Selasa, 27 November 2018

BEREDA



Kita adalah dua orang asing yang sama-sama berteduh di halte tua ini
Pagi berhujan dan aku hanya diam memandang padat jalanan
Mendengar klakson bersahutan, menatap rinai yang menebal

Kita adalah dua orang asing yang berbagi keredaan
Kulirik kau diam-diam, yang menggumam sendirian perihal matahari jam dua belas siang di saku jaketmu
Perihal daun-daun luruh di halaman rumahmu

Tapi kita tetap menjadi dua orang asing, bahkan setelah hujan reda
Sementara kau melangkah lebih dulu meninggalkan halte tua ini
Aku hanya bisa menelan kembali kata-kata di ujung lidahku.

*pernah dimuat di Solo Pos

Senin, 26 November 2018

Terima Kasih Allah (Novel Hairi Yanti)


Novel ini sudah saya terima beberapa waktu yang lalu. Dikirim langsung dari penulisnya. Urfa yang pesan (minta dipesankan) karena sebelumnya dia memang sudah membaca novel pertama Hairi Yanti dan juga cerpen-cerpen Hairi di Bobo.

Hairi menulis novel ini dalam waktu singkat. Tepatnya ketika sedang libur turnamen (kami berada satu grup pecinta bulutangkis yang anggotanya hanya lima orang). Jika ada turnamen kami pun akan sibuk mengikuti jalannya pertandingan.

Hairi bilang, dia suka banget dengan novel yang ditulisnya ini. Saya percaya. Menulis hal-hal yang kita suka memang juga berpengaruh pada kecepatan proses.
Jalinan cerita seolah ada di kepala dan begitu saja tertuang lewat jari-jari.

Jadi, saya penasaran dong seperti apa novel Hairi. Saya tidak membaca draftnya. Memang grup kami tidak membahas tulisan. (Kami membahas bulutangkis dan masakan).

Terima Kasih Allah, berkisah tentang liburan Zira. Anak kelas lima yang sangat suka membaca.

Salah satu impian Zira adalah punya rumah yang pintunya tertutup, agar jika temannya datang, mereka mengetuk pintu. Selama ini rumah Zira selalu terbuka sepanjang hari.

Sampai bagian ini saya diliputi haru. Bagi sebagian orang mungkin ini keinginan yang sederhana atau aneh. Tetapi bagi saya ini impian yang manis.

Hairi memasukkan bagian impian itu bukan hanya untuk hiasan kisah semata. Ke depan di bab-bab berikutnya impian kecil itu juga berperan penting.

Cerita anak adalah cerita yang luas. Banyak hal bisa dikisahkan. Bahkan kehidupan orang dewasa pun bisa disajikan. Tentu saja disajikan lewat kacamata anak-anak dengan segala aspek yang mempengaruhi mereka.
Itulah yang dilakukan Hairi.

Novel ini dibuka dengan persiapan Zira dalam menyambut liburan. Dia meminjam banyak buku dari perpustakaan. Bahkan petugas perpustakaan juga meminjami Zira buku.

Zira membayangkan liburan yang sempurna. Dia bahagia dengan buku-buku meskipun tidak pergi ke mana-mana.
Namun, sebuah suara mengejutkan, mula-mula buku Zira terlepas hingga kemudian membuat banyak hal berubah.

Urfa membaca bagian ini sebagai bagian yang menegangkan. Yang karena penasaran dengan lanjutannya dia bahkan membawa novel ini ke sekolah.

Jika menurut Huck cerita anak merinci dua nilai yakni personal (kesenangan, narasi, memberi pengalaman) dan pendidikan termasuk hikmah (yang diselipkan Hairi dengan baik) maka Terima Kasih Allah telah memuat nilai nilai itu.

Saya sedang menulis romance saat ini. Tetapi membaca novel Hairi saya seolah bisa menyatu dengan cerita dan merasakan posisi Zira. Hingga...ya, menitikkan air mata.

