Jumat, 18 Maret 2011

SAKTI DAN SAPI REBO



Rebo adalah seekor sapi. Dia lahir di hari rabu, lahir premature dan tidak pernah mendapat kasih sayang ibunya. Sakti pemilik sapi memelihara dan merawatnya dengan telaten. Dia memerah susu kambing untuk di berikan pada Rebo. Dan ternyata ibu kambing menganggap Rebo sebagai anaknya. Mereka hidup damai di kandang.

Bagi Sakti, Rebo banyak memberi inspirasi. Bahkan Rebo pernah menjadi tokoh dalam pementasan drama di sekolah Sakti. Hingga suatu hari, ketika Rebo sudah besar diapun harus berpisah dengan ibu angkatnya. Namun ternyata, kenyataan lain datang, dia tidak hanya berpisah dengan ibu angkatnya. Tapi dia juga harus berpisah dengan Sakti.

Apa yang akan terjadi dengan Sakti dan Rebo?

judul buku: Sakti dan Sapi Rebo
penulis: Shabrina ws
ISBN:978-602-9079-13-5
Terbit: Februari 2011
Tebal: 108 halaman
Penerbit: Leutikaprio
harga:32000
pembelian ke: http://www.leutikaprio.com/

Tarapuccino


Kisah dari Batam

Sudah lama aku mendapat ticket ini. satu ticket gratis ke kota Batam. Sebenarnya bukan hanya Batamnya yang menarik aku sih, tapi karena seorang temanku, mbak Ria, mengatakan kalau di sana ada sebuah bakery yang sayang untuk di lewatkan.
Maka, tadi pagi, setelah aku mengisi halamanku dengan sepotong kisah pagi yang manis, aku segera terbang ke Batam. Sebenarnya aku ingin mengabari mbak Ria dan mengajak kopdaran, tapi rasa penasaranku sudah melebihi batas rupanya. Sehingga aku meluncur sendiri ke Bread Time Bakery, yang berada di salah satu sudut busyness center dan menghadap pasar tradisonal.
Memasuki ruangan yang bernuansa peach aku langsung disambut dengan aroma roti panggang dengan semerbak butter dan vanili.
Langsung ku pesan kue muffin dan secangkir tarapuccino bertabur bubuk kayu manis. Kusesap dengan mata terpejam. Hemm sepertinya aku tak mungkin meninggalkan cangkirku sebelum benar-benar kosong.
Beberapa detik kemudian aku menemui sepasang bakery owner Raffi dan Tara. Waw sepasang pengusaha muda yang mengagumkan. Tara yang manis, santun, cerdas dengan ide-ide jitu dalam mengembangkan Bread Time dan Raffi yang…ahai! Diam-diam mengagumi Tara.
Kukira Tara pun begitu, secara, kulihat mereka pasangan yang serasi. Namun Tara berbisik padaku kalau ternyata diam-diam Tara selalu memperhatikan salah satu pengunjung setia Bread Time yang selalu datang di pagi hari hanya untuk memesan Cinnamon Cappucino. “Hazel,” Begitulah dia menyebut namanya saat kami berkenalan.
“anda sering ke sini?”tanyaku
“tiap pagi.” Jawabnya cuek sambil terus mencoret-coret kertas di hadapannya.
“nuansa peach di sinilah yang membuat saya selalu ke sini setiap pagi. Nuansa yang membangkitkan kenangan saya kepada seseorang dari masa lalu”
Kembali aku menyesap tarapuccinoku. Aku tersentak ketika aku tahu Hazel kemudian menjadi bagian dari Bread Time.
Lalu kukunyah pelan muffin di mulutku. Dan kutemui peristiwa demi peristiwa terjadi di Bread time pasca bergabungnya sosok misterius itu. Aku menghentikan kunyahan muffinku saat Bread time nyaris hancur.
Segera kusesap kembali tarapuccinoku. Lalu kudapati peristiwa demi peristiwa kas kota Batam seperti yang selama ini kudengar. Barang-barang illegal yang diselundupkan. Juga mafia dan sindikat yang bikin merinding karena menggunakan segala macam cara untuk mencapai tujuannya. Iiih, aku benar-benar berada di Batam, kota hiruk pikuk yang menyimpan banyak rahasia.
Aku mengunyah suapan terakhir muffinku. Sulit kutelan, sebuah rasa kesedihan yang membuat mataku panas, terungkapnya sebuah rahasia tentang seseorang dari masa lalu Tara.
Buru-buru kusesap Tarapuccinoku tanpa sisa. Dan kutulis di catatan kecilku. Tidak rugi aku jauh-jauh datang ke sini. Kalau aku ke sini saat aku kuliah, pasti aku bermimpi menjadi Tara sang pemilik Bread Time. Keren gitu lho.
Hem…Kue, coffe, cinta, persaingan bisnis, illegal trading, diramu begitu cerdas dan manis oleh mbak Riawani Elyta dan mbak Rika Y Sari, menjadi secangkir tarapuccino yang nikmat. Ada sensasi luar biasa dalam setiap sesapannya yang melibatkan semua inderaku. Hebat!
Aku bangkit dari kursiku, bersiap pulang ke Gading Kirana. Kulirik selembar tiket bertuliskan:
Judul buku: Tarapucci
Penulis : Riawani Elyta dan Rika Y Sari
Penerbit : Afra publishing
248 delapan halaman, oktober 2010.

