Kamis, 21 September 2017

BOA [Cerpen Femina]



“Pergilah. Kalau itu maumu.”
Jen masuk ke dalam taksi seiring kalimat yang menggema di telinganya, entah yang ke berapa ratus kali.  Dia menoleh ke halaman, menunggu seseorang mengejarnya. Menatap pintu rumah yang tadi dirapatkan, dan tidak ada tanda-tanda akan terbuka dari dalam.
Pada akhirnya, aku benar-benar pergi. Kata Jen dalam hati. Sebelas jam dari percakapan pendek di meja makan semalam.
Boa pulang jam satu dini hari, mengejutkan Jen yang tertidur di atas tumpukan buku bersama laptop menyala di sampingnya. Dua kali dua puluh empat jam ponselnya tak bisa menghubungi Boa. Itu bukan untuk yang pertama kalinya, dan Boa sama sekali tak mau memberi penjelasan apapun.
 “Kau benar-benar berubah Boa!” Jen meledak.
“Kau yang berubah, Jen!”
Seperti ada yang menghantam dada Jen. Boa menyahut dengan nada yang lebih tinggi. Tumpukan buku di meja sampai merosot bersama gebrakan tangan Boa di atas meja.
Lalu hening. Mereka sama-sama tak bicara. Jen merapatkan gigi-giginya. Tenggorokannya sakit,  sekuat tenaga menahan agar tak ada setetes air matapun yang jatuh. Jen masih berharap Boa minta maaf, memberi penjelasan kalau dia tak sengaja, sedang emosi, atau apapun, lalu merentangkan tangan dan membawa kepala Jen ke pelukannya. Seperti dulu, setiap kali mereka berselisih paham.
Dulu? Ah, rasanya itu sudah lama sekali. Jen bahkan tak bisa mengingat kapan hubungan mereka mulai renggang. Kapan Boa berubah memanggil namanya; “Jen”, dari panggilan Dear, Doben, Amor, Love.
Dan semua itu membulatkan keputusan Jen, yang telah berkali-kali disampaikan pada Boa, bahwa lebih baik dia pergi. Mereka berpisah, daripada bersama tapi saling menyakiti. Lalu, sama sekali di luar dugaan Jen, kalau pada akhirnya Boa memberi izin. Melepaskan Jen.
“Pergilah. Kalau itu maumu.”
Ketika mereka sama-sama berdiri dan meninggalkan meja makan, Jen tahu apa yang harus dilakukan. Dia mulai mengemasi barang-barangnya. Memasukkan ke kardus-kardus dan menulis alamat. Jen akan mengirim barang-barangnya lewat correios, agar tak terlalu banyak  bawaan.
Jen sadar, masih akan menjalani proses jika benar-benar berpisahan dengan Boa. Tapi dia berpikir, kembali ke rumah itu lagi rasanya tidak mungkin. Terlalu banyak kenangan. Dan dia tak mau tercekik oleh ingatan-ingatannya sendiri.
Hampir jam delapan pagi, ketika Jen selesai berkemas. Dia mendengar Boa bangun dan masuk kamar mandi.  Jen melirik dapur dan dia memutuskan untuk tidak menyalakan kompor, meski sekadar menyeduh teh panas. Mereka tak saling bicara. Ketika Boa bersiap ke kantor, Jen menghindar ke kamar mandi. Dan begitu selesai, Boa sudah tak ada. Lelaki itu pergi tanpa pamit kepadanya.
Jangan menangis! Jen mengingatkan dirinya sendiri. Dia menegakkan pundak ketika membawa barang-barang ke correios. Sekali lagi kembali ke rumah, mengambil kopornya, dan kini Jen berada di dalam taksi, menyusuri jalan padat kota Dili.
Rasanya baru kemarin, tangannya berada dalam genggaman Boa ketika rusuh referendum 1999. Mereka berlari ke kamp pengungsian. Tak hentinya air mata Jen tumpah di dada Boa. Mereka baru menikah beberapa hari ketika itu. Orangtua Jen yang pro integrasi tak bisa lagi bertahan lebih lama. Jen berdiri di persimpangan antara orangtua dan cintanya pada Boa.

