Kamis, 17 November 2016

#Sampan [Puisi Republika 6 November 2016]

dari pinterest


:Eliza

Jangan datang kepadanya membawa airmata
meski ia janjikan bahunya selalu siap
kapan pun kau ingin bersandar

Kenapa pula terus memanggilnya,
sementara kau yang susah payah membangun jembatan
diam-diam ia hancurkan serupa kepingan.

Kayumu masih cukup sebagai sampan
Tegakkan bahumu, layari lautan sendiri.
Tetapi, jangan sekali-kali menujunya lagi
;masih banyak dermaga yang lain.

Senin, 07 November 2016

#Puisi Tepukan Semesta [Republika 6 November 2016]


pernah semesta menepukmu, 
lewat guyuran cahaya matahari sepenggalah
menarikmu, dari  jelaga kelumpuhan
pernah semesta mengirim cahaya, 
pada lengkung langit yang penuh gugusan bintang
ke ujung langkahmu yang goyang

lalu angin bersiut kepadamu,
bumi bukan rumah, ia jalan menuju pulang
sementara waktu seperti tombak yang terus berputar
mencongkel kepingan  puzzle yang kaubiarkan  tak terpasang

kini, kaurutuki semesta
kaubilang ia berkoloni mengepungmu,
melumpuhkanmu,
mengikatmu.
kaukumpulkan alasan, kaukumpulkan pembenaran
kenapa,
kenapa tak kau terima saja kesakitan itu
luka-luka itu
nyeri-nyeri itu
barangkali dengannya,
bisa kau bayar sebagian demi sebagian
kesalahan masa lalu yang telah menjauh darimu.

*Untuk pengiriman puisi ke Republika alamatnya 
islamdigest@redaksi.republika.co.id minimal 5 puisi. Kalau cerpen ada konfirmasi pemuatan tiap Kamis, kalau puisi tidak ada konfirmasi.

Minggu, 28 Agustus 2016

Tembang Daun Jati [Cerpen Duta Masyarakat Agustus 2016]



Minten masih ingat ketika suatu malam, ada lelaki dan perempuan tua datang ke rumahnya. Mereka tak pernah menerima tamu sebelumnya. Maksudnya tidak pernah ada yang benar-benar bertamu ke rumah mereka. Kalau pun ada, biasanya hanya orang-orang yang pesan daun jati. Itu pun di halaman saja, tidak pernah masuk rumah.
            “Maksud kedatangan kami ini, untuk melamar Minten.”
            Lelaki itu membawa keranjang berisi gula, teh dan kopi. Begitulah orang-orang di kampung Minten ketika melamar.
Minten duduk di atas lipatan kakinya, di samping Emak, mendengarkan baik-baik kalimat-kalimat Emak dan tamunya.
“Ya, seperti rencana kita beberapa  waktu lalu,  menjodohkan anak kita,” kata salah satu tamu itu.
 Minten menatap orang itu, kemudian berpaling pada emaknya. Dia melihat wanita yang rambutnya menipis dan abu-abu itu beberapa kali menarik napas panjang. Kemudian, setelah mengusap wajah, Emak menepuk pundaknya.
            “Ada yang melamarmu, Minten,” ucap Emak, lalu berhenti sejenak.
“Begini, emak dan orang tuanya dulu pernah bicara untuk menjodohkan kalian.”
Minten menangkap suara Emak bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
“Tapi ya, itu terserah kamu. Menerima atau tidak.”
            Dijodohkan.
Aneh sekali rasanya bagi Minten mengucapkan kalimat itu, meski hanya dalam hati.
            “Menurut emak, kamu sudah mampu untuk menikah.” Emak menggenggam tangan Minten, erat.  “Kamu mau kan menerima perjodohan ini?”