Sepotong senja di Dorowila


Kali ini, aku mendapat tiket pergi ke Bima. Sebenarnya sudah lama juga ingin ke sana. Tapi…aku memang sengaja mencari waktu kusus untuk jalan-jalan ke Bima. Saat aku tanya pada Akhi Dirman, apa yang perlu aku siapkan dalam perjalanan ini? katanya aku harus menyiapkan segulung tissu, kalau perlu lap mungkin.

Jadi, aku memang harus jalan-jalan sendiri tanpa Zaid dan Urfa.

Dan di sepotong senja yang menyisakan gerimis itu, aku menuju Dorowila-Bima. Di sepanjang jalan kuputar lagu Broery marantika-Pamit. *gak nyambung ya? Iya sih.
“Temui orang yang bernama La Hawa,” kata Akhi Dirman padaku.

Ya, tujuanku memang ingin menemui La Hawa, seorang yang setia dengan cintanya. Aku penasaran, kesetian dan cinta macam apa yang dipunyai wanita itu? Dia menjaga kesetiaannya dari bulan kecil, bulan besar, kecil lagi, besar lagi dan kecil lagi, hingga bulan berubah berulang-ulang, tak terhitung.

Aku turun dari kapalku, lalu kulihat seorang wanita yang memakai rimpu berdiri menatap laut. Pasti dia orangnya. Pikirku. Aku tak berani menyapanya.

Aku berjalan keliling Dorowila. Kusapa beberapa gadis berimpu yang sedang menumbuk padi di bawah Jompa. Kutanyakan padanya tentang La Hawa.
Lalu seorang menemani perjalananku. Sepanjang jalan sayup-sayup kudengar suara sarune. Lalu aku melewati Huma Haju jati, “di sanalah dulu La Hawa tinggal” ucapnya, aku berdecak kagum memandang Huma Haju Jati yang megah.

Lalu aku menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang menghabiskan persediaannya tissuku. Dan di ujung senja itu, aku melihat lipatan-lipatan cinta yang bisu. “sebab cinta tak harus berkata…” bisik seorang Ina pada anaknya di Jompa.

Lalu kuberanikan menemui La Hawa. Kudengar bisik lirihnya pada angin, dia ingin dijadikan batu saja, seperti La Nggini yang terus menanti La Nggusu kembali. Langgini yang berdoa pada Tuhan agar dirubah menjadi batu dalam penantiannya. Dia berharap suatu hari jika La Nggusu pulang, ia masih bisa mengenalinya.

Ah, aku tak berani menanyakan kesetian dan cinta macam apa yang dimiliknya. Yang aku tahu, berkali-kali aku harus mengusap pipiku yang basah. Lalu pelan-pelan kapalku meninggalkan pantai. Broery masih dengan Pamitnya.

Aku menaruh tiket dengan gambar perempuan berimpu itu di samping laptopku. Entahlah, dengan adonan dan bumbu apa Akhi Dirman meracik sajiannya. Yang jelas Akhi Dirman dengan piawai dan lembut, telah berhasil menyajikan kisah cinta dan kesetian yang dipadu dengan warna lokal yang eksotis.

Judul :Sebab Cinta Tak Harus Berkata
Penulis:Akhi Dirman Al-amin
Penerbit: Genta Press
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...