Sabtu, 08 September 2018

ESPERANSA 5 [Pemenang 2 Novelet Femina]



Emilia
Sekujur tubuhku rasanya membeku. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa setelah 29 tahun menghirup udara bumi, aku baru tahu asal-usulku. Aku pernah bertemu anak yang tinggal dengan orang tua tiri. Muridku, bahkan ada yang tidak diharapkan kehadirannya. Aku juga pernah menggendong bayi tetanggaku yang lahir ke dunia karena kecelakaan dua orang yang menerobos rambu-rambu Tuhan.
Tetapi, tentu saja aku sama sekali tak pernah membayangkan menjadi salah satunya. Berjam-jam  aku tak bisa mengenali perasaanku. Kucoba mencari dijalinan mana diriku berada. Siapa yang pantas kusalahkan? Papa, wanita yang merawatku,  wanita yang menjadi perantara aku melihat dunia ataukah takdir itu sendiri?
Dalam diam aku terus membolak balik kenyataan yang kutemui.
Carolin membawakan teh manis hangat, sementara Abilio datang dengan terheran-heran.
“Kita beri waktu Emili untuk sendiri,” kata mama pada Abilio.
Menjelang malam, Antoni datang. Aku bisa mendengar dia mendapat cerita mama di beranda sebelum masuk dan menemuiku.
“Emili?” Lelaki itu menepuk bahuku. Aku menatapnya. Melempar senyum getir. Mataku memanas. Enam belas tahun lalu, aku patah hati ketika dia pergi. Antoni kakak lelaki idaman yang selalu ada untuk adik-adiknya. Kalau bisa memaksa, aku ingin dia tinggal bersamaku. Tapi, Antoni memilih bersama mama. Tentu saja baru saat ini aku tahu alasan pilihannya.
Malamnya, mama menggelar tikar di ruang tamu untuk tidur beramai-ramai.
“Matamu juga punya hak. Lagipula punggungmu bisa kram kalau duduk terus begitu,” kata Abilio sebelum pergi tidur.
Antoni mengusap kepalaku, “Istirahatlah. Biar besok pikiran lebih jernih.”
Lalu, Carolin membawakan selimut. “Kalau perlu ke belakang bangunkan aku, Kak.”
Mama mematikan lampu minyak besar, dan menggantinya dengan lampu tempel di pojok ruangan. Wanita itu mendekat, duduk di sampingku, dan membawa kepalaku ke pelukannya. Aku tidak menolak. Di ceruk hangat itulah air mataku benar-benar tumpah. Isakan lirihku serasa memenuhi ruang tamu.
“Katanya, semua orang punya ujiannya sendiri-sendiri. Kamu tak perlu memaksa pikiranmu untuk mengerti semuanya. Butuh waktu untuk menerima hal-hal mengejutkan dalam hidup kita.”
Aku tidak tahu pasti apakah sepanjang malam aku bisa tidur, atau hanya bermimpi. Barangkali semua orang di rumah ini juga sibuk dengan pikirannya masing-masing tentang aku.
Ketika sinar matahari menerobos lewat jendela. Orang-orang sudah tak ada di ruang tamu. Aku berdiri dan melongok ke luar. Abilio dan Antoni minum kopi di beranda. Di dapur, suara minyak panas dan letupan kecil menyusul aroma wangi bawang, ke sana aku melangkah.
“Hei, Kak, sebentar lagi kita sarapan ya. Kemarin kau tidak makan.”
“Kau mau teh apa kopi?” Mama menunjuk dua minuman di meja.
“Teh saja,” Aku mengambil cangkir dan menyesap pelan. Sisanya, satu cangkir yang berisi kopi diambil mama.
Carolin menceritakan bagaimana awal mereka di sini. Bagaimana mereka antri sembako tiap bulan. Tentang tiada hari tanpa ikan asin. Tentang sayuran segar yang langka. Tentang listri yang belum masuk. Tentang murid-muridnya.
Mama juga cerita perihal mesin jahit yang dibeli dari pasar Mundu Malaysia dengan uang tabungan. Lalu giliranku. Aku pun cerita tentang toko buku di Dili yang kurintis bersama Abilio.
“Dia ganteng dan baik,” Carolin mengerling. “Ya kan, Ma?” Mama menyetujui.
“Aku tidak keberatan punya kakak ipar dia.”
“Hus, kami hanya sahabat.”
“Ya, yaaa sahabat kehidupan…”
Aku merasakan kehangatan obrolan santai di dapur ini. Bertahun-tahun lalu, kami juga sering merecoki dapur saat mama memasak. Sering kali lauk-lauk yang baru dari penggorengan sudah habis sebelum waktunya makan.
“Kau biasa masak apa, Kak?”
“Aku…”
Setelah referendum, dapur bukan lagi tempat yang menyenangkan. Untuk sarapan, papa menyiapkan paun dengan teh, kopi atau susu. Makan siang  beli --papa yang beli. Untuk malam, kalau lapar biasanya papa  mengajak makan di luar. Papa sering minta maaf karena tak bisa memasak seperti mama. Dan sebagai gantinya, aku bisa memilih menu apa saja yang kuinginkan.
Bertahun-tahun ritme makan kami seperti itu. Akhir-akhir ini, aku yang sengaja masak kalau hari libur. Kami akan tertawa-tawa di meja makan, berkomentar hasil masakanku yang kemana-mana.
Tak ada yang ganjil dari hidup kami berdua. Aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang papa. Dia memanjakanku sekaligus mengajarkan hal-hal yang seharusnya aku bisa. Dia ayah sempurna. Aku mengagumi dan memujanya. Sampai kemarin, ketika semuanya terungkap. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana menyapa, kalau nanti pulang dan bertemu dengannya.
***
“Apa tidak sebaiknya tinggal di sini beberapa hari lagi?” tanya Antoni ketika aku mengatakan ingin ikut Abilio pulang.