Tentu saja, Minten tidak langsung menjawab waktu itu. Dia bertanya, siapa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Di mana rumahnya, dan seperti apa orangnya.
“Namanya Jo.”
Minten menyimpan baik-baik nama itu dalam ingatannya.
“Dia rajin bekerja dan pintar memanjat pohon-pohon tinggi. Kalau kalian mencari daun jati bersama, kamu tak perlu khawatir tidak dapat daun.”
Pencari daun jati. Pekerjaan sama dengan yang  mereka jalani selama ini. Minten mengingat-ingat, beberapa lelaki yang berpapasan dengan mereka di hutan? Apakah dia pernah melihatnya? atau pernah bertemu dengannya?
“Dia pernah menolong kita. Kamu ingat, waktu  tali daun jati putus saat hujan deras?" 
Itu dua musim lalu.
Minten diam, mengingat seorang lelaki yang waktu itu dengan sigap mengambil satu tali yang melingkat di pinggang  dan mengikat daun jati yang berserakan. Lelaki itu mengangguk, ketika Emak mengucapkan terima kasih. Kemudian pergi begitu saja setelah tersenyum pada Emak, tanpa melihat ke arah Minten yang berteduh di bawah pohon.
Mengingat itu, Minten hampir tak bisa tidur semalaman. Esoknya, berkali-kali emak mendesak meminta jawaban. Tetapi gadis itu ragu, bagaimana mungkin, dia menerima seseorang yang menatapnya pun tidak mau?
“Kamu boleh menolak.”
Minten menggigit bibir mendengar kalimat Emak. Dia tahu, saat itu, Emak justru berharap Minten menerima.
            Perjodohan itu, sejujurnya sungguh mengejutkan Minten. Mereka hanya berdua sepanjang ingatannya. Minten dan emak menjalani hari-hari memetik daun jati, dari  gadis itu belum bisa memegang sabit,  hingga kini dia kuat menggendong dua ikat besar daun jati.
            Jadi, kalau tiba-tiba dia menikah dan hidup bersama orang lain, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya?
            “Emak sudah tua. Bisa sewaktu-waktu menyusul bapakmu,” kata Emak lagi. “Kalau kamu menikah, kamu tidak akan sendiri jika emak pergi.”  
            Lalu Emak menjelaskan tentang kehidupan dan kematian. Tentang pergi dan meninggalkan. Tentang pikiran-pikirannya akan Minten. Emak juga mengatakan perihal  kehormatan seorang gadis. Tentang tanggungjawab Emak akan dirinya pada Gusti Allah kelak. Minten memeluk emak pagi itu, sambil mengangguk, menerima perjodohan dengan Jo.
***
            Dan hari pernikahan itu pun tiba. Tidak ada tenda terpasang di halaman seperti orang-orang. Tidak ada suara musik dan lagu-lagu yang diputar dengan pengeras suara. Tidak ada. Hanya beberapa tetangga dekat datang. Dan sedikit kesibukan di dapur yang ditingkahi tawa ibu-ibu tetangga.
