Rabu, 17 Agustus 2011

Angin Kecil

bukan tentang bunga, 
tapi tentang angin kecil yang menggerakkan bunga ini
seperti percakapan di sepotong pagi
ya,
ini tentang angin kecil
:)

Senin, 08 Agustus 2011

Bintang-Bintang Zaid

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak masuk sekolah lagi, hari kamis kemarin, saya tidak lagi menyiapkan hadiah berbungkus kado untuk Zaid seperti kemarin-kemarin. Zaid juga tidak lagi mengeluh tentang waktu berbuka yang lama. Bahkan saat saya tanya “Mau berbuka dengan apa?” dia menjawab “Apa saja yang penting makan.”
Saat menunggu berbuka, dia menggelar tikar kecil di depan rumah, lalu berbaring di sana bersama mobil-mobilannya.
Ketika ada temannya lewat dia buru-buru mengambil sepedanya dan mengayuh dengan semangat. Lalu saat pulang dia antusias bercerita tentang beberapa temannya yang makan dan minum sambil naik sepeda.
“Kamu pengen?” tanya saya
“Iya, tapi aku kan puasa” jawabnya polos.
“Hebat, Zaid bisa sabar menahan keinginan.” Ucap saya sambil memeluknya.
“Zaid sudah pinter ya belajar puasanya?” kata saya lagi, tapi tiba-tiba dia melepaskan diri dari pelukan saya,
“Lho? Aku kan puasanya bukan belajar, tapi puasa beneran.” Saya tersenyum.
“Oh iya, maaf. Zaid puasa beneran.”
“Eh, bintangku sudah lima.” Celetuknya tiba-tiba.
Ya, meskipun saya tidak selalu menyediakan  hadiah berbungkus kado, tapi saya tetap bertanya padanya setiap habis maghrib, mau bintang warna apa hari ini? Bintang-bintang itu ditempel di pintu, sebagai tanda puasa Zaid. Dan saya berharap itu akan menjadi kenangan yang indah dan Ramadhan menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Seperti jaman saya kecil dulu.

Kamis, 04 Agustus 2011

Bulan


kau bertanya tentang detak jam yang begitu lamban,Nak, mengingatkanku pada rasa yang sama puluhan tahun yang lalu
lalu kau menghitung berapa bintang yang kau punya
sedangkan aku menatap bulan sabit di atas kota kita, sambil bergumam, “Ramadhan seperti  berlari ya?”

Ramadhan Ceria


Bismillahirrahmanirrahim
Hari kedua Ramadhan, seperti judulnya. Zaid memang ceria.
“Hari ini sekolah kan?” Tanyanya sambil bersiap-siap. Sampai di sekolahpun dia tetap ceria dan langsung naik ke lantai tiga, tempat acara.
Ya, di sekolah Zaid, memang sedang mengadakan acara Ramadhan ceria yang pesertanya terbuka untuk anak-anak dari sekolah lain.
Acara yang pesertanya hampir 100 anak ini, di mulai dengan pembukaan, tilawah, sholat dhuha, mewarnai, menghias celengan, pembagian hadiah, dan lain-lain, dan ditutup dengan acara buka bersama.
Ya, buka bersama anak-anak TK ya jam 12. Hehehe…
Tapi, Zaid sepertinya senang banget melewatkan jam-jam di sekolah. Dia bilang, “Enak sekolah. Kalau libur tuh gak enak.”
 Dan malam harinya, setelah berbuka, dengan wajah ceria, dia meminta bintang warna hijau.
Ya, selain memberikan hadiah-hadiah (yang isinya susu dan makanan) saya juga memberikan 1 bintang untuk di tempel di pintu, sebagai tanda puasa Zaid.
Bintang itu saya buat dari kertas lipat/origami ukuran kecil. Jadi kalau mau bikin, tinggal tanya sama Zaid, minta bintang warna apa.

Selasa, 02 Agustus 2011

Hari pertama= Hati-hati

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, Ramadhan datang lagi. Selalu ada rasa yang tidak bisa dilukiskan.

Saya  memberi judul hari pertama adalah “Hati-hati”.

 Alhamdulillah sahur berjalan dengan lancar. Zaid juga makan dengan semangat. Setelah sahur, saya memberitahu hadiah yang akan dia dapat jika dia puasa sampai adzan dhuhur.  Zaid senyum-senyum dan berusaha menebak hadiah apa yang akan dia dapat.

Dan…saya siap-siap kalau hari ini akan menjadi hari yang berat bagi Zaid.
Jam 8, “ Aku boleh minum?”

“Boleh, tapi nanti kalau sudah adzan ya?”  jawab  saya.
Tapi mulai jam 10 sepertinya Zaid dah mulai lemes, bibirnya agak kering dan mengeluh lapar dan haus. Diganggu adeknya sedikit langsung marah dan teriak. Beberapa barang-barang diturunkan sehingga tiba-tiba ruangan seperti kapal pecah.

Saya menarik nafas panjang sambil istighfar dalam hati. Kadang anak-anak memang sengaja memancing kemarahan. Lalu, Saya menawari menggambar, dia tidak mau. Menawari membaca dia tidak mau. Saya ajak tidur, juga tidak mau. Akhirnya saya tawari main game. Dan Zaid menyambut dengan semangat. Jadilah kami main game bersama.

Tapi hanya bertahan satu jam dan kembali mengeluh lapar. Saya terus memberi semangat. Lalu saya ajak ke dapur, mempersiapkan masakan. Kupas bawang, potong-potong sayuran. Semua dilakukan di depan kulkas yang terbuka. Oh iya, menu berbuka yang murah dan sehat, tumis warna-warni. Brokoli, bunga kol, sawi, wortel, tomat, timun, selada yang saya beli dengan harga 6000 saja.

Dan, Alhamdulillah, Adzan berkumandang, mata Zaid berbinar. Dia makan dengan lahap, setelah berdoa berbuka puasa. Membuka hadiah yang isinya susu dan biscuit kemasan 1000-an. Setelah itu puasa lagi sampai maghrib, tapi sepertinya mencapai magrib tidak seberat saat mencapai duhur.
Sebenarnya banyak hal yang terjadi hari ini yang membuat saya –sangat hati-hati—harus diam sejenak, menarik nafas panjang, baca istighfar, senyum.

Dan tiba-tiba saya tertegun membaca status seorang teman di facebook:
"Di bulan ini..betapa hati-hatinya kita..karena Allah tidak butuh lapar dan hausnya orang orang berdusta, menggunjing, mencela dan ke sana kemari menabur bunyi kesia-siaan... dg harapan kehati-hatian itu terukir di bulan yang lain..tak membekas seperti jejak kaki di
pantai..yg akan terhapus bahkan dengan sekali sapuan ombak (Status Hasan)
Semoga, semoga, aamiin.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...