Jika Hairi menyukai kisah ini saat menuliskannya, saya dan Urfa menyukai kisah ini saat membacanya.

Barakallahu fiik, Hairi 😊

Judul: Terima Kasih Allah
Penulis: Hairi Yanti
Penyunting: Muridatun
Ilustrasi sampul: Redwita
Tebal: 112 halaman
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Terbit: Oktober 2018

Rabu, 14 November 2018

Puisi-Puisi Di Media Indonesia [1]



Di Kota Baru Baucau
:Faustino
kau punya hujah sendiri untuk berdiri di gerbang itu
memberi hormat  ketika merah putih berkibar
kau selalu memiliki helah untuk  lewati  jalan itu
mendengarkan suaranya memantul dari bahu-bahu jalan

lalu kau resapi tembang Jembatan Merah
yang membuat matamu basah
tanyamu: apakah kita sama-sama punya hati yang tinggal sebelah?
dia wanita Jawa, diamnya adalah kesepakatannya
dan sepotong hatimu utuh kembali

tapi waktu tak abadi
sejarah bicara dari dua kepala
di kota Baucau, kalian berjalan ke arah yang berbeda
menahan kesakitan, membekap separuh hati yang memar




Di Kota Lama
:Faustino
ini perihal lelaki yang memesan dua cangkir kopi
katamu; untuk yang bernama kenangan
kita bersisian, menyusuri  jalanan melingkar di perbukitan Baucau
di kota tua, tak ada ingatan yang  merapuh bersama waktu
surat-surat kecil di keramaian mercado municipal
gadis Portugis  yang berjalan dengan keranjang belanja
bagaimana diam-diam kau masukkan lipatan amplop
ke dalam keranjangnya

kalian bertukar mimpi, berbagi harapan
namun semua lebur ketika revolusi bunga mekar
kekasihmu pergi,
membawa separuh hatimu yang tak pernah kembali


*Puisi pernah dimuat di Media Indonesia
*Nama Faustino bisa ditemukan di cerpen Lelaki yang Memesan Dua Porsi yang dimuat di Detik.com

Senin, 12 November 2018

Belajar dari Austin Kleon



Saya mengenal Austin lewat buku keduanya Show Your Work. Buku yang akhirnya penuh coretan dan lipatan (saya memang gitu kalau suka sama buku. 😄)

Banyak pesan Austin di buku itu yang saat tertentu saya baca ulang misalnya:

*Fokuslah pada proses harian.

*Mewujudkan karya yang kuat memakan waktu yang lama.

*Jangan berkilah kekurangan waktu. Kita semua sibuk dan sama-sama punya 24 jam. Kita bisa menemukan waktu di tempat recehan terselip.

*Tancap gas adalah cara untuk terus maju. Tetapi di satu titik kita perlu menyeimbangkan hidup. Tidak salah berhenti, atau pergi. Saat siap untuk kembali, kau bukan merintis lagi, sebab karya lama tidak pernah hilang.

Dan masih banyak point-point penting yang disampaikan Austin. Hingga akhirnya membuat saya berburu  buku pertamanya Steal Like An Artist.

Agak susah juga, saya sampai pesan ke beberapa teman yang pergi ke pameran-pameran buku.

Steal Like An Artist tidak hanya ditujukan untuk mereka yang ingin menulis, namun juga cocok untuk mereka yang ingin menyuntikkan kreatifitas.

Kata Austin, "Bersekolah atau tidak, belajar selalu menjadi tugasmu."

Austin juga bilang, "Pelajari letak kegagalanmu. Apa yang membuatmu beda itulah yang harus kamu asah untuk jadi karya sendiri."

Nah, kalau buku ketiga bersampul merah saya beli setelah tiga kali ke toko buku. Saya mempertimbangkan penting dan tidaknya membeli buku jurnal itu.

Di sana Austin mendesain bukunya bagaimana cara mengintai kesempatan dan mengumpulkan ide-ide.