Emak membelikan Minten kebaya ungu dan kerudung renda-renda. Minten belum pernah merasakan kebahagiaan seperti itu saat memakai baju. Baju terindah yang dia miliki sepanjang usianya.
            “Minten, ayo salaman sama Tarjo. Dia sudah sah menjadi suamimu.”
Minten terkejut. Tiba-tiba di depannya sudah berdiri Jo. Lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya. Senyum yang tiba-tiba membuat lutut Minten gemetaran. Lalu, dengan gugup dan pipi merona, Minten menyambut uluran tangan itu.
Orang-orang melihat mereka dengan mata berkaca-kaca. Minten bahkan memergoki  Emak berkali-kali mengusap air mata yang menggarisi pipi keriputnya.
***
Paginya, Minten dan Jo pergi ke hutan untuk mencari daun jati. Memang begitulah pekerjaan mereka. Mencari daun jati untuk dijual pada pembuat tempe. Minten pernah dengar, kalau akhir-akhir ini orang-orang kembali lebih menyukai tempe-tempe bungkus daun daripada bungkus plastik.
Tiba-tiba Jo menghentikan langkahnya.
“Akku, ukka amma ammu!” ucap Jo.
Minten berdiam sejenak, mencoba memahami apa yang diucapkan Jo. Lelaki itu meraih tangan Minten, dan membawa ke dadanya. Jo mengucapkan kalimat itu sekali lagi, dengan nada yang sama. Minten tersenyum dan mengangguk.
 “Kasihan sekali ya, Tarjo dan Minten itu, sama-sama keterbelakangan kok dinikahkan.”
“Lha iya. Bagaimana ya mereka kalau  komunikasi?”
“Ah, yang tidak jelas itu ya orang tuanya, sama-sama  begitu kok dijodohkan.”
Dua orang ibu-ibu  berjalan melewati mereka sambil bercakap-cakap. Minten menelan ludah. Sejak kecil, dia memang tidak mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Tapi, Minten selalu memahami apa yang diucapkan orang-orang. Telinganya jelas menangkap semua suara.
“Akku ukka amma ammu!” kata Jo lagi. “Ejak aunn atti emmak uttus.”
Minten bisa merasakan apa yang diucapkan Jo sungguh-sungguh. Dia menangkap itu jelas dari nada suara dan kilau mata Jo. Minten mengangguk, tersenyum. Jo juga. Dengan beberapa huruf yang hilang dari setiap kata yang diucapkan, lelaki itu meyakinkan, agar Minten tak perlu mendengarkan kata orang tentang mereka.
“Allah ebbih ahhu,” ucap Jo sambil menunjuk atas.
Lalu sepanjang jalan menuju hutan Jati, mereka terus melangkah bersisian. Dalam hati, Minten melagukan tembang daun Jati yang dulu sering dinyanyikan emak untuknya.
Daun-daun jati, gugur untuk tumbuh kembali
Jangan sedih hati, apa yang diberikan Illahi.
Biarkan orang-orang menghina.
           Asal kita tak hina di hadapan-Nya.[]

