Ini novel ke-3 mbak Riawani Elyta yang saya baca. Setelah sebelumnya aroma dan lezat Tarapuccino melekat di otak saya berhari-hari. Tokoh Tara, seorang gadis cerdas, mandiri, namun agak keras kepala mampu mencuri hati saya. Juga kejutan manis di Hati Memilih, yang sekarang sudah best seller (selamat ya Mbak Ria). Maka jujur saja, Izmi dan Lila membuat saya penasaran. Apalagi yang akan dicerita mbak Riawani Elyta? Batin saya.
Di awal, saya langsung diseret dari tempat duduk ke suasana Bugis Street. Bertemu Izmi yang pagi-pagi sudah dapat masalah. Lalu ke Bedok Reservoir Rd, menemui Lila yang tertunduk lesu karena peningkatan kurs dolar yang melesat jauh. Pembuka yang keren.
Lalu, novel ini semakin asyik ketika sampai di Stamford College. Melihat gambaran mahasiswa di sana. Dan saya tak bisa melepaskan novel ini lagi ketika mengikuti Lila yang berjalan di antara gedung pencakar langit untuk mencari sebuah tulisan Hong Leong. Untuk apa coba?
Izmi dan Lila dipertemukan di bawah langit Singapura. Saat keduanya dihadapkan pada sebuah pilihan, bertahan, berjuang atau menyerah. Sebuah pertemuan yang menjadi awal persahabatan mereka dalam petualangan-petualangan tak terduga.