“Aku sudah bilang begitu, bahkan aku mau menjemputnya. Tapi kau tahulah adikmu sungguh keras kepala.” Abilio  menyahut panjang.
“Aku tidak minta diantar jemput.”
“Ya Bil, dia bukan Emili kecil yang manja,” kata Antoni sambil mencibir jenaka. “Tapi kalau kau mau tinggal dulu, aku bisa mengantarmu sampai bandara,” kali ini dia menatapku serius.
 “Memangnya kau sudah siap pulang?”
Tubuhku terasa membeku dengan pertanyaan Antoni. Ya, apakah aku sudah siap pulang? Apakah aku sudah siap bertemu papa? Tetapi apa yang harus aku lakukan di sini?
Kesunyian menyergap beranda. Aku merasa semua orang diam karena membiarkanku berpikir. Pada akhirnya, aku memang memutuskan untuk beberapa hari tinggal. Bagaimana pun juga mereka bukan orang asing dalam hidupku. Mereka tetap memperlakukan aku dengan hangat.
“Telpon saja kalau rindu ya?” kata Abilio sambil naik ke boncengan motor Antoni. 
“Tidak akan!”
“Tapi aku pasti akan.”
Aku mendengus.
Semua orang tertawa mendengar percakapan kami.
“Bil benar, kau pastiakan merindukannya,” Carolin sibuk menggodaku setelah mereka pergi.
***
            Keputusanku untuk tinggal ternyata tidak salah. Aku punya waktu berbincang banyak dengan Carolin, Antoni, dan terutama mama. Aku meminta pertimbangan wanita itu apa yang sebaiknya kulakukan.
            Mama memintaku menarik sudut pandang ke luar persoalan. Memintaku membayangkan seandainya aku jadi mama, jadi papa, jadi wanita yang telah melahirkanku atau bahkan menjadi diriku sendiri.
“Setiap keputusan pasti ada alasannya.” Begitu kata mama.
Aku mencoba memahami keputusan mama pergi dari papa. Barangkali seperti itu juga yang kulakukan jika berada di posisinya. Lebih dari itu, aku mengagumi bagaimana dia bertahan dan menerimaku sebagai bagian dari hidupnya. Tentu tidak mudah. Aku, belum tentu sekuat dirinya. Bahkan di tengah kekacauan hidupnya, dia mampu berpikir jernih dan membuat berbagai perencanaan untuk Antoni dan Carolin.
Lalu papa. Aku tidak mengerti bagaimana semua bisa terjadi. Kepalaku berdenyut membayangkan kenyataan lain dari orang yang aku kagumi. Tetapi lepas dari itu semua, apa yang dilakukan padaku tak bisa begitu saja disalahkan. Mungkin, kalau di posisinya, aku pun tak akan menyerahkan anak yang kurawat kepada orang asing bagi anakku. Meskipun ibunya sendiri.
Dan aku? Apakah aku akan terima  begitu saja ikut orang yang tidak kukenal? Apakah di usia tiga belas tahun aku mampu menerima kenyataan perihal diriku? Bagaimana orang yang seharusnya kupanggil ibu memperlakukan aku? Benarkah dia tidak mau merawatku dan hendak menaruhku di panti asuhan? Kenapa? Apakah aku penghalang cita-citanya? Atau jangan-jangan sebab kehadiranku karena papaku telah mem—
Seketika aku membungkam mulut. Tubuhku berkeringat. Apa papa sejahat itu? Oh Tuhan. Jika benar begitu yang terjadi, tentu wanita itu tak bisa sepenuhnya disalahkan jika tak mau menerimaku hadir dalam hidupnya.
Tuhan…bagaimana bisa papa seperti itu? Dan kami, kami semua menjadi korbannya? Kami terbelah bukan karena sejarah negeri kami. Tapi karena sejarah kehidupan papa.
Malam itu aku kembali menimbang dan berpikir panjang hingga larut.
Paginya aku memutuskan kembali ke Timor Leste. Kali ini tidak ada yang mencegah. Mama memelukku sangat lama. “Esperansa,” ucap mama.Tetaplah berharap pertolongan dari Tuhan.” Carolin menggengam tanganku kuat-kuat. Dan Antoni mengantar sampai Bali. Sesungguhnya dia ingin menemaniku sampai Dili, tapi dia tidak sempat bikin surat-surat. Seperti waktu kecil, Antoni mengusap kepalaku saat akan berpisah.
Sepanjang penerbangan pikiranku ikut mengepak. Begitu pesawat mendarat di bandara Comoro, Abilio sudah menunggu di sana. Lelaki itu menepuk bahuku. “Siap?” Aku mengangguk. Belum pernah aku merasa gugup seperti ini untuk bertemu seseorang, apalagi orang itu adalah papaku sendiri. 
***
            “Emili?” Papa nampak terkejut dengan kedatanganku. “Kau tidak memberi kabar.”
Hanya beberapa hari aku meninggalkannya. Tetapi papa nampak lebih tua. Matanya cekung dan merah. Aku yakin papa memikirkan bagaimana pertemuanku dengan mama. Atau justru pertemuannya denganku?
            “Papa mengkhawatirkanmu.”
Aku tidak menjawab.
            “Papa minta maaf.” 
Aku masih diam.
“Kau boleh menghukumku apa saja.” Suara itu serak dan dalam. “Aku memang layak dihukum.”
“Apakah aku bisa bertemu dengannya?” Ucapan itu meluncur begitu saja, seperti bukan suaraku.
“Helen?”
Jadi namanya Helen?
“Setelah kau baca ini.”
Aku menahan napas. Papa membuka kotak kecil di sampingnya. Sepertinya dia sudah menyiapkan itu  sebelum aku datang.
“Helen titip ini. Dia memintaku memberikan padamu, kapan pun kau siap.”
Surat. Aku lelah mendapat pesan secara tidak langsung seperti ini. setelah papa, lalu wanita bernama Helen. Apakah rasa bersalah memang membuat orang tak berani bicara secara langsung?