Kamis, 14 September 2017

Perempuan dan Puisi Lembab di Beranda [Cerpen Juara 3 Lomba Majalah Hadila]



 “Mungkin aku pulang agak sore,” Lelaki itu membawamu dalam dekapan, sambil mendaratkan ciuman di ubun-ubunmu.
“Hujan…,” katamu pelan, sambil mendongak pada awan kelabu yang rendah. Sesungguhnya, kau ingin mengatakan agar suamimu tak pergi pagi ini. Namun ketika menoleh, lelaki itu sudah mengenakan mantel dan sepatunya.
Jadi, kau tak berucap apa-apa lagi, selain hanya berdiri kaku di beranda, menatap langkah-langkah panjang suamimu yang menyeberangi halaman. Kau menunggu lelaki itu menoleh sebelum  berbelok di ujung jalan untuk memberikan senyuman terakhirnya.
Bukan senyum terakhir. Kau meralat pikiranmu sendiri. Sekonyong-konyong kau tidak mau berpikir apapun tentang kata terakhir. Semua itu hanya membuat perasaanmu kemana-mana. Akhir-akhir ini, kau seringkali dihinggapi pikiran seperti itu setiap kali dia mau pergi. Barangkali itu cinta. Rasa takut kehilangan.
“Aku akan pulang untukmu. Selalu padamu.”
Kau mengulang kembali kalimat yang sering diucapkannya untukmu. Bagimu itu seperti mantra. Dan kau percaya. Selalu percaya.
 “Bagaimana kamu bisa percaya pada laki-laki yang bahkan tak kau tahu asal-usulnya?” Itu pertanyaan yang dilontarkan pamanmu beberapa bulan yang lalu, sewaktu kau mengatakan ada seorang  melamarmu.
“Tidak bisakah kamu menikah dengan orang dari desa sini saja?”
Kau menggeleng. Hanya pria itu yang memikat hatimu, yang mampu mendatangkan gulungan ombak dalam dadamu. Deburan perasaan yang sama sekali belum pernah kau rasakan ketika beberapa pemuda mencoba mendekatimu.
“Jangan mudah percaya. Tidak ada yang bisa memberi saksi apakah dia masih benar-benar seorang diri.”
Kau memang tidak begitu saja percaya. Kau harus tahu, alasan apakah yang membuat sang pemuda menemuimu, mengutarakan perasaannya pada pertemuan ke tiga  kalian. Banyak gadis-gadis desamu yang mencari perhatian lelaki itu. Namun kenapa justru kepadamu dia menyerahkan hatinya?

Kamis, 30 Maret 2017

Sebuah Nama di Tepi Pink Beach [Kawanku no 18]



Pink Beach
Menuruni bukit Sulphurea Hill, berlari di antara barisan  lontar
Aku melawan arah angin yang menampar-nampar bunga jarak tinthir
Kutulis sajak kecil di atas  pasir merah muda
Tentang huruf berserakan dari percakapan kita
“Wow.” Begitu tanggapanku setelah membaca puisi itu. Lalu berderet-deret ke bawah kami berbalas komentar tentang pantai dengan pasir merah muda itu.
Pernah juga suatu hari aku ditandai dalam catatannya yang lain.

Di Lasiana
Aku pemuda Rote, menunggumu di sini
Telah kusiapkan tuak 
yang kusadap dari pohon lontar yang berdiri tegak
datanglah, Nona, di tepi pantaiku yang masih menyisakan pesonanya,
Lasiana


“Tuak?!”
“Nira lontar, Hen. Rasanya manis, asam dan agak sepat. Kau harus mencicipinya suatu hari,” balasnya
“Mirip nira aren?” Aku masih penasaran.
“Aku belum merasakan nira aren sih. Barangkali kau mau mengirimiku? Dengan senang hati kuterima."
Aku tertawa.
"Di sini  gula dari nira lontar dimasak langsung di tepi pantai Lasiana. Ini salah satu atraksi gratis. Turis-turis bisa langsung mencicipi.”
Namanya Essen Bessie. Kami kenal sejak SMA, di awal-awal aku punya facebook. Entah siapa dulu yang mengulurkan pertemanan, aku lupa. Yang kuingat, dia adalah salah satu teman yang catatannya kental nuansa lokal. Dia tak pernah melewatkan namaku dalam tanda di catatan maupun photonya. Sesekali dia mention aku pada statusnya. 