Sabtu, 23 Juli 2016

Lelaki di Bawah Pohon Turi [Minggu Pagi 17 Juli 2016]



Lelaki itu bersandar  di bawah pohon turi. Di sampingnya, kendi berisi air putih, sepotong singkong bakar di atas daun talas layu, dan cangkul bergagang kokoh tergeletak tak jauh darinya. Tulang-tulang dadanya menonjol. Keringat bercucuran,. Rambutnya lepek. Berkali-kali ia menarik nafas berat sambil memandangi hamparan tanaman cabe di hadapannya.
            “Panennya si Darmin langsung dibelikan motor baru.”
            “Tukijo beli mobil bekasnya pak Lurah.”
            “Katiran sudah mulai beli pasir, mau mbangun rumah.”
            Masih jelas suara-suara itu. Di ladang, di perempatan jalan, di tempat-tempat mencuci untuk umum, juga di  truk-truk pengangkut orang-orang yang hendak ke pasar.
Berita panas itu dengan cepat menyebar ke seluruh kampung. Membuat orang-orang tersulut tekadnya. Inilah saatnya petani harus mengubah nasib. Dari wong cilik, menjadi wong nduwe.
            Dan berbondong-bondonglah para petani mulai membersihkan ladang mereka. Tidak ada lagi rasa sayang untuk menghabisi singkong yang perkilonya hanya seharga logam bergambar bunga melati. Membabat jagung-jagung yang membuat jempol bengkak saat memipilnya untuk dijual. Bahkan, harga kedelai yang katanya menjanjikan tak cukup membuat air liur mereka menetes.
            Ayam-ayam, kambing-kambing dan sapi-sapi  di keluarkan dari kandang, dibawa ke pasar untuk dijadikan uang. Emas-emas yang tersimpan rapi dalam kantong di bawah tikar tempat tidur juga ikut melayang.  Semuanya menjadi  wujud yang sama. Benih cabe, poliback, plastik-plastik penutup, mulsa, aneka pupuk dan obat semprot serta ratusan batang lanjaran dari kayu.
            “Harga terus naik!”
Tak ada yang lebih menarik dibicarakan selain cabe! Petani mana yang tidak ngiler  setiap kali mendengar harga cabe semakin melambung? Dari yang biasanya tiga ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, sampai lima puluh ribu. Bahkan, sembilan puluh ribu.
“Edan!”
Pun bagi lelaki itu, lelaki yang kini bersandar di batang pohon turi. Kalau saja…
            “Jangan dijual kambingnya, Pak. Kita kan sudah sepakat, itu satu-satunya persiapan untuk khitan  Jalu, empat bulan lagi.” Begitu ucapan istrinya, pada suatu malam saat dia mengutarakan niatnya.
            “Jangan jadi kuno, Bu. Yang lain berani maju, masa kita tidak?”
            “Tapi Jalu sudah ngotot minta sunat liburan sekolah nanti?”
            “Empat bulan waktu yang cukup untuk umur cabe, Bu.”
            Lalu, benar-benarlah lepas satu-satunya kambing di kandang mereka. Kambing yang dibeli dari uang hasil buruh tanam padi. Satu juta seratus, masih kurang sembilan ratus ribu lagi untuk modal awal menanam cabe-cabe yang menggiurkan itu.
            “Aku tidak setuju  kita hutang segitu banyak, Pak. Uang dari mana untuk mengembalikan?”
            “Orang takut itu ndak akan bisa maju, Bu. Setuju atau tidak, aku akan tetap mencari tambahan untuk modal.”
            Begitulah, dengan tekat yang kuat dan perasaan membuncah ia merasa telah bisa mengalahkan ketakutannya untuk maju. Sekarang, atau tidak untuk selamanya. Batinnya.  Entah mendapatkan kata-kata dari mana.
            Lalu esoknya ia bangun bersama suara ayam jantan. Dengan cepat kaki telanjangnya menyusuri jalan setapak menuju ladang. Menjebol singkong-singkong, mencabut beberapa tanaman jahe, mencangkul bongkahan-bongkahan tanah, menggemburkan dan membuatnya menjadi rata.
            Pagi-pagi berikutnya –seperti petani lain di kampungnya—ia  merawat tanaman cabenya dengan penuh kasih sayang. Mengawasi perkembangannya: ngocor, nyemprot obat, memberi pupuk sesuai usia, juga menaruh lanjaran-lanjaran penyokong cabe agar tidak ambruk.
            Lelaki itu, yang kini mengipasi badannya dengan caping yang sudah tidak berbingkai, kembali mengembuskan napas berat. Dia pandangi hamparan pohon cabe di hadapannya. Apa yang salah? Bukankah hidup harus berusaha? batinnya.
            Lahir dan besar di kampung itu, lalu menjadi petani,  baginya bukan  pilihan. Tapi seperti sebuah keharusan yang harus dijalani. Tak ada yang diwariskan oleh kedua orangtuanya selain keterampilan mencangkul dan menanam. Seperti kebanyakan orang-orang di kampungnya.
            Dulu, dia dan orang-orang di kampungnya, pernah menjuakkan harapan, saat musim-musim kaos dibagi gratis dan bendera warna-warni dikibarkan di tiang-tiang. Saat beberapa orang bicara dari atas panggung, menjanjikan akan didirikannya pasar induk di kecamatan yang kelak bisa menampung apa saja hasil bumi. Pasar yang menjadi tempat pesta para petani, sehingga tak ada lagi permainan harga oleh tengkulak dari kota.
            Namun hingga kini, bertahun-tahun kemudian, kabar itu hanya seperti ikan asin yang aromanya menyengat  saat dibakar, lalu akan menghilang begitu saja setelah dingin.
            Bulan belum berputar penuh, tapi harga cabe semakin jatuh. Para petani mulai gaduh, gundah, gemetar, sambil sebisanya terus menghibur diri. Terus memupuk keyakinan, bahwa seturun-turunnya harga, tak akan sampai merugikan mereka.
foto ambil dari klipingsastra.com