Didorong rasa panasaran, aku menerima surat bersampul coklat yang disodorkan papa. Kulepas pengaitnya, lalu menarik isinya. Aku menghela napas panjang, membuka lipatan itu dan menemukan tulisan tangan tegak bersambung.
‘Emilia’
‘Sesungguhnya, aku tidak tahu, harus memulai surat ini darimana. Tetapi, kalau waktu bisa diulang, tentu aku tak akan melakukan hal bodoh dalam hidupku. Aku kelas tiga SMA ketika jatuh hati pada Faustino. Kami bertemu di pesta pernikahan saudaraku. Ada alkohol dalam pesta itu. Dan dari sana kesalahan bermula. Kesalahan memalukan yang akhirnya, kau yang harus menerima akibatnya.’
‘Aku memang salah. Kehadiranmu kuanggap sebagai hukuman dari Tuhan atas norma yang kulanggar. Kujalani sembilan bulan dalam pengasingan. Semua demi keluarga besar yang kehormatannya telah tercoreng karena ulahku.’
‘Setelah kau lahir, aku tidak diizinkan melihatmu. Sama sekali tidak. Aku memohon untuk mendekapmu sekali saja, tapi keluargaku melarang. Lagi-lagi, aku menerima itu sebagai hukuman.’
‘Empat bulan berikutnya, aku harus kembali sekolah. Aku masuk asrama. Kami sekeluarga pindah ke Surabaya.’
‘Aku ke Dili awal 99. Mencarimu. Saat itu aku ingin  membesarkanmu. Aku ingin menebus kesalahanku. Tapi Faustino melarang. Dia tidak ingin menyakitimu. Faustino membawamu bertemu denganku dengan syarat, aku hanya boleh melihatmu dari jauh.’
 ‘Beberapa waktu lalu Emilia, aku kembali lagi. Ternyata Faustino belum mau membuka rahasia perihal dirimu. Tapi dia mengijinkan aku menemuimu di toko bukumu. Tentu saja aku datang sebagai pembeli.’
‘Kau ingat, wanita  dari Indonesia yang meminta foto denganmu sebagai bukti persatuan dua negara? Itu aku.’
Aku mengalihkan pandangan dari surat itu. “Toko buku?” tanyaku.
“Hampir setahun lalu,” jawab Papa.
Meski aku dan Abilio kerja sama untuk toko buku itu, tapi kesibukan mengajar membuatku jarang bisa ke sana. Aku mengingat-ingat kapan ada seseorang yang mengajakku berfoto?
Lalu sekelebat adegan hadir di ingatanku. Tidak begitu jelas wajahnya. Tapi aku ingat seorang wanita tersenyum, dan memintaku foto bersama. Aku sama sekali tidak berpikir apapun. Jadi, wanita itu tempat aku mendekam selama sembilan bulan sebelum hadir ke dunia?
‘Aku tidak tahu, apakah aku pantas mendapat maafmu. Tetapi jika suatu hari kau mau bertemu denganku, itu sebuah kemewahan dan hadiah besar bagiku. Tidak peduli kau memandang bagaimana, dan memanggilku apa. Aku berharap, kesempatan itu masih ada.’
‘Kapan pun itu, kau bisa menghubungi emailku…’
Seperti halnya setelah mendengar rekaman pengakuan papa, aku meringkuk di sofa tanpa bicara. Papa juga tak bersuara. Berhari-hari kami saling diam dalam kesunyian canggung. Aku enggan menyapa papa. Papa juga tak bertanya kenapa aku diam.
Berulang kurunut kepingan pengakuan mama, pengakuan papa, pengakuan Helen.
Dalam perjalanan ke Bali, Antoni bilang padaku; “Sebagaimana sebagian orang menjadi ujian bagi lainnya, sebagian lagi adalah perantara takdir bagi  yang lain. Kau, aku, Carol…”
Mungkin benar kata Antoni, bagi mama ini adalah ujian. Bagi Papa dan Helen mungkin juga benar ini adalah hukuman dan jalan menuju perbaikan bagi hidup mereka, hanya Tuhan yang tahu. Tapi bagaimana pun juga, papa telah menunjukkan penyesalannya. Merawat dan menjagaku dengan baik. Menyimpan rahasiaku mungkin sekilas tidak adil, tapi menahanku untuk tidak menyerahkan pada Helen kurasa cukup bijak.
Aku sungguh tidak menyangka perjalanan ke Sambas yang penuh harapan, justru membuka tabir besar dalam kehidupanku. Mama benar, sebagian rasa bersalah tersandang selamanya pada diri seseorang. Papa  juga mengakui itu. Dan aku, tidak ada yang membahagiakan sama sekali melihat papa nampak tersiksa dengan diamku.
Ketika Tuhan mengijinkan aku mengetahui perihal hidupku, layakkah aku membalas dengan membangun jarak dan menyulut dendam pada orang yang telah berbuat baik padaku? Seharusnya aku belajar dari mama, yang berusaha melapangkan hatinya.
“Pa,” Aku menyentuh pundak papa yang mencabuti rumput di halaman. Dia nampak terkejut. “Ayo kita sarapan.” Lalu tatapannya berubah lega.
“Terima kasih, Mili.”
Kami minum teh dan makan paun yang baru saja kubeli.
“Carolin jadi guru, Antoni jadi petani yang rajin.” Aku berusaha mencairkan suasana. “Dan mama masih menjahit.” Aku menatap papa, tersenyum melihatnya nampak gugup saat kusebut kata mama. “Mereka semua menitip salam untuk papa.”
“Ya.” Papa mengangguk.
“Mungkin aku akan menghubungi Helen, kapan-kapan.”
“Emili.” Lelaki itu menaruh cangkirnya. “Papa sungguh-sungguh minta maaf.” Aku menangkap ketulusan pada dalam matanya.
“Ya, Pa. Aku belajar banyak hal dari mama.”
“Itu mengapa aku memintanya yang bercerita kepadamu.”
Aku berdiri, menggeser kursi dan menghambur ke pelukan papa.
Terima kasih. Esperansa ne’e sei iha,” harapan itu masih ada, bisik papa. Benar kata mama, memaafkan itu melegakan, seperti kembali ke rumah setelah pengembaraan yang melelahkan.[SELESAI]