-Sepiring nasi hangat ditemani se’i sapi tumis, sambal lu’at dan irisan tomat segar. Colek Henis LS, ah biar ngiler-


Pernah suatu hari, Essen menandaiku di photo profilnya yang baru. Dia sedang tersenyum, dengan jempol teracung ke arah topi di kepalanya.
Sombrero?”
“Ti’i langga. Topi kebangga orang Rote.”
“Wow! Keren.”
“Memang. Zaman dulu, jika seorang pemuda memakai Ti’i langga dia akan terlihat gagah, dan menarik hati gadis-gadis.
“Dongeng?”
“Tidak, buktinya saat aku pakai ini, memang menarik perhatian seorang gadis.”
“Tentu saja bukan aku!”
“Hahaha….”
Dan semua cerita Essen tentang Nusa Tenggara Timur, sepertinya telah membuatku jatuh hati. Terutama perihal pantai dengan pasir berwarna merah muda.
            Maka, saat ada kuis yang hadiahnya jalan-jalan ke pulau Komodo, aku tak mau melewatkannya. Setiap hari aku berdoa agar aku bisa menang. Dan kini, ketika aku benar-benar menjadi salah satu pemenangnya. Rasanya separuh dunia berada dalam genggamanku. 



***
            “Kamu janjian ya sama dia?” tanya Lyta teman satu kosku.
            Aku menggeleng.
            “Tapi dia tahu kan kalau kamu akan ke sana?”
            “Nggak juga.”
            “Kamu nggak ngasih tahu dia?” bola mata Lyta mengikuti gerakanku. Aku angkat bahu sambil mengenakan kardigan rajutku. “Bukannya sejak dulu kamu ingin bertemu dengannya?” Lyta menyambung pertanyaannya.
            “Aku ingin ke tanahnya bukan berarti aku ingin menemuinya.” Kututup ranselku yang gemuk. Lalu menggendongnya.
            “Kamu jatuh cinta padanya, Nis. Tapi kamu menutupinya.”

Kamis, 17 November 2016

#Sampan [Puisi Republika 6 November 2016]

dari pinterest


:Eliza

Jangan datang kepadanya membawa airmata
meski ia janjikan bahunya selalu siap
kapan pun kau ingin bersandar

Kenapa pula terus memanggilnya,
sementara kau yang susah payah membangun jembatan
diam-diam ia hancurkan serupa kepingan.

Kayumu masih cukup sebagai sampan
Tegakkan bahumu, layari lautan sendiri.
Tetapi, jangan sekali-kali menujunya lagi
;masih banyak dermaga yang lain.

Senin, 07 November 2016

#Puisi Tepukan Semesta [Republika 6 November 2016]


pernah semesta menepukmu, 
lewat guyuran cahaya matahari sepenggalah
menarikmu, dari  jelaga kelumpuhan
pernah semesta mengirim cahaya, 
pada lengkung langit yang penuh gugusan bintang
ke ujung langkahmu yang goyang

lalu angin bersiut kepadamu,
bumi bukan rumah, ia jalan menuju pulang
sementara waktu seperti tombak yang terus berputar
mencongkel kepingan  puzzle yang kaubiarkan  tak terpasang

kini, kaurutuki semesta
kaubilang ia berkoloni mengepungmu,
melumpuhkanmu,
mengikatmu.
kaukumpulkan alasan, kaukumpulkan pembenaran
kenapa,
kenapa tak kau terima saja kesakitan itu
luka-luka itu
nyeri-nyeri itu
barangkali dengannya,
bisa kau bayar sebagian demi sebagian
kesalahan masa lalu yang telah menjauh darimu.

