Rabu, 14 November 2018

Puisi-Puisi Di Media Indonesia [1]



Di Kota Baru Baucau
:Faustino
kau punya hujah sendiri untuk berdiri di gerbang itu
memberi hormat  ketika merah putih berkibar
kau selalu memiliki helah untuk  lewati  jalan itu
mendengarkan suaranya memantul dari bahu-bahu jalan

lalu kau resapi tembang Jembatan Merah
yang membuat matamu basah
tanyamu: apakah kita sama-sama punya hati yang tinggal sebelah?
dia wanita Jawa, diamnya adalah kesepakatannya
dan sepotong hatimu utuh kembali

tapi waktu tak abadi
sejarah bicara dari dua kepala
di kota Baucau, kalian berjalan ke arah yang berbeda
menahan kesakitan, membekap separuh hati yang memar




Di Kota Lama
:Faustino
ini perihal lelaki yang memesan dua cangkir kopi
katamu; untuk yang bernama kenangan
kita bersisian, menyusuri  jalanan melingkar di perbukitan Baucau
di kota tua, tak ada ingatan yang  merapuh bersama waktu
surat-surat kecil di keramaian mercado municipal
gadis Portugis  yang berjalan dengan keranjang belanja
bagaimana diam-diam kau masukkan lipatan amplop
ke dalam keranjangnya

kalian bertukar mimpi, berbagi harapan
namun semua lebur ketika revolusi bunga mekar
kekasihmu pergi,
membawa separuh hatimu yang tak pernah kembali


*Puisi pernah dimuat di Media Indonesia
*Nama Faustino bisa ditemukan di cerpen Lelaki yang Memesan Dua Porsi yang dimuat di Detik.com

Senin, 12 November 2018

Belajar dari Austin Kleon



Saya mengenal Austin lewat buku keduanya Show Your Work. Buku yang akhirnya penuh coretan dan lipatan (saya memang gitu kalau suka sama buku. 😄)

Banyak pesan Austin di buku itu yang saat tertentu saya baca ulang misalnya:

*Fokuslah pada proses harian.

*Mewujudkan karya yang kuat memakan waktu yang lama.

*Jangan berkilah kekurangan waktu. Kita semua sibuk dan sama-sama punya 24 jam. Kita bisa menemukan waktu di tempat recehan terselip.

*Tancap gas adalah cara untuk terus maju. Tetapi di satu titik kita perlu menyeimbangkan hidup. Tidak salah berhenti, atau pergi. Saat siap untuk kembali, kau bukan merintis lagi, sebab karya lama tidak pernah hilang.

Dan masih banyak point-point penting yang disampaikan Austin. Hingga akhirnya membuat saya berburu  buku pertamanya Steal Like An Artist.

Agak susah juga, saya sampai pesan ke beberapa teman yang pergi ke pameran-pameran buku.

Steal Like An Artist tidak hanya ditujukan untuk mereka yang ingin menulis, namun juga cocok untuk mereka yang ingin menyuntikkan kreatifitas.

Kata Austin, "Bersekolah atau tidak, belajar selalu menjadi tugasmu."

Austin juga bilang, "Pelajari letak kegagalanmu. Apa yang membuatmu beda itulah yang harus kamu asah untuk jadi karya sendiri."

Nah, kalau buku ketiga bersampul merah saya beli setelah tiga kali ke toko buku. Saya mempertimbangkan penting dan tidaknya membeli buku jurnal itu.

Di sana Austin mendesain bukunya bagaimana cara mengintai kesempatan dan mengumpulkan ide-ide.

Misalnya, tulis 10 hal yang tergeletak di dekatmu namun tidak digunakan siapa-siapa.

Dalam seminggu duduk/berdirilah di tempat sama dan tulislah apa yang kau temukan.

Buku ini juga dilengkapi kantong arsip di sampul belakang.