Jumat, 07 September 2018

ESPERANSA 4 [Pemenang 2 Novelet Femina]



#Mira
Aku baru saja mengikat benang, ketika dari luar kudengar suara teriakan.

“Mamaa? Lihat siapa yang bersamaku.”

Kutaruh kain di atas mesin jahit, lalu melangkah ke beranda. Dua orang asing membungkuk melepas sepatunya. Begitu mereka menegakkan badan, aku langsung membungkam mulut.

“Mamaaa?”

“Ya Tuhan.” Apakah ini benar-benar nyata?

“Aku Emili.”

Entah siapa yang mulai, kami sudah saling berpelukan. Sangat lama. Aku merasakan tubuhnya terguncang-guncang. Air matanya hangat menempel di pipiku.

“Emili…”

Enam belas tahun, sejak aku meninggalkannya. Kini, dia tumbuh menjadi perempuan dewasa yang matang. Sangat cantik. Garis-garis wajah Faustino mengalir penuh di wajahnya. Alisnya, matanya, bibirnya.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana malam-malam kegalauan saat ia menangis kencang. Dia tidak mau diam dalam gendongan Faustino. Aku menyusuinya tanpa air, hanya untuk memberinya ketenangan dan kehangatan.

Aku abaikan sakit hatiku. Nyatanya, naluriku sebagai seorang ibu tetap saja lebih besar daripada rasa marah seorang wanita yang diduakan.

Emilia bukan bayiku. Faustino membawanya dalam usia tiga bulan. Suatu malam. Di bawah guyuran hujan yang tak henti-henti.

“Tolong, dia menangis terus sepanjang perjalanan.”

Kau tahu, bagaimana rasanya dikhianati? Tetapi, bisakah kau bayangkan saat buah pengkhianatan dibawa ke hadapanmu, dan kau harus mendekapnya? Aku masih muda waktu  mengalaminya. Rasanya ingin kucekik saja bayi yang terus menangis itu.

“Tolonglah Mira, demi kemanusia?”

Lalu kemana rasa kemanusiaannya saat berkhianat hingga lahir bayi itu? Aku seperti disiram lilin panas. Diriku mematung. Bahkan menangis saja tak bisa. Sekuat apapun aku menjauh dari  masa lalu, peristiwa malam itu tetap saja terputar detail dalam ingatanku.

“Aku tidak mohon ampunanmu. Aku pantas disiksa. Tapi aku mohon, beri sedikit kehangatan pada bayi tak berdosa ini.”

Pundak Faustino teguncang-guncang saat memeluk kakiku. Aku benci dia memohon. Kenapa bayi itu dibawa kepadaku. Apakah dia tidak memikirkan, tiap aku menatap sosok kecil itu, artinya aku selalu mengingat pengkhianatannya? Lalu tinggal bersama? Menyaksikan sosok itu tumbuh, sama saja aku memelihara dendam dari luka yang dia tanam.

