaannya.

Ove sangat tahu, bahwa sebagian orang hanya menganggapnya tua Bangka pemarah yang tidak mempercayai orang. Namun, sejujurnya itu karena orang-orang tidak pernah memberi  alasan untuk memandang mereka dengan cara lain.

Sebab, Ove percaya, akan tiba saatnya dalam kehidupan seorang lelaki, ketika mereka memutuskan hendak menjadi jenis lelaki macam apa: Jenis yang membiarkan orang lain menguasaimu, atau tidak.
Ove selalu mengingat perbedaan antara menjadi jahat karena terpaksa atau karena bisa melakukannya.
Ove sering mendengar Sonja berkata, bahwa setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Sonja memperjuangkan apa yang baik. Demi sesuatu yang tidak dia miliki. Dan Ove berjuang untuk Sonja.
Namun kata Sonja: Ada masa untuk segalanya.

Menurut Ove, sesuatu di dalam diri seseorang akan hancur berkeping-keping jika dia harus menguburkan satu-satunya orang yang selalu memahaminya. Tidak ada waktu untuk menyembuhkan luka semacam itu.

Dan, sepanjang waktu Ove, setelah Sonja pergi adalah menyiapkan rencana-rencana  untuk menyusul Sonja.

Dan begitulah,  akhirnya, novel ini, menjadi  buku ke sekian yang penuh lipatan, coretan dan kertas tempelan.

Secara keseluruhan saya sangat menyukai novel ini. Semua hal-hal ganjil perihal Ove akan membawa renungan dan terjawab di bagian-bagian berikutnya. Dan lebih dari itu, Fradrik tidak hanya menulis perihal lelaki tua, tapi menyuguhkan kalimat-kalimat yang dalam.

Bab-bab akhir novel ini justru semakin dalam, penuh renungan dan filmis. Bermenit-menit setelah menutup novel ini, saya termangu, lama.

Yah, sulit bagi seseorang untuk mengakui kekeliruannya sendiri. Terutama ketika orang itu telah keliru untuk waktu yang sangat lama.

Tapi kehidupan, kematian, kedukaan,  cinta dan bahkan waktu adalah sesuatu yang ganjil. Sebagian besar manusia hidup untuk waktu yang membentang tepat di depan kita. Hari, minggu, tahun. Salah satu moment paling menyakitkan dalam hidup seseorang mungkin muncul bersama pemahaman bahwa usia telah tercapai ketika ada banyak yang harus ditengok ke belakang daripada ke depan. 

Dan ketika waktu tidak lagi membentang di depan seseorang, hal-hal lain harus dinikmati dalam hidup. Kenangan, mungkin.

Jumat, 13 Mei 2016

The CATCHER in the RYE






Saya nggak mencari info tentang buku ini sebelum beli.  Jadi, ketika pesanan datang dan membalik bagian sampul belakang, agak kaget juga karena tidak menemui synopsis. Melainkan, satu kalimat pendek; Mengapa buku ini disukai pembunuh?

Byuh. Jadi, saya menyisihkan buku itu dari daftar baca. Sebenarnya nggak benar-benar menyisihkan sih, saya baca dua halaman pertama dan menaruh di rak berbulan-bulan.

Begitulah, hingga akhirnya saya penasaran juga, dan membacanya sampai selesai. Jadi, The CATCHER in the RYE:




-Pertama terbit tahun 1951
-Salah satu dari seratus buku terbaik sepanjang masa, menurut Time.
-Pernah dilarang beredar di sekolah-sekolah, meskipun pada akhirnya ini menjadi banyak bacaan favorit guru-guru di Amerika.
-Penuh kata-kata umpatan dan semacam itulah.
-Disukai para pembunuh, katanya.
-Sudah terjual lebih dari 10 juta eksemplar.
-Penulisnya tak mau novel ini diadaptasi ke film.
-Dituturkan  dari sudut pandang orang pertama –Holden Caulfield— kita seperti mendengarkan  cerita remaja 16 tahun yang dikeluarkan dari sekolahnya, dan kebingungan saat mau pulang ke rumah. Holden membenci banyak hal. Dia menuturkan secara blak-blakan. Menurutnya banyak hal adalah palsu, dan banyak orang yang ditemuinya begitu munafik.  Holden selalu mengumpat, meskipun seringnya itu dilakukan dalam hati. Karena sewaktu bercakap dengan seseorang dia bisa membelokkan dengan manis dan membuat lawan bicaranya terkesima.
-Hampir sampai di tengah-tengah dan buku ini masih bersih. Kertas catatan saya baru bertuliskan, “Hidup adalah permainan dan semua orang harus taat aturan.”
-Ada satu tokoh bernama Jane. Dia teman lama Holden yang waktu kecil sering main dam-daman bersama. Tapi ternyata, kisahnya tak seperti yang saya harapkan.
-Nah, akhirnya sampailah pada bagian Holden bertemu Phoebe (adik kandungnya). Bagian ini, memberi banyak jawaban atas pertanyaan tentang Holden. Mengharukan sekaligus, manis. Sungguh. Holden bahkan bilang, “Apabila seseorang paling tidak mendengarkanmu, semuanya tidak terlalu menyedihkan.”
-Ketika Holden merasa semua hal di dunia ini menyedihkan dan membuatnya  putus asa, berdiri di bawah guyuran hujan deras dan melihat Phoebe yang terpingkal-pingkal menaiki komidi putar, saat itulah Holden merasa sangat bahagia.
-Dan, inilah kalimat penutup dari cerite Holden; Begitu kalian bercerita, kalian akan mulai merasa merindukan orang lain.
-Quote dari Wilhem Stekel: Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal. Sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati untuk memperjuangkan hal itu.

Judul: The Catcher In the Rye
Penulis: J.D. Salinger.
Penerjemah: Gita Widya Laksmini
Penerbit: Banana
Cetakan ketiga Juni 2015

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...