Misalnya, tulis 10 hal yang tergeletak di dekatmu namun tidak digunakan siapa-siapa.

Dalam seminggu duduk/berdirilah di tempat sama dan tulislah apa yang kau temukan.

Buku ini juga dilengkapi kantong arsip di sampul belakang.

#Kesatrian1118

Sabtu, 10 November 2018

Dua Pesan Penting Stephen King


Saya membuat jadwal membaca meski kadang-kadang saya langgar (😄)
Misalnya, Senin adalah jadwal membaca hal-hal yang berkaitan dengan menulis.

Dan pagi tadi, saya kembali membawa On Writing-nya Stephen King ke tepi jendela.

Saya bersyukur Allah mempertemukan dengan buku itu. Sekarang sudah susah nyarinya. Semoga penerbitnya mau cetak ulang lagi.

Beberapa Pesan Stephen King di awal buku ini:

Tidak ada gagasan sampah, ide-ide cerita yang baik bisa datang dari mana saja.
Dua gagasan yang sebelumnya tidak ada sangkut pautnya pun, bisa menyatu dan menciptakan sesuatu yang baru.

Tugas kita, kata Stephen King, "Bukan menemukan gagasan-gagasan itu. Melainkan mengenalinya saat mereka muncul."

Pesan Stephen lainnya yang sangat saya suka adalah, "Jika kau menulis cerita, kau sendiri yang bercerita. Jika kau menulis ulang, tugas utamamu adalah menyingkirkan hal-hal yang bukan termasuk cerita."

Menulis hal-hal dari masa lalu atau pengalaman pribadi bukan hal buruk. Tulis saja semua yang membanjiri ingatan.
Tapi, beri jarak setelah selesai. Endapkan. Hingga ia seolah-olah menjadi barang asing. Saat membaca dan kemudian mengedit atau menulis ulang, ada hal-hal yang sebaiknya kita buang. Ada bagian yang sebaiknya tidak kita paksakan.

Rumusnya: Draf pertama - 10% = draf ke-2.

Jika sayang dengan bagian-bagian itu, simpan saja, dan buatkan cerita lain. Ia akan jadi karya yang berbeda.

Saya menerapkan ini saat menulis Always Be in Your Heart, saya menemukan hal-hal tentang distrik Baucau, Kota Baru, Kota lama. Tapi tidak mungkin saya jejalkan bersama Ermera.
Bertahun kemudian jadilah Baucau dkk sehimpun puisi yang dimuat Media indonesia.


Omong-omong masih banyak pesan-pesan penting Stephen di buku On Writing. Jangan ragu untuk ambil kalau nemu. Karena memang sudah agak langka.





#Kesatrian1118

Jumat, 09 November 2018

Angka-Angka yang Berubah


Suatu pagi, saya menemukan angka cantik di instagram saya. Karena merasa unik, buru-buru saya simpan. Kemudian saya unggah ke media sosial.
Setelah pasang status perihal angka cantik di instagram pagi itu, ada follower baru di notif saya.

Saya mengecek ke akunnya dan bilang, 
"Mau konfirm tapi nanti angkanya jadi berubah."
Dan beliau membalas,
"Shabrina, tiap saat angka-angka pasti berubah, itu menandakan bahwa kehidupan sedang berjalan."

Saya percaya itu jawaban spontan, tetapi seketika saya tertegun. Benar juga sih. Bahkan detik pun berubah kan?

Saya merenungkan kalimat itu sambil memandang sirih pinang di tepi jendela. Untuk menjulur panjang, daun-daun menua, tunas baru muncul.
Bukankah itu penanda sirih pinang tumbuh? Tidak seperti dua tangkai tulip imitasi yang sejak bertahun-tahun saya beli daun dan bunganya tak pernah berganti. 







Angka-angka berubah. Waktu berjalan. Dan kita, kita memilih ikut berjalan atau diam dan begini-begini saja?

#Kesatrian1118
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...