Tetapi, naluri kecil jauh dalam hatiku menjerit. Ketika ada anjing liar saja aku beri minum, ini jelas-jelas bayi sekarat, masihkah aku menutup mata dengan egoku? Setelah pergolakan batin hebat, aku meraih bayi itu. Kulitnya seperti es. Seketika, aku seakan memukul genderang perang, melawan rasa sakitku.

Mula-mula ragu, aku mendekap tubuh ringkih dalam selimut itu. Tangisnya reda. Dia menghabiskan sebotol susu sebelum terlelap. Tak ada lagi wajah cemas. Besoknya, besoknya dan besoknya lagi, aku merawat bayi itu sebagaimana aku merawat anakku sendiri. Tetapi, entah berapa lama, aku tak bicara pada Faustino.

Lelaki itu harus tahu, ketika aku mau merawat anaknya, bukan berarti aku  menerima pengkhianatannya. Sama sekali tidak. Bahkan meski pun setiap hari Faustino meminta maaf. Kesalahan, tetap saja ada hukumannya, bukan?

“Ini kesalahanku. Membawanya tidak hanya berarti mengingatkan aku pada dosaku padamu. Tetapi aku juga tahu, bahwa ini juga menyakitimu. Tapi aku tak punya pilihan. Karena bagiku, hanya kamu tempat aku pulang.”

Karena bagiku, hanya kamu tempat aku pulang. Harusnya itu kalimat yang menyejukkan. Tetapi saat itu justru membuatku mual. Faustino perayu ulung. Dia tidak hanya pintar menyusun kata-kata manis, tapi juga memperlakukan orang lain dengan manis. Dia membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci pakaian kotor, tidak hanya popok Emilia namun semuanya. Tetapi, dia mengkhianati janji suci pernikahan kami. Itu, yang tidak bisa kuterima.

Dan meskipun aku tidak menanggapi kata-katanya, Faustino tetap menjelaskan kenapa dia membawa pulang Emilia ke rumah kami. Aku ingin menyuruhnya diam, tetapi alih-alih, aku mendengarkan. Katanya, yang terjadi dengan wanita yang tidak ingin kuketahui siapa namanya itu adalah kesalahan tak sengaja. Jadi, karena wanita yang tidak ingin kuketahui siapa namanya itu akan melanjutkan pendidikan, dia tidak mau merawat Emilia. Dia akan menaruh Emilia di panti asuhan.

Faustino tidak ingin bayi malang itu menanggung derita akibat dari dosa kedua orangtuanya. Setidaknya, meskipun ibunya tak mau merawatnya, Faustino tidak ingin menambah dosa dengan menelantarkan. Faustino ingin bertanggungjawab,  membesarkan dengan layak.

Sekarang bayi itu ada di sini, dalam dekapanku. Setelah enam belas tahun lalu aku membuat keputusan besar meninggalkan mereka.

“Mama,” Emilia menatapku dengan pipi basah. “Bertahun-tahun aku rindu pertemuan ini. Aku sering mimpi kita sama-sama tapi mama selalu menghilang.”

Tenggorokanku terasa sakit. Bagaimana pun juga, waktu menumbuhkan rasa cintaku padanya. Aku memberinya kasih sayang sama besar, seperti aku menyayangi Antoni dan Carolin.

“Mama juga merindukanmu,” aku mengusap pipinya yang basah.

“Kami sering bercerita tentangmu.” Carolin menyahut. “Bagaimana kabar papa?”

Pertanyaan itu menyengatku.

“Papa baik. Menitip salam untuk kalian,” Emilia mengusap pipinya. “Antoni mana?”

“Kakak kerja. Malam biasanya baru datang. Kerja di perkebunan sawit.”

“Aku membawa berkarung-karung pertanyaan sejak dulu,” kata Emilia. “Tetapi menemukan kalian nyata di hadapanku, pertanyaan-pertanyaan itu lenyap.” Dia memandang kami bergantian. “Rasanya lega luar biasa. Oh, Carol.”

Sekarang, air mataku tak terbendung. Aku melihat gerakan tulus penuh kerinduan dari Emilia saat memeluk kami. Apakah itu artinya, Faustino tidak menceritakan siapa dirinya?

“Mama. Tahun-tahun tanpamu begitu berat—“ Emilia menekan ujung matanya. “Tapi aku tidak pernah menangis. Sekarang, bertemu kalian airmataku malah tumpah.”

Aku tidak menampik, kalau kami juga harus melalui hari-hari berat pasca jajak pendapat itu. Membawa Carolin dalam gendonganku, dan menggandeng Antoni. Saking ketakutan, aku bahkan mengikat pergelangan tangan Antoni dengan kain yang kuikat di pinggangku.

Di barak pengungsian Atambua aku tidak berhenti lama. Begitu ada rombongan menuju Kupang, aku mengajak anak-anak bergabung bersama mereka. Kami naik kapal menuju Jawa. Aku memang pergi tidak untuk menjadi pengungsi sementara yang kemudian kembali pulang. Aku berjalan ke barat karena harus melanjutkan kehidupan.