#Kesatrian1118

Sabtu, 10 November 2018

Dua Pesan Penting Stephen King


Saya membuat jadwal membaca meski kadang-kadang saya langgar (😄)
Misalnya, Senin adalah jadwal membaca hal-hal yang berkaitan dengan menulis.

Dan pagi tadi, saya kembali membawa On Writing-nya Stephen King ke tepi jendela.

Saya bersyukur Allah mempertemukan dengan buku itu. Sekarang sudah susah nyarinya. Semoga penerbitnya mau cetak ulang lagi.

Beberapa Pesan Stephen King di awal buku ini:

Tidak ada gagasan sampah, ide-ide cerita yang baik bisa datang dari mana saja.
Dua gagasan yang sebelumnya tidak ada sangkut pautnya pun, bisa menyatu dan menciptakan sesuatu yang baru.

Tugas kita, kata Stephen King, "Bukan menemukan gagasan-gagasan itu. Melainkan mengenalinya saat mereka muncul."

Pesan Stephen lainnya yang sangat saya suka adalah, "Jika kau menulis cerita, kau sendiri yang bercerita. Jika kau menulis ulang, tugas utamamu adalah menyingkirkan hal-hal yang bukan termasuk cerita."

Menulis hal-hal dari masa lalu atau pengalaman pribadi bukan hal buruk. Tulis saja semua yang membanjiri ingatan.
Tapi, beri jarak setelah selesai. Endapkan. Hingga ia seolah-olah menjadi barang asing. Saat membaca dan kemudian mengedit atau menulis ulang, ada hal-hal yang sebaiknya kita buang. Ada bagian yang sebaiknya tidak kita paksakan.

Rumusnya: Draf pertama - 10% = draf ke-2.

Jika sayang dengan bagian-bagian itu, simpan saja, dan buatkan cerita lain. Ia akan jadi karya yang berbeda.

Saya menerapkan ini saat menulis Always Be in Your Heart, saya menemukan hal-hal tentang distrik Baucau, Kota Baru, Kota lama. Tapi tidak mungkin saya jejalkan bersama Ermera.
Bertahun kemudian jadilah Baucau dkk sehimpun puisi yang dimuat Media indonesia.


Omong-omong masih banyak pesan-pesan penting Stephen di buku On Writing. Jangan ragu untuk ambil kalau nemu. Karena memang sudah agak langka.





#Kesatrian1118

Jumat, 09 November 2018

Angka-Angka yang Berubah


Suatu pagi, saya menemukan angka cantik di instagram saya. Karena merasa unik, buru-buru saya simpan. Kemudian saya unggah ke media sosial.
Setelah pasang status perihal angka cantik di instagram pagi itu, ada follower baru di notif saya.

Saya mengecek ke akunnya dan bilang, 
"Mau konfirm tapi nanti angkanya jadi berubah."
Dan beliau membalas,
"Shabrina, tiap saat angka-angka pasti berubah, itu menandakan bahwa kehidupan sedang berjalan."

Saya percaya itu jawaban spontan, tetapi seketika saya tertegun. Benar juga sih. Bahkan detik pun berubah kan?

Saya merenungkan kalimat itu sambil memandang sirih pinang di tepi jendela. Untuk menjulur panjang, daun-daun menua, tunas baru muncul.
Bukankah itu penanda sirih pinang tumbuh? Tidak seperti dua tangkai tulip imitasi yang sejak bertahun-tahun saya beli daun dan bunganya tak pernah berganti. 







Angka-angka berubah. Waktu berjalan. Dan kita, kita memilih ikut berjalan atau diam dan begini-begini saja?

#Kesatrian1118

Kamis, 08 November 2018

#SUNGKAWA [Cerpen Terbaik IV Bulan Bahasa UGM]




Sembilan puluh tujuh hari setelah kepergian istrinya, Jokarmo mengatakan ingin menikah lagi. Kalimat itu, meluncur dari bibirnya, dan dengan begitu cepat menyebar ke seluruh kampung.

