Senin, 15 Juli 2019

Bertemu Ibu Kerapu Karang


"Aku bertemu ibumu kemarin. Kami bicara di tepi sungai, di seberang masjid. Ibu bilang begini: sepupumu itu sangat menyayangi ibu. Ibu bisa merasakannya," kata Kepiting Sawah suatu sore.

Kerapu Karang hanya diam.

"Ibu masih cerita banyak hal. Masih tentangmu. Kau tahu, beliau begitu bangga padamu. Lalu beliau mengajakku pergi dari tempat itu karena orang-orang datang untuk sholat Jumat."

Kerapu Karang masih diam.

"Kau tidak percaya padaku? Ya itu tidak masalah, mungkin kau memang sulit untuk mempercayaiku."

"Percaya," jawab Kerapu Karang.

"Terima kasih...."

Tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Kepiting Sawah tahu, kadang beberapa hal membuat seseorang tak mampu menemukan kata-kata yang panjang. Rindu misalnya. Sering menyesakkan, hingga membuat seseorang hanya diam.


Senin, 08 Juli 2019

Pertanyaan Kerapu Karang


"Kamu cerita apa ke temenmu. Sampe mereka mengintai tempat tinggalku?"

Pertanyaan Kerapu Karang pagi itu membuat Kepiting Sawah tercengang.

"Jangan gitulah!" kata Kerapu Karang lagi.

"Nggak ceritaaaaaaa!" Seru Kepiting Sawah dengan vokal 'a' yang panjang, berharap bisa meyakinkan.

"Sungguh!"
"Ngapain aku cerita-cerita?"
"Iih emang aku cerita apaaan?"
"Mungkin saja mereka melihatmu menarik tambang yang diikat ke pohon tempo hari."
Kalimat Kepiting Sawah sambung menyambung. Kerapu Karang hanya diam.

"Kau ngga percaya ya? Ya mungkin kau emang ngga pernah percaya sama aku.
Harus kubuktikan pakai apa juga ngga ada bukti.
Aku minta maaf. Sungguh."

Kepiting Sawah menunggu Kerapu Karang bicara. Tetapi tak ada jawaban apapun.

Hingga matahari sampai ke ubun-ubun. Hingga senja datang dan hilang.
Tidak ada suara Kerapu Karang.
Kepiting Sawah merunut kembali kesalahan apa yang telah dibuatnya. Dia berpikir hingga tertidur. Hingga malam menua dan dini hari tiba.

Kepiting Sawah ingin bertanya apakah Kerapu Karang marah? Tetapi dia tahu, kalau memang sepupunya itu ingin diam dia tak bisa memaksa bicara.

Jadi, Kepiting Sawah hanya melihat dari jauh tempat tinggal Kerapu Karang, menghela napas panjang, kemudian melakukan pekerjaannya sehari-hari.[]

Senin, 01 Juli 2019

Kerapu Karang Mencari Caption


Suatu petang, Karapu Karang berdiri menghadap lautan. Matahari seperti bola pingpong di atas horison.

Ia membekukan selebar kartu pos, kemudian memasang di dinding rumahnya.

"Kasih caption," dia memanggil Kepiting Sawah.

"Sekeping syurga yang jatuh," kata Kepiting Sawah.

"Terlalu berlebihan."

"Sepotong sore."

"Ah sudah biasa..., sepotong tidaklah kenyang. "

"Serakan pagang."

Tak ada lagi pertanyaan. Tak ada lagi jawaban.
No Caption. Kerapu Karang telah menemukan apa yang dicarinya.

Minggu, 30 Juni 2019

Tak Ada Hujan Bulan Juni


Langit biru sepanjang bulan paling tabah dalam puisi Sapardi
Kutunggu hingga senja terakhir, sebelum membalik kalender.

Pertanyaanku kemarin perihal hujan, belum kau jawab bukan? Sudah kubilang, itu bukan puisi.
Atau sepotong sungai kerontang yang kau kirim itu sebagai jawaban?

Tak ada gerimis yang singgah, hingga semua kelopak penanggalan Juni lepas.
Kita bicara perihal mega-mega, kampung halaman dan harum masakan dari dapur ibu.

Kamis, 27 Juni 2019

Ide Kerapu Karang


Suatu sore...
Kerapu Karang mengikat tali tambang ke batang pohon
Lalu dia berhitung mundur; lima, empat, tiga, dua, satu dan menarik kuat-kuat tali tambangnya itu.
"Kerapu Karang, kau sedang apa?" tanya sepupunya, si Kepiting Sawah.
"Mencari perhatian," jawabnya kelelahan.
"Tapi yang kau lakukan sedang menarik tambang sendirian!"
"Tapi dengan begini aku jadi mendapat perhatian."

Kepiting Sawah diam, lalu dia tertawa. Tawa yang terlambat. 

Rabu, 26 Juni 2019

Malam-Malam Kerapu Karang


Kerapu Karang tak bisa tidur.
Ia mengirim pantulan bulan tua kepada sepupunya, si Kepiting Sawah.

"Astaga, kau belum tidur? Padahal kelelawar hampir pulang ke sarang!" kata Kepiting Sawah yang terjaga.

"Apa kau punya kopi?" tanya Kerapu Karang.

"Aku hanya punya daun tembakau sisa pak tani. Kau bisa membuat api unggun."

Kerapu Karang membakar tembakau kering, sambil memandang bulan benjol hingga matanya terasa berat.[]


*Untuk Kerapu Karang: Jika tak bisa tidur, ingatlah kisah ini, pandang langit hingga mengantuk.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...