Bagiku, cukup sudah takdir kebersamaan dengan Faustino dan Emilia. Aku tahu segala risiko yang harus kutanggung. Membesarkan Antoni dan Carolin. Ketika orang-orang memilih integrasi karena tetap ingin bergabung di bawah NKRI, aku memilih integrasi karena ingin merdeka dari tekanan batin yang dilakukan Faustino kepadaku.

Aku memutuskan berhenti di Surabaya. Kusewa kamar kecil tak jauh dari Pasar Turi. Aku melapor kepada pemilik kos dan RT setempat siapa diriku. Bukan meminta belas kasihan, aku hanya ingin menjadi warga yang  baik. Semua itu sudah kupikirkan masak-masak sebelumnya. Dengan begitu, kuharap Antoni dan Carolin bisa mendapat hak pendidikan yang sama sebagaimana anak-anak Indonesia. Benar saja, mereka menerimaku dengan ramah.  Carolin diterima di SD Negeri tak jauh dari tempat kos. Tapi, Antoni tidak mau sekolah lagi. Dia bersikeras ingin membantuku.

Ada masa dimana setiap hari aku berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kerja. Apa saja kulakukan. Dari membantu di warung. Tukang sapu, mencuci setrika dari rumah ke rumah, bahkan menjadi pemulung. Hingga akhirnya aku menetap menjadi pembantu rumahtangga dengan waktu kerja dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Antoni kuminta menjaga adiknya di kos sekaligus mengantar jemput sekolah. Kubilang padanya itu tugas mulia. Memang benar seperti itu, bagiku Antoni adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaga kami. Bahkan hingga hari ini. Antoni masih betah melajang, karena baginya, yang nomor satu dalam hidupnya adalah aku dan adiknya.

Pernah kubilang padanya, dia berhak bahagia. Menyuruhnya jatuh cinta dan membangun masa depan. Tapi jawabnya, “Kebahagiaanku saat ini mama dan Carol. Aku tak perlu memaksakan hidup bersama orang lain dan berpura-pura bahagia.”

Kadang aku merasa bersalah pada Antoni, tak bisa mengantarkan ke jenjang pendidikan yang tinggi. Tapi aku percaya bahwa perjalanan kami telah mendidiknya menjadi lelaki dewasa yang bertanggungjawab. Dia juga yang mengusulkan agar kami ikut program transmigrasi demi masa depan Carolin.

Barangkali memang garis takdir, atau  balasan kasih sayang yang diberikan Tuhan atas usaha dan doa kami. Di tempat ini, kami punya rumah yang menjadi milik kami seutuhnya. Memiliki pekarangan  setengah hektar dan satu setengah hektar lahan garapan.

Carolin langsung diterima menjadi guru. Sebelumnya dia telah menyelesaikan pendidikan di Unesa. Sedangkan Antoni bekerja keras menggarap lahan. Dia begitu bangga menjadi petani katanya. Sebenarnya, menggarap lahan mentah bukan hal mudah. Semua warga mengeluhkan itu. Tahun pertama benar-benar ujian. Hingga penghujung tahun kami belum mendapat hasil panen apapun. Banyak warga trans yang pulang kampung karena merasa putus asa. Tapi bagi kami, di sini rumah terakhir.

“Wow! Mama masih menjahit?” Emilia menunjuk mesin jahit di dekat jendela.

“Untuk melatih mata tua.” Aku tertawa.

Kami sudah duduk di ruang tamu dan melanjutkan cerita.  Ya, di masa-masa sulit itu, Antoni bekerja di lahan sawit dengan gaji yang sangat rendah. Aku memasang plang di depan rumah untuk jasa menjahit. Namun karena kami semua berada di musim paceklik, tak ada seorang pun  datang untuk menjahit baju.

Baru dua tahun ini mulai ramai. Aku melayani pesanan menjahit sekaligus menyediakan bahan.  Pelangganku bisa memilih modelnya, dan aku akan mencarikan kain ke pasar Mundu Malaysia.

“Wow, cantik-cantik.” Emilia melihat baju-baju di gantungan. Saat itu aku baru sadar ada orang lain diantara kami.

“Oh maaf sampai lupa, kau…?”

“Abilio, Tante.” 

Kami berjabat tangan.

“Oh Tuhan, aku pangling.”

“Beda ya, Ma? Main film dia.”

“Oh artis ya?”

Pemuda itu tersenyum sambil menggeleng.

Emilia kembali duduk di sampingku. Lalu dia bercerita suasana di pengungsian, dan bagaimana dia memaksa papanya ke Atambua untuk mencariku.

“Ada titipan dari papa.” Emilia membuka tasnya.

 Dadaku berdenyut. Aku tidak mengharapkan apapun dari Faustino. Hidupku baik-baik saja tanpa lelaki itu.

“Ada kaset di dalam.” Emilia menyodorkan tape recorder kecil. “Tapi sebelum mama memutarnya, aku ingin tunjukkan sesuatu dulu. Bil, bisakah kau meninggalkan kami sebentar?”

“Tentu. Aku sudah tidak sabar ingin memotret pemandangan luar.”