            Lelaki itu, yang masih bersandar di pohon turi, mengusap wajahnya.
“Kalau sudah begini, lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?”  susah payah ia menelan ludah. Pertanyaan istrinya semalam seperti duri dadap yang menancap di gendang telinganya.
“Ingat! Jangan sekali-kali kau berniat bunuh diri seperti Parji!” bisik istrinya.
 Ya, Parji adalah puncak kenyataan paling menakutkan dari cabe. Dia salah satu orang yang paling percaya bahwa cabe bisa mengubah nasibnya. Parji berani  hutang dua ekor sapi, dan menyewa berpetak-petak ladang sebagai modal.
“Tinggal mengalikan saja tho hasilnya, dan keuntungan sudah bisa dihitung.” Begitu kata Parji. Hingga diapun memberanikan diri untuk mencoba. Melepas seekor kambingnya dan mencari tambahan dengan berhutang.
Namun, sebulan kemudian harga cabe yang semula 40 ribu, sudah merosot ke 30 ribu, 24 ribu, 19 ribu, 15 ribu. Dan minggu lalu, saat cabe-cabe masih sangat hijau, harga semakin jatuh ke tujuh ribu, kemudian tiga ribu.
Lelaki itu ingat. Bagaimana Parji menjerit seperti orang kesetanan. Berlari ke ladang. Membabat cabe-cabenya. Kemudian  penduduk menemukannya gantung diri di pohon randu. Nyawanya sudah tak bisa diselamatkan. Sementara  istri Parji yang semula berkali-kali pingsan, kini hanya tertawa-tawa  sambil menyebut hutang-hutang suaminya.
“Kalau saja….” Lelaki itu berkata.
Ya, kalau saja dulu ia menuruti kata-kata istrinya. Tak perlu menjual kambing yang hanya satu-satunya harta simpanan mereka. Tak perlu berhutang yang semakin menambah beban. Dan tak perlu membabat semua tanaman ladang yang masih bisa untuk dimakan.
 Lalu dengan keadaan seperti ini, pada siapa dia dan para petani lainnya mengadukan nasib mereka? Nyatanya, wong cilik tetaplah wong cilik. Hanya seperti anak kecil yang bola matanya naik ke atas dan ke bawah ketika melihat orang dewasa bermain yoyo.
“Aku jadi sunat kan, Mak?” pertanyaan Jalu tadi pagi masih terngiang jelas.
“Tanya saja sama bapakmu!” jawab istrinya.
Wanita itu meliriknya tajam. Tak harus dikasih tahu. Dia mengerti makna lirikan itu.
            Lagi, lelaki itu menganjur napas panjang. Diraihnya kendi berisi air, lalu diteguknya pelan. Siapa sesungguhnya yang menaikturunkan harga? Tanyanya dalam hati. Semilir angin membuat dia kembali menyandarkan badannya ke pohon turi.
Semalam, lelaki itu telah menghitung, mengira-ngira berapa uang yang akan didapat jika dia menjual cabenya sekarang. Masih hijau, masih terlalu murah. Namun menunggu seminggu lagi juga tak ada jaminan harga bisa naik , bahkan bisa-bisa tambah merosot. Sementara cabenya sekarang saja sudah kelihatan kurang segar.
Sehelai daun turi jatuh di kepalanya. Andai saja dia tidak pernah mendengar bahwa ada kehidupan setelah mati. Andai saja dia tidak pernah mendengar bahwa semua yang dilakukan di dunia dimintai pertanggungjawaban. Andai saja tidak ada Sayekti, wanita yang telah lima belas tahun menemani hidupnya. Andai saja tak ada Jalu, anak semata wayang yang dititipkan Tuhan di tahun ke sembilan pernikahan mereka. Mungkin, lelaki itu tak perlu berpikir dua kali untuk mengikuti langkah Parji.[]

Rabu, 22 Juni 2016

Kumpulan Fabel, Sedang Proses



Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman email tentang perkembangan calon buku --kumpulan cerita anak yang bagi saya spesial. Insya Allah, ini akan menjadi buku bergambar pertama saya. 
Karena lima novel anak yang  sudah terbit lebih dulu memang tidak ada ilustrasinya.

salah satu ilustrasinya :)

Buku ini adalah kumpulan cerita tentang hewan, berisi 14 judul, dengan tokohnya macam-macam. 
Mulai dari Orang utan, Gajah, Bekantan, Komodo,  Katak, Tikus, Kelinci dan lain-lain. Oh ya, tentu saja Kucing ;)


Naskah ini bisa dibilang adalah draft tabungan dalam waktu lama.

Jadi, ceritanya, ketika awal tahun lalu ada penerbit yang sedang mencari naskah kumpulan cerita dan boleh fabel, saya langsung mengumpulkan file-file di folder dan mengajukan naskah itu.

Alhamdulillah, senang sekali  ketika menerima email acc.  


Saat ini ilustrasi sudah selesai, cover sudah, lay out juga sudah dan insya Allah sedang antri naik cetak.

Oh iya, buku ini nanti selain dilengkapi dengan beberapa fakta unik tentang binatang, juga ada bonus animal paper toysnya.  


Mohon doanya ya. Semoga prosesnya lancar dan kelak disukai pembaca dan mengalirkan kebaikan. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...