Selasa, 26 November 2019

Foto-Foto



Kemarin, saya terjebak pada kegiatan yang monoton.
Baca, lihat jendela lalu bengong. Baca, lihat jendela lalu bengong. Baca, lihat jendela lalu bengong.
Fuuh!
Saya meniup udara, menyusuri lorong dapur, dan mendapati cangkir kopi sudah kosong tanpa ingat bagaimana rasanya.

Tidak. Belum waktunya menyeduh kopi lagi. Laptop yang menyala sejak pukul tujuh pagi itu bahkan telah mati kehabisan baterai tanpa menyimpan satu kalimat pun.

Saya menghubungkan kabel ke colokan, memastikan kedip merahnya menyala, kemudian meraih kwaci dan mulai mengupas, menyuap, mengupas, menyuap. Sampai kulit-kulitnya memenuhi tatakan cangkir, belum menemukan kalimat pembuka.

Saya menyusuri galeri foto. Melihat satu per satu. Hingga berhenti pada gambar yang mengingatkan dengan obrolan  di telepon seminggu yang lalu.

Pertanyaan saya...
Jawabannya...
Pertanyaan saya lagi...
Jawabnya lagi...

Adegan itu juga seolah menghubungkan pada sebuah foto dramatis yang saya lihat lebaran kemarin.

Kalimat pembuka, plot, ending, sudah ada di kepala. Kalau naskah ini berhasil, dia layak ditraktir kopi.

Saya bersiap mengetik, namun urung karena beberapa dokumen masuk ke kotak pesan.

Isinya foto-foto yang menakjubkan dari saudara saya yang sedang liburan bersama teman-temannya.


Tentu saja saya membalas dengan emoticon takjub semacam: 😲, dan kata-kata pendek seperti: wuaaa, kereeen, baguuss, lagiii donk!


Dan saya tersenyum lebar mendapati lebih dari selusin foto-foto. Sebagian akan saya posting, sebagian saya masukkan ke dalam buku puisi (yang sedang proses insya Allah) dan sebagian lagi disimpan.

Oke, jadi apa kabar kalimat pembuka, plot dan ending tadi? Masih ada di kepala 😉

Minggu, 24 November 2019

Bayam



Saya hendak menjemur ketika dari jendela atap menangkap matahari seperti kuning telur raksasa di balik ranting-ranting tanpa daun.

Saya tak hendak memotret. Kadang beberapa hal cukup kita simpan dalam ingatan. Saya lihat saja matahari yang mengambang tenang itu sambil menghirup udara dalam-dalam.

Karena harus ke pasar, jadi saya tidak bisa berlama-lama. Perjalan ke pasar memang ke arah timur, tetapi saya tidak  yakin penampakan matahari masih seperti itu. Dan benar saja, sinarnya sudah pecah.

Saya memarkir motor, menyapa penjual ayam, menjawab ucapan selamat pagi dari penjual beras, mengangguk pada penjual donat, dan tersenyum pada seorang ibu yang sepertinya tergesa-gesa dan kami hampir tabrakan.

Minggu selalu ramai. Antri dimana-mana. Saya menuju ke bagian ikan dan menaruh wadah. Penjualnya sudah hafal saya beli berapa, isi berapa dan dibersihkan bagaimana.

Lalu saya menuju deretan sayuran.
"Pira bayeme iki?" Seorang ibu menanyakan harga bayam.

"Sewu mangatus," seribu lima ratus, jawab bapak  penjual.

"Sewu ya?"

"Sewu mangatus."

"Halah mik bayem ae sewu ora oleh." Hanya bayam saja kenapa seribu ngga boleh, kata ibu itu.

"Panase kaya ngene angel banyu," kata penjual ini musim kemarau dan sulit air.

"Cantik-cantik, Bu, bayamnya," saya menyahut dengan bahasa Jawa, sambil menyisihkan dua ikat.

"Halah, masio ayu rasane ya ming bayem. Moh, ra mangan bayem. Bayem ae sewu kok ora oleh."

"Lha, ya nek rasane duren ya takdol seket ewu." Penjual itu terkekeh, sambil mengatakan, kalau bayamnya rasa durian akan dia jual lima puluh ribu.

Saya ikut tertawa, ibu itu berlalu begitu saja. Sementara saya kembali ke bagian ikan setelah membayar  bayam.

Antrian masih panjang, jadi saya duduk berjuntai kaki di tepi sungai, tepat di belakang penjual ikan sambil mengetik tulisan ini.[]

Kamis, 21 November 2019

Pelajaran dari Kerapu Karang


Pagi itu, Kepiting Sawah minta sesuatu kepada Kerapu Karang. Tanpa salam, tanpa permisi, tanpa kata permintaan tolong.

"Kau bisa melakukan sendiri," jawab Kerapu Karang.

"Nggak bisa." Kepiting Sawah pernah mencoba dan gagal. Lagi pula dulu Kerapu Karang pernah mengajarinya. Tapi dia merasa begitu ribet, tidak telaten.

"Bisa," kata Kerapu Karang sambil menjelaskan caranya.

Kepiting Sawah meniup udara sambil berlalu. "Huh dimintai tolong gitu aja ngga mau," omelnya dalam hati.

Tapi akhirnya dia mencermati yang diajarkan sepupunya itu. Dia melakukan tahap-tahapnya. Dan...

"Bisa! Bisa!"Kepiting Sawah histeris. Dia memang norak sekali. Jadi Kerapu Karang hanya menanggapi dengan emoticon.