Di jalan-jalan, di tempat belanja, di pematang sawah, bahkan di penggilingan padi, hingga di pasar, orang-orang membicarakan lelaki itu. Tidak betahkah ia hidup sendiri, sehingga secepat itu mencari pengganti istrinya yang pergi? Atau memang begitu cepat cinta lelaki itu luntur?

Jokarmo lebih enam puluh tahun kini, tanpa tedeng aling-aling, mengatakan kepada beberapa orang, minta  dikenalkan pada wanita yang mau dinikahinya.

Orang-orang kampung, tentu saja seperti disuguhi camilan empuk. Jokarmo yang selama ini dikenal pendiam, tiba-tiba dengan begitu gamblang, mengatakan keinginan yang bagi sebagian orang sebaiknya disembunyikan dulu.

            Maka, mulailah tawaran  datang kepada lelaki yang rambutnya memutih itu.

            “Usianya empat puluh lima tahun.” Begitulah, Samuji, salah satu tetangga yang dia percayai sebagai mak comblang mendatanginya.

“Anaknya satu, sudah menikah dan tinggal di kota.”           

Jokarmo belum menanggapi.

“Menjanda sejak lima belas tahun lalu, ditinggal nikah lagi sama suaminya.”

Jokarmo masih diam.

“Ini fotonya.” Samuji membuka ponsel, dan menunjukkan seorang wanita berbaju kuning yang sedang tersenyum.

Jokarmo menatap layar ponsel.

Sabtu, 08 September 2018

ESPERANSA 5 [Pemenang 2 Novelet Femina]