            Emilia tertawa. “Bawakan aku foto yang banyak.”
*** 

Kami duduk berdua setelah kepergian Abilio. Carolin sibuk di dapur. Emilia mengambil ponsel, menyentuh layarnya, dan membiarkan di telapak tangannya.
“Pergilah. Dia tetap mamamu. Orang yang bisa mendiamkan tangismu saat kecil. Satu-satunya orang yang bisa memahamimu saat kau merajuk.”
Sekujur tubuhku kaku. Meski  enam belas tahun tak mendengarnya, tetap saja aku  mengenalinya.
“Papa tidak ingin bertemu mama?”
“Keadaan tidak lagi sama, Emili.”
“Tapi selama ini papa tak pernah mencari pengganti mama?”
“Itu bukan tujuan hidup papa.”
Suara itu terdengar jelas dalam keheningan kami.
“Papa masih mencintai mama, bukan?”
Aku menahan napas.
“Untuk apa mempertahankan orang yang kita cintai, kalau ia tak bahagia bersama kita?”
Tanpa kuminta, gulungan masa lalu  menghantam ingatanku. Cinta. Bahagia. Luka. Lukaku memang sembuh seiring waktu. Kami melalui masa sulit untuk merekatkan retakan-retakan biduk rumahtangga. Saat layar kembali terkembang, aku hamil. Tuhan menghadiahi kami Carolin. Hingga bertahun-tahun hidup kami kembali normal.
Tetapi aku lupa, bahwa waktu bisa membawa kembali yang telah terjadi. Suatu malam, di tengah suasana Timor Timur yang tak menentu, Faustino mengatakan, bahwa wanita yang tak ingin keketahui siapa namanya itu, ingin bertemu dengan Emilia.
Awalnya, aku tidak masalah saat mengetahui mereka kembali bertemu dan menjalin komunikasi. Tidak masalah juga kalau Emilia bertemu dengan ibu kandungnya. Tetapi, kalimat Faustino yang mengatakan bahwa kami harus berlaku adil. Bahwa selama ini kami telah memisahkan wanita itu dengan putrinya, bahwa Emilia berhak punya kehidupan yang normal. Aku sungguh-sungguh tidak terima.
Apa maksudnya? Bagaimana yang terjadi sesungguhnya? Faustino yang membawa bayi itu, atau ibunya yang tak ingin  merawatnya? Dan tentang kehidupannya yang menderita karena tak bisa bersama putrinya, apakah Faustino pikir aku bahagia menerima semuanya?
Jadi, saat itu aku curiga, pertemuan mereka, lebih dari sekadar pertemuan biasa. Tetapi bisa jadi mereka mengulang masa lalu yang sama. Dan aku tidak mau mendapat luka yang sama. Sebab itulah aku memilih pergi.
“Mama…” Emilia menyentuh lenganku. Aku mencoba tersenyum meski pipiku terasa kaku. “Aku memahami rasa kehilangan papa atas kepergian mama. Papa bahkan menunggalkanmu dalam hidupnya. Berkali-kali kukatakan aku siap jika dia menikah lagi. Tetapi berkali-kali pula dia menolak.”
Emilia meremas tanganku.
“Karena cintaku pada mama dan papa sama besarnya, itu sebabnya aku mencari mama. Juga Antoni dan Carolin.”
“Mama minta maaf. Karena keputusanku, kalian jadi terpisah satu sama lain.”
“Kita semua korban sejarah, Ma. Banyak juga yang mengalami nasib seperti kita. Terpisah karena pilihan. Bill juga, belum lama bertemu dengan keluarganya yang di Bandung.”
            Gestur Emilia berubah santai. Tapi aku masih terus bertanya-tanya, benarkah Faustino tak pernah cerita kenyataan yang sesungguhnya pada Emilia?
            “Tapi lihatlah, Ma. Betapa kompaknya aku dan Carolin. Kami sama-sama menjadi guru. Itu cita-cita kami waktu kecil.”
            “Kalian memang anak-anak hebat yang membanggakan.”
            “Papa dan mama yang telah mendidik kami dengan hebat.”
            Aku menelan ludah, tidak tahu harus senang atau sedih.
            “Jadi, apa mama tidak ingin dengar pesan papa di kaset itu? Aku sangat penasaran, kalau boleh tahu.”
            “Oh, tentu saja boleh.” Tapi aku tidak tahu apa yang dikatakan Faustino dalam rekamannya. Apa akan ada hubungannya dengan Emilia atau tidak. Dan aku sungguh-sungguh tidak percaya, kalau sampai detik ini Emilia belum tahu siapa ibu kandungnya.
            “Emili.” Aku menyentuh lengannya. “Waktu telah membuat kau tumbuh dewasa, dan kami para orang tua menua.” Aku bingung menemukan kalimat yang tepat. “Aku tidak tahu apa yang dikatakan papamu, dan apapun itu, aku ingin kita menyikapinya secara dewasa.”
            Aku menangkap raut cemas di matanya. “Tentu,” ucapnya terdengar gugup.
            “Ayo putarlah.”
            Emilia menekan tombol play. Jari-jari kami bertaut dalam suasana yang sunyi. Aku bisa mendengar gesekan pita berputar.
            “Mira,” suara berat itu memecah hening. Kami sama-sama memandang tape recorder seakan-akan pemilik suara ada di sana.
            Aku menahan napas menunggu lanjutan kata Faustino.