*Untuk pengiriman puisi ke Republika alamatnya 
islamdigest@redaksi.republika.co.id minimal 5 puisi. Kalau cerpen ada konfirmasi pemuatan tiap Kamis, kalau puisi tidak ada konfirmasi.

Minggu, 28 Agustus 2016

Tembang Daun Jati [Cerpen Duta Masyarakat Agustus 2016]



Minten masih ingat ketika suatu malam, ada lelaki dan perempuan tua datang ke rumahnya. Mereka tak pernah menerima tamu sebelumnya. Maksudnya tidak pernah ada yang benar-benar bertamu ke rumah mereka. Kalau pun ada, biasanya hanya orang-orang yang pesan daun jati. Itu pun di halaman saja, tidak pernah masuk rumah.
            “Maksud kedatangan kami ini, untuk melamar Minten.”
            Lelaki itu membawa keranjang berisi gula, teh dan kopi. Begitulah orang-orang di kampung Minten ketika melamar.
Minten duduk di atas lipatan kakinya, di samping Emak, mendengarkan baik-baik kalimat-kalimat Emak dan tamunya.
“Ya, seperti rencana kita beberapa  waktu lalu,  menjodohkan anak kita,” kata salah satu tamu itu.
 Minten menatap orang itu, kemudian berpaling pada emaknya. Dia melihat wanita yang rambutnya menipis dan abu-abu itu beberapa kali menarik napas panjang. Kemudian, setelah mengusap wajah, Emak menepuk pundaknya.
            “Ada yang melamarmu, Minten,” ucap Emak, lalu berhenti sejenak.
“Begini, emak dan orang tuanya dulu pernah bicara untuk menjodohkan kalian.”
Minten menangkap suara Emak bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
“Tapi ya, itu terserah kamu. Menerima atau tidak.”
            Dijodohkan.
Aneh sekali rasanya bagi Minten mengucapkan kalimat itu, meski hanya dalam hati.
            “Menurut emak, kamu sudah mampu untuk menikah.” Emak menggenggam tangan Minten, erat.  “Kamu mau kan menerima perjodohan ini?”