Emilia
Sekujur tubuhku rasanya membeku. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa setelah 29 tahun menghirup udara bumi, aku baru tahu asal-usulku. Aku pernah bertemu anak yang tinggal dengan orang tua tiri. Muridku, bahkan ada yang tidak diharapkan kehadirannya. Aku juga pernah menggendong bayi tetanggaku yang lahir ke dunia karena kecelakaan dua orang yang menerobos rambu-rambu Tuhan.
Tetapi, tentu saja aku sama sekali tak pernah membayangkan menjadi salah satunya. Berjam-jam  aku tak bisa mengenali perasaanku. Kucoba mencari dijalinan mana diriku berada. Siapa yang pantas kusalahkan? Papa, wanita yang merawatku,  wanita yang menjadi perantara aku melihat dunia ataukah takdir itu sendiri?
Dalam diam aku terus membolak balik kenyataan yang kutemui.
Carolin membawakan teh manis hangat, sementara Abilio datang dengan terheran-heran.
“Kita beri waktu Emili untuk sendiri,” kata mama pada Abilio.
Menjelang malam, Antoni datang. Aku bisa mendengar dia mendapat cerita mama di beranda sebelum masuk dan menemuiku.
“Emili?” Lelaki itu menepuk bahuku. Aku menatapnya. Melempar senyum getir. Mataku memanas. Enam belas tahun lalu, aku patah hati ketika dia pergi. Antoni kakak lelaki idaman yang selalu ada untuk adik-adiknya. Kalau bisa memaksa, aku ingin dia tinggal bersamaku. Tapi, Antoni memilih bersama mama. Tentu saja baru saat ini aku tahu alasan pilihannya.
Malamnya, mama menggelar tikar di ruang tamu untuk tidur beramai-ramai.
“Matamu juga punya hak. Lagipula punggungmu bisa kram kalau duduk terus begitu,” kata Abilio sebelum pergi tidur.
Antoni mengusap kepalaku, “Istirahatlah. Biar besok pikiran lebih jernih.”
Lalu, Carolin membawakan selimut. “Kalau perlu ke belakang bangunkan aku, Kak.”
Mama mematikan lampu minyak besar, dan menggantinya dengan lampu tempel di pojok ruangan. Wanita itu mendekat, duduk di sampingku, dan membawa kepalaku ke pelukannya. Aku tidak menolak. Di ceruk hangat itulah air mataku benar-benar tumpah. Isakan lirihku serasa memenuhi ruang tamu.
“Katanya, semua orang punya ujiannya sendiri-sendiri. Kamu tak perlu memaksa pikiranmu untuk mengerti semuanya. Butuh waktu untuk menerima hal-hal mengejutkan dalam hidup kita.”
Aku tidak tahu pasti apakah sepanjang malam aku bisa tidur, atau hanya bermimpi. Barangkali semua orang di rumah ini juga sibuk dengan pikirannya masing-masing tentang aku.
Ketika sinar matahari menerobos lewat jendela. Orang-orang sudah tak ada di ruang tamu. Aku berdiri dan melongok ke luar. Abilio dan Antoni minum kopi di beranda. Di dapur, suara minyak panas dan letupan kecil menyusul aroma wangi bawang, ke sana aku melangkah.
“Hei, Kak, sebentar lagi kita sarapan ya. Kemarin kau tidak makan.”
“Kau mau teh apa kopi?” Mama menunjuk dua minuman di meja.
“Teh saja,” Aku mengambil cangkir dan menyesap pelan. Sisanya, satu cangkir yang berisi kopi diambil mama.
Carolin menceritakan bagaimana awal mereka di sini. Bagaimana mereka antri sembako tiap bulan. Tentang tiada hari tanpa ikan asin. Tentang sayuran segar yang langka. Tentang listri yang belum masuk. Tentang murid-muridnya.
Mama juga cerita perihal mesin jahit yang dibeli dari pasar Mundu Malaysia dengan uang tabungan. Lalu giliranku. Aku pun cerita tentang toko buku di Dili yang kurintis bersama Abilio.
“Dia ganteng dan baik,” Carolin mengerling. “Ya kan, Ma?” Mama menyetujui.
“Aku tidak keberatan punya kakak ipar dia.”
“Hus, kami hanya sahabat.”
“Ya, yaaa sahabat kehidupan…”
Aku merasakan kehangatan obrolan santai di dapur ini. Bertahun-tahun lalu, kami juga sering merecoki dapur saat mama memasak. Sering kali lauk-lauk yang baru dari penggorengan sudah habis sebelum waktunya makan.