"Hei aku bisa lagi," kata Kepiting Sawah.
"Aku bisa ini juga," teriak Kepiting Sawah lagi.

Sambil mengamati pekerjaannya yang berhasil, Kepiting Sawah merunut kembali. Sering dia merecoki saudaranya itu. Minta dibuatkan ini atau itu.

Kadang tanpa bicara Kerapu Karang langsung melakukannya. Tetapi untuk hal-hal yang sekiranya Kepiting Sawah bisa mengerjakan sendiri, biasanya Kerapu Karang akan menunjukkan caranya.

Kepiting Sawah tahu, bisa saja Kerapu Karang langsung memberi yang dimintanya. Tetapi dia hanya akan mendapatkan yang diinginkan, lagi pula dia tidak akan berproses, tidak akan belajar.
 
Dan ketika Kerapu Karang memberitahu caranya, Kepiting Sawah justru mendapatkan banyak hal. Pelajaran itu akan terus berguna jika sewaktu-waktu Kepiting Sawah memerlukannya.

"Allah, terima kasih telah memberiku saudara seperti dia," ucapnya lirih.[]


Kamis, 14 November 2019

TAE GUK GI


Saya ingin menonton film tentang saudara, dan niatnya setelah beres kerjaan ingin nonton ulang Hear Me. Tetapi, satu pesan masuk ke WA.

"Tae Guk Gi. Film kakak adik. Pecahnya Korea menjadi selatan dan utara. Barusan yang ketiga kalinya nonton."

"Wooo tiga kali?"

"Tapi agak sadis."

Terlambat, pesan terakhir saya terima saat sudah nonton dan adegan sampai pada situsasi perang. "Ini bukan agak lagi, tapi ya beneran serem," kata saya dalam hati tanpa membalas pesannya. Saya bahkan nutup mata dan hanya berusaha baca dialog mereka.

Saya suka pembuka film ini. Lee Jin Seok, seorang lelaki tua, menerima telepon dari pengadilan perang Korea atas penemuan tulang belulang yang diduga dirinya.

"Tapi aku masih hidup...," sahutnya gemetar. "Apakah mungkin dia Jin Tae?" Jin Seok menyebut nama kakaknya dengan suara gemetar. Tetapi penelepon segera minta maaf karena mungkin salah orang.

Jin Seok menuju kamar, membuka sebuah bungkusan yang disimpan dalam lemari. Ia mengelus sepasang sepatu. Sepatu impiannya dulu. Yang dibuat oleh kakaknya 50 tahun lalu. Lima puluh tahun ia menyimpan dan menunggu pertemuan dengan kakaknya yang terpisah di tengah kecamuk perang.


Sepatu itu membawa alur mundur pada masa saat mereka remaja. Ketika kakaknya, Jin Tae, bekerja menjadi tukang semir untuk membiayai sekolah Jin Seok.

Ketika Jin Seok mengerjai kakaknya dengan menirukan suara "semir sepatu, semir sepatu," kemudian disambung adegan keduanya tertawa lepas dan kejar-kejaran di jalanan Korea.

Ketika Jin Seok menerima pulpen impian dari kakaknya.


Ketika lari mereka mendadak berhenti karena sepatu bagus di sebuah etalase. Kakaknya janji membuatkan sepatu seperti itu.

Ketika kakaknya membeli satu es krim untuk Jin Seok, karena uang tidak cukup dan pura-pura takut giginya rusak. Tetapi Jin Seok memaksa kakaknya menggigit lebih dulu. 




Adegan-adegan itu begitu natural dan menyentuh. Mengingatkan saya pada dua saudara yang keakraban mereka membuat saya iri.

Mengingatkan saya kapan terakhir kali kejar-kejaran dengan adik saya. Kekonyolan masa remaja dengan sahabat saya.

Baiklah, ini film perang. Dan adegan perangnya memang... ya, bagi saya mengerikan. Tetapi kisah persaudaraan Jin Seok dan Jin Tae benar-benar membuat lupa keseraman denting senjata itu.[]

Minggu, 03 November 2019

Kopi Mahira: Hadiah dari Fans Pengelana


Suatu hari saya menerima paket dari Indonesia Timur.
Saya segera menulis pesan perihal paket itu.

"Hanya hadiah kecil dari penggemar Pengelana," balasnya.

OMG.

Paket itu berisi satu tas kopi Robusta Lombok dengan tiga varian. Robusta, Robusta Cinnamon, dan Robusta Jahe. Semua dengan tingkat roasting medium.

Saya mengamati kemasannya sebelum membuka. Ada klipnya setelah lem. Jadi kalau misalnya nggak ada wadah untuk menuang pun bisa langsung ditutup lagi.

Gilingannya lembut, menyisakan ampas halus. Penggemar masker kopi cocok banget ini.

Saat diseduh, aromanya mengingatkan pada dapur nenek ketika menggarang kopi. Rasanya... ya rasanya seperti kopi tentu saja, oh iya tidak terlalu asam, enak, saya menambahkan krimer saat minum.



Jumat, 01 November 2019

November


Di jambangan yang terjumbai
rumpun krisantemum membilang bulir gerimis

Angin mengepak, mengirim awan membagi-bagikan hujan

Dan November?
Kelopak November tidak perlu mantel
Tak ada yang yang ia sembunyikan dari hujan

Mungkin,
Mungkin ada kecemasan yang keliru

Tetapi musim telah mengajarinya
Musim telah mengajarinya melipat kecemasan
Musim telah mengajarinya melipat kecemasan dalam doa-doa.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...