Tentu saja, Minten tidak langsung menjawab waktu itu. Dia bertanya, siapa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Di mana rumahnya, dan seperti apa orangnya.
“Namanya Jo.”
Minten menyimpan baik-baik nama itu dalam ingatannya.
“Dia rajin bekerja dan pintar memanjat pohon-pohon tinggi. Kalau kalian mencari daun jati bersama, kamu tak perlu khawatir tidak dapat daun.”
Pencari daun jati. Pekerjaan sama dengan yang  mereka jalani selama ini. Minten mengingat-ingat, beberapa lelaki yang berpapasan dengan mereka di hutan? Apakah dia pernah melihatnya? atau pernah bertemu dengannya?
“Dia pernah menolong kita. Kamu ingat, waktu  tali daun jati putus saat hujan deras?" 
Itu dua musim lalu.
Minten diam, mengingat seorang lelaki yang waktu itu dengan sigap mengambil satu tali yang melingkat di pinggang  dan mengikat daun jati yang berserakan. Lelaki itu mengangguk, ketika Emak mengucapkan terima kasih. Kemudian pergi begitu saja setelah tersenyum pada Emak, tanpa melihat ke arah Minten yang berteduh di bawah pohon.
Mengingat itu, Minten hampir tak bisa tidur semalaman. Esoknya, berkali-kali emak mendesak meminta jawaban. Tetapi gadis itu ragu, bagaimana mungkin, dia menerima seseorang yang menatapnya pun tidak mau?
“Kamu boleh menolak.”
Minten menggigit bibir mendengar kalimat Emak. Dia tahu, saat itu, Emak justru berharap Minten menerima.
            Perjodohan itu, sejujurnya sungguh mengejutkan Minten. Mereka hanya berdua sepanjang ingatannya. Minten dan emak menjalani hari-hari memetik daun jati, dari  gadis itu belum bisa memegang sabit,  hingga kini dia kuat menggendong dua ikat besar daun jati.
            Jadi, kalau tiba-tiba dia menikah dan hidup bersama orang lain, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya?
            “Emak sudah tua. Bisa sewaktu-waktu menyusul bapakmu,” kata Emak lagi. “Kalau kamu menikah, kamu tidak akan sendiri jika emak pergi.”  
            Lalu Emak menjelaskan tentang kehidupan dan kematian. Tentang pergi dan meninggalkan. Tentang pikiran-pikirannya akan Minten. Emak juga mengatakan perihal  kehormatan seorang gadis. Tentang tanggungjawab Emak akan dirinya pada Gusti Allah kelak. Minten memeluk emak pagi itu, sambil mengangguk, menerima perjodohan dengan Jo.
***
            Dan hari pernikahan itu pun tiba. Tidak ada tenda terpasang di halaman seperti orang-orang. Tidak ada suara musik dan lagu-lagu yang diputar dengan pengeras suara. Tidak ada. Hanya beberapa tetangga dekat datang. Dan sedikit kesibukan di dapur yang ditingkahi tawa ibu-ibu tetangga.
Emak membelikan Minten kebaya ungu dan kerudung renda-renda. Minten belum pernah merasakan kebahagiaan seperti itu saat memakai baju. Baju terindah yang dia miliki sepanjang usianya.
            “Minten, ayo salaman sama Tarjo. Dia sudah sah menjadi suamimu.”
Minten terkejut. Tiba-tiba di depannya sudah berdiri Jo. Lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya. Senyum yang tiba-tiba membuat lutut Minten gemetaran. Lalu, dengan gugup dan pipi merona, Minten menyambut uluran tangan itu.
Orang-orang melihat mereka dengan mata berkaca-kaca. Minten bahkan memergoki  Emak berkali-kali mengusap air mata yang menggarisi pipi keriputnya.
***
Paginya, Minten dan Jo pergi ke hutan untuk mencari daun jati. Memang begitulah pekerjaan mereka. Mencari daun jati untuk dijual pada pembuat tempe. Minten pernah dengar, kalau akhir-akhir ini orang-orang kembali lebih menyukai tempe-tempe bungkus daun daripada bungkus plastik.
Tiba-tiba Jo menghentikan langkahnya.
“Akku, ukka amma ammu!” ucap Jo.
Minten berdiam sejenak, mencoba memahami apa yang diucapkan Jo. Lelaki itu meraih tangan Minten, dan membawa ke dadanya. Jo mengucapkan kalimat itu sekali lagi, dengan nada yang sama. Minten tersenyum dan mengangguk.
 “Kasihan sekali ya, Tarjo dan Minten itu, sama-sama keterbelakangan kok dinikahkan.”
“Lha iya. Bagaimana ya mereka kalau  komunikasi?”
“Ah, yang tidak jelas itu ya orang tuanya, sama-sama  begitu kok dijodohkan.”
Dua orang ibu-ibu  berjalan melewati mereka sambil bercakap-cakap. Minten menelan ludah. Sejak kecil, dia memang tidak mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Tapi, Minten selalu memahami apa yang diucapkan orang-orang. Telinganya jelas menangkap semua suara.
“Akku ukka amma ammu!” kata Jo lagi. “Ejak aunn atti emmak uttus.”
Minten bisa merasakan apa yang diucapkan Jo sungguh-sungguh. Dia menangkap itu jelas dari nada suara dan kilau mata Jo. Minten mengangguk, tersenyum. Jo juga. Dengan beberapa huruf yang hilang dari setiap kata yang diucapkan, lelaki itu meyakinkan, agar Minten tak perlu mendengarkan kata orang tentang mereka.
“Allah ebbih ahhu,” ucap Jo sambil menunjuk atas.
Lalu sepanjang jalan menuju hutan Jati, mereka terus melangkah bersisian. Dalam hati, Minten melagukan tembang daun Jati yang dulu sering dinyanyikan emak untuknya.
Daun-daun jati, gugur untuk tumbuh kembali
Jangan sedih hati, apa yang diberikan Illahi.
Biarkan orang-orang menghina.
           Asal kita tak hina di hadapan-Nya.[]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...