“Kau biasa masak apa, Kak?”
“Aku…”
Setelah referendum, dapur bukan lagi tempat yang menyenangkan. Untuk sarapan, papa menyiapkan paun dengan teh, kopi atau susu. Makan siang  beli --papa yang beli. Untuk malam, kalau lapar biasanya papa  mengajak makan di luar. Papa sering minta maaf karena tak bisa memasak seperti mama. Dan sebagai gantinya, aku bisa memilih menu apa saja yang kuinginkan.
Bertahun-tahun ritme makan kami seperti itu. Akhir-akhir ini, aku yang sengaja masak kalau hari libur. Kami akan tertawa-tawa di meja makan, berkomentar hasil masakanku yang kemana-mana.
Tak ada yang ganjil dari hidup kami berdua. Aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang papa. Dia memanjakanku sekaligus mengajarkan hal-hal yang seharusnya aku bisa. Dia ayah sempurna. Aku mengagumi dan memujanya. Sampai kemarin, ketika semuanya terungkap. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana menyapa, kalau nanti pulang dan bertemu dengannya.
***
“Apa tidak sebaiknya tinggal di sini beberapa hari lagi?” tanya Antoni ketika aku mengatakan ingin ikut Abilio pulang.
“Aku sudah bilang begitu, bahkan aku mau menjemputnya. Tapi kau tahulah adikmu sungguh keras kepala.” Abilio  menyahut panjang.
“Aku tidak minta diantar jemput.”
“Ya Bil, dia bukan Emili kecil yang manja,” kata Antoni sambil mencibir jenaka. “Tapi kalau kau mau tinggal dulu, aku bisa mengantarmu sampai bandara,” kali ini dia menatapku serius.
 “Memangnya kau sudah siap pulang?”
Tubuhku terasa membeku dengan pertanyaan Antoni. Ya, apakah aku sudah siap pulang? Apakah aku sudah siap bertemu papa? Tetapi apa yang harus aku lakukan di sini?
Kesunyian menyergap beranda. Aku merasa semua orang diam karena membiarkanku berpikir. Pada akhirnya, aku memang memutuskan untuk beberapa hari tinggal. Bagaimana pun juga mereka bukan orang asing dalam hidupku. Mereka tetap memperlakukan aku dengan hangat.
“Telpon saja kalau rindu ya?” kata Abilio sambil naik ke boncengan motor Antoni. 
“Tidak akan!”
“Tapi aku pasti akan.”
Aku mendengus.
Semua orang tertawa mendengar percakapan kami.
“Bil benar, kau pastiakan merindukannya,” Carolin sibuk menggodaku setelah mereka pergi.
***
            Keputusanku untuk tinggal ternyata tidak salah. Aku punya waktu berbincang banyak dengan Carolin, Antoni, dan terutama mama. Aku meminta pertimbangan wanita itu apa yang sebaiknya kulakukan.
            Mama memintaku menarik sudut pandang ke luar persoalan. Memintaku membayangkan seandainya aku jadi mama, jadi papa, jadi wanita yang telah melahirkanku atau bahkan menjadi diriku sendiri.
“Setiap keputusan pasti ada alasannya.” Begitu kata mama.
Aku mencoba memahami keputusan mama pergi dari papa. Barangkali seperti itu juga yang kulakukan jika berada di posisinya. Lebih dari itu, aku mengagumi bagaimana dia bertahan dan menerimaku sebagai bagian dari hidupnya. Tentu tidak mudah. Aku, belum tentu sekuat dirinya. Bahkan di tengah kekacauan hidupnya, dia mampu berpikir jernih dan membuat berbagai perencanaan untuk Antoni dan Carolin.
Lalu papa. Aku tidak mengerti bagaimana semua bisa terjadi. Kepalaku berdenyut membayangkan kenyataan lain dari orang yang aku kagumi. Tetapi lepas dari itu semua, apa yang dilakukan padaku tak bisa begitu saja disalahkan. Mungkin, kalau di posisinya, aku pun tak akan menyerahkan anak yang kurawat kepada orang asing bagi anakku. Meskipun ibunya sendiri.
Dan aku? Apakah aku akan terima  begitu saja ikut orang yang tidak kukenal? Apakah di usia tiga belas tahun aku mampu menerima kenyataan perihal diriku? Bagaimana orang yang seharusnya kupanggil ibu memperlakukan aku? Benarkah dia tidak mau merawatku dan hendak menaruhku di panti asuhan? Kenapa? Apakah aku penghalang cita-citanya? Atau jangan-jangan sebab kehadiranku karena papaku telah mem—