            “Apa kabar?” Sesaat jeda. “Aku minta maaf, Mira.” Kembali hening. “Aku tahu, kesalahanku pantas untuk tidak dimaafkan. Kepergianmu menyadarkan betapa aku ini lelaki  bodoh. Aku tak bisa membedakan mana cinta dan nafsu. Aku menerima rasa sakit dan kehilangan sebagai hukuman. Seringkali aku disergap kecemasan yang membuatku menjadi lelaki pengecut. Ayah yang pengecut. Aku tidak bisa membayangkan, setelah kehilangan kalian, lalu harus kehilangan Emili.”
            Aku dan Emilia saling berpandangan.
            “Sekali lagi kukatakan, Mira. Bahwa dia hanya datang ingin membawa Emili. Tetapi dalam situasi yang tidak menentu seperti itu, aku harus mengambil keputusan yang adil untuk putriku. Tak bijak rasanya, menyerahkan Emili pada orang yang selama ini asing dalam hidupnya. Dia dalam suasana duka karena kepergian kalian. Aku pun tidak sanggup harus menjelaskan semuanya pada Emili. Aku tidak sanggup melukainya. Sebab itu sama saja melukai diriku sendiri.”
            Tangan Emilia dingin, dia melepaskan genggamanku.
            “Kau tahu, aku mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada Emili. Dia begitu memujaku, hingga ketika kau pergi, dia dengan suka rela memilih bersamaku. Aku tak sanggup melihatnya terluka karena orang yang dia percaya adalah pendosa.  Aku mohon, Mira, katakan semua padanya. Bagaimana pun, dia telah dewasa. Dia berhak tahu siapa sebenarnya dirinya.”
            “Ap-ap, apa ini?”
            Aku menatap Emilia yang gemetar. Genangan air di matanya siap tumpah. Aku meraih tangannya. “Emili.” Demi Tuhan, rasanya aku pun ikut membeku. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Faustino sebegitu pengecut hingga menyerahkan hal besar ini kepadaku.
            Berkali-kali  aku menghela napas. Mungkin benar aku telah berdamai dengan masa lalu. Aku menyebutnya, telah selesai dengan diriku sendiri. Bagaimana pun juga, aku menerimanya sebagai ujian yang harus aku jalani, yang pada akhirnya aku merasa kuat dan lapang saat semua kupasrahkan pada Tuhan.
            Tetapi, mungkin, ketika Faustino benar-benar menyadari kekeliruannya, tentu tidak mudah bagi lelaki itu melupakan begitu saja. Karena sudah pasti, perasaan bersalah akan tersandang di punggungnya. Ya, aku tahu dia berada di posisi sulit. Tetapi saat ini, tentu Emilia pihak yang paling merasakan sakit.
            “Aku kira papamu sudah menceritakan semuanya?” kataku hati-hati.
            “Rahasia besar macam apa ini?” Tatapan Emilia menuntut jawaban.
            “Ini yang kubilang, bahwa kita harus menghadapinya dengan dewasa.” Aku menggenggam tangannya. Lalu kuceritakan pertama dia datang malam itu. Aku tidak mau menutupi apapun, bahkan sakit hatiku.
Meski pada akhirnya aku mencintai Emilia. Menyayanginya seperti darah dagingku sendiri. Tetapi, semua belum usai, hingga sakit kedua yang menjadi sebab utama aku pergi.  Sebab jika yang dimaksud Faustino kehidupan sempurna Emilia adalah saat dia tinggal dengan kedua orangtuanya, maka saat yang sama, memang aku yang harus pergi.
 Kukatakan juga pada Emilia, kalau aku sungguh-sungguh tidak tahu siapa ibu kandungnya. Bahkan namanya. Aku memang tidak ingin tahu dan tidak mau mencari tahu, sebab aku tak siap membenci. Cukup aku menerima Emilia hadir sebagai takdir yang aku sayangi. Ya, aku mengatakan semuanya, karena bagiku Emilia berhak tahu.
            Sebenarnya, kepada Antoni dan Carolin aku juga cerita. Bukan aku ingin membagi sakit hati. Sekali lagi, anak-anak berhak tahu kenapa orang tua mengambil jalan yang mungkin membuat mereka bertanya-tanya. Aku katakan pada mereka bahwa aku tidak harus mendapat pembenaran atau simpati dari kisahku.
Tentu saja aku tidak mengajak melakukan penghakiman. Tetapi  aku ingin mereka mengambil pelajaran. Bahwa dalam hidup ini, hal-hal tertentu, kekeliruan dari kesenangan sesaat yang diambil seseorang, bisa jadi membuat banyak orang terluka.
“Oh Tuhan,” Air mata Emilia jatuh di punggung tanganku. Aku menyekanya. Tidak seperti saat datang, bagaimana dia memancarkan kecantikan dan percaya diri. Kini, aku bisa dengan jelas melihat luka dari matanya.
“Aku berharap ini mimpi.” Emilia membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan.
Kami saling diam. Bermenit-menit aku tak mengatakan apapun. Bukan aku tidak mau menghibur dan menguatkan Emilia, tetapi menurutku seseorang yang baru saja menerima hal besar dalam hidupnya, butuh waktu untuk mencerna. Aku yakin, cepat atau lambat Emilia akan memahaminya. Dia pasti tahu langkah apa yang akan diambil.
[Bersambung]
 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...