Seketika aku membungkam mulut. Tubuhku berkeringat. Apa papa sejahat itu? Oh Tuhan. Jika benar begitu yang terjadi, tentu wanita itu tak bisa sepenuhnya disalahkan jika tak mau menerimaku hadir dalam hidupnya.
Tuhan…bagaimana bisa papa seperti itu? Dan kami, kami semua menjadi korbannya? Kami terbelah bukan karena sejarah negeri kami. Tapi karena sejarah kehidupan papa.
Malam itu aku kembali menimbang dan berpikir panjang hingga larut.
Paginya aku memutuskan kembali ke Timor Leste. Kali ini tidak ada yang mencegah. Mama memelukku sangat lama. “Esperansa,” ucap mama.Tetaplah berharap pertolongan dari Tuhan.” Carolin menggengam tanganku kuat-kuat. Dan Antoni mengantar sampai Bali. Sesungguhnya dia ingin menemaniku sampai Dili, tapi dia tidak sempat bikin surat-surat. Seperti waktu kecil, Antoni mengusap kepalaku saat akan berpisah.
Sepanjang penerbangan pikiranku ikut mengepak. Begitu pesawat mendarat di bandara Comoro, Abilio sudah menunggu di sana. Lelaki itu menepuk bahuku. “Siap?” Aku mengangguk. Belum pernah aku merasa gugup seperti ini untuk bertemu seseorang, apalagi orang itu adalah papaku sendiri. 
***
            “Emili?” Papa nampak terkejut dengan kedatanganku. “Kau tidak memberi kabar.”
Hanya beberapa hari aku meninggalkannya. Tetapi papa nampak lebih tua. Matanya cekung dan merah. Aku yakin papa memikirkan bagaimana pertemuanku dengan mama. Atau justru pertemuannya denganku?
            “Papa mengkhawatirkanmu.”
Aku tidak menjawab.
            “Papa minta maaf.” 
Aku masih diam.
“Kau boleh menghukumku apa saja.” Suara itu serak dan dalam. “Aku memang layak dihukum.”
“Apakah aku bisa bertemu dengannya?” Ucapan itu meluncur begitu saja, seperti bukan suaraku.
“Helen?”
Jadi namanya Helen?
“Setelah kau baca ini.”
Aku menahan napas. Papa membuka kotak kecil di sampingnya. Sepertinya dia sudah menyiapkan itu  sebelum aku datang.
“Helen titip ini. Dia memintaku memberikan padamu, kapan pun kau siap.”
Surat. Aku lelah mendapat pesan secara tidak langsung seperti ini. setelah papa, lalu wanita bernama Helen. Apakah rasa bersalah memang membuat orang tak berani bicara secara langsung?
Didorong rasa panasaran, aku menerima surat bersampul coklat yang disodorkan papa. Kulepas pengaitnya, lalu menarik isinya. Aku menghela napas panjang, membuka lipatan itu dan menemukan tulisan tangan tegak bersambung.
‘Emilia’
‘Sesungguhnya, aku tidak tahu, harus memulai surat ini darimana. Tetapi, kalau waktu bisa diulang, tentu aku tak akan melakukan hal bodoh dalam hidupku. Aku kelas tiga SMA ketika jatuh hati pada Faustino. Kami bertemu di pesta pernikahan saudaraku. Ada alkohol dalam pesta itu. Dan dari sana kesalahan bermula. Kesalahan memalukan yang akhirnya, kau yang harus menerima akibatnya.’
‘Aku memang salah. Kehadiranmu kuanggap sebagai hukuman dari Tuhan atas norma yang kulanggar. Kujalani sembilan bulan dalam pengasingan. Semua demi keluarga besar yang kehormatannya telah tercoreng karena ulahku.’
‘Setelah kau lahir, aku tidak diizinkan melihatmu. Sama sekali tidak. Aku memohon untuk mendekapmu sekali saja, tapi keluargaku melarang. Lagi-lagi, aku menerima itu sebagai hukuman.’
‘Empat bulan berikutnya, aku harus kembali sekolah. Aku masuk asrama. Kami sekeluarga pindah ke Surabaya.’
‘Aku ke Dili awal 99. Mencarimu. Saat itu aku ingin  membesarkanmu. Aku ingin menebus kesalahanku. Tapi Faustino melarang. Dia tidak ingin menyakitimu. Faustino membawamu bertemu denganku dengan syarat, aku hanya boleh melihatmu dari jauh.’
 ‘Beberapa waktu lalu Emilia, aku kembali lagi. Ternyata Faustino belum mau membuka rahasia perihal dirimu. Tapi dia mengijinkan aku menemuimu di toko bukumu. Tentu saja aku datang sebagai pembeli.’
‘Kau ingat, wanita  dari Indonesia yang meminta foto denganmu sebagai bukti persatuan dua negara? Itu aku.’
Aku mengalihkan pandangan dari surat itu. “Toko buku?” tanyaku.
“Hampir setahun lalu,” jawab Papa.
Meski aku dan Abilio kerja sama untuk toko buku itu, tapi kesibukan mengajar membuatku jarang bisa ke sana. Aku mengingat-ingat kapan ada seseorang yang mengajakku berfoto?
Lalu sekelebat adegan hadir di ingatanku. Tidak begitu jelas wajahnya. Tapi aku ingat seorang wanita tersenyum, dan memintaku foto bersama. Aku sama sekali tidak berpikir apapun. Jadi, wanita itu tempat aku mendekam selama sembilan bulan sebelum hadir ke dunia?
‘Aku tidak tahu, apakah aku pantas mendapat maafmu. Tetapi jika suatu hari kau mau bertemu denganku, itu sebuah kemewahan dan hadiah besar bagiku. Tidak peduli kau memandang bagaimana, dan memanggilku apa. Aku berharap, kesempatan itu masih ada.’
‘Kapan pun itu, kau bisa menghubungi emailku…’
Seperti halnya setelah mendengar rekaman pengakuan papa, aku meringkuk di sofa tanpa bicara. Papa juga tak bersuara. Berhari-hari kami saling diam dalam kesunyian canggung. Aku enggan menyapa papa. Papa juga tak bertanya kenapa aku diam.
Berulang kurunut kepingan pengakuan mama, pengakuan papa, pengakuan Helen.
Dalam perjalanan ke Bali, Antoni bilang padaku; “Sebagaimana sebagian orang menjadi ujian bagi lainnya, sebagian lagi adalah perantara takdir bagi  yang lain. Kau, aku, Carol…”
Mungkin benar kata Antoni, bagi mama ini adalah ujian. Bagi Papa dan Helen mungkin juga benar ini adalah hukuman dan jalan menuju perbaikan bagi hidup mereka, hanya Tuhan yang tahu. Tapi bagaimana pun juga, papa telah menunjukkan penyesalannya. Merawat dan menjagaku dengan baik. Menyimpan rahasiaku mungkin sekilas tidak adil, tapi menahanku untuk tidak menyerahkan pada Helen kurasa cukup bijak.
Aku sungguh tidak menyangka perjalanan ke Sambas yang penuh harapan, justru membuka tabir besar dalam kehidupanku. Mama benar, sebagian rasa bersalah tersandang selamanya pada diri seseorang. Papa  juga mengakui itu. Dan aku, tidak ada yang membahagiakan sama sekali melihat papa nampak tersiksa dengan diamku.
Ketika Tuhan mengijinkan aku mengetahui perihal hidupku, layakkah aku membalas dengan membangun jarak dan menyulut dendam pada orang yang telah berbuat baik padaku? Seharusnya aku belajar dari mama, yang berusaha melapangkan hatinya.
“Pa,” Aku menyentuh pundak papa yang mencabuti rumput di halaman. Dia nampak terkejut. “Ayo kita sarapan.” Lalu tatapannya berubah lega.
“Terima kasih, Mili.”
Kami minum teh dan makan paun yang baru saja kubeli.
“Carolin jadi guru, Antoni jadi petani yang rajin.” Aku berusaha mencairkan suasana. “Dan mama masih menjahit.” Aku menatap papa, tersenyum melihatnya nampak gugup saat kusebut kata mama. “Mereka semua menitip salam untuk papa.”
“Ya.” Papa mengangguk.
“Mungkin aku akan menghubungi Helen, kapan-kapan.”
“Emili.” Lelaki itu menaruh cangkirnya. “Papa sungguh-sungguh minta maaf.” Aku menangkap ketulusan pada dalam matanya.
“Ya, Pa. Aku belajar banyak hal dari mama.”
“Itu mengapa aku memintanya yang bercerita kepadamu.”
Aku berdiri, menggeser kursi dan menghambur ke pelukan papa.
Terima kasih. Esperansa ne’e sei iha,” harapan itu masih ada, bisik papa. Benar kata mama, memaafkan itu melegakan, seperti kembali ke rumah setelah pengembaraan yang melelahkan.[SELESAI]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...