Kamis, 08 November 2012

Karena Bahagia Milik Semesta



Sihok. Begitu orang-orang memanggilnya. Dulu, kami akan berlari saat melihat Si hok di kejauhan. Karena si Hok biasa mengejar anak-anak sambil berteriak, “Hook. Hook. Hook!” Kadang, kalau kami pulang sekolah dan tidak bisa menghindari dia, maka kami setengah takut setengah berani akan bertanya banyak hal pada si Hok. Itupun harus bersama teman-teman, dan menahan gemetar karena takut.
“Kemana Hok?”
“Hoook, hook!” begitu jawabnya, sambil berputar-putar, membuat gerakan seperti orang pasang kuda-kuda lalu terakhir dia akan menunjuk arah ke mana dia akan pergi.
Ya, Si Hok. Begitulah orang-orang memanggilnya. Tak banyak yang tahu, itu nama asli atau nama panggilan, karena dia hanya bisa mengucapkan satu kata “Hok!”.
            Yang kami tahu, Hok tinggal di lembah bawah, berkilo-kilo dari jalan raya. Tempatnya curam, dengan jalan tanah setapak dan belum ada listrik. Pekerjaan Hok sehari-hari adalah menjual daun jati. Ya, di desaku, daun jati masih laris, untuk bungkus tempe, bungkus makanan saat orang-orang mengadakan pesta pernikahan, juga untuk bungkus aneka dagangan di pasar. Biasanya dia akan memikul daun bersama ibunya yang sudah tua. Kadang ibunya ikut menggendong setali, kadang juga hanya jalan kaki.
Hingga suatu hari,  kami bertemu Hok yang pulang dari pasar. Namun Hok tak berjalan dengan ibunya. Dia berjalan dengan wanita  muda. Sepanjang jalan, Hok tetap bersuara “Hook, Hook.” Seperti biasanya. Sementara wanita di sampingnya memandangnya dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Di tangan mereka, ada beberapa lembar rupiah yang sepertinya sedang dihitung.
Hok tersenyum saat melewati kami, begitu juga wanita muda di sampingnya.
Dan begitu mereka sampai di kejauhan, Hok dan perempuan itu bergandengan tangan. Hingga pada akhirnya kami mendengar kabar, bahwa Hok telah menikah. Yang bersama dia itu adalah istrinya. Hok yang hanya bisa mengucap satu kata itu, menikahi seorang gadis yang hanya bisa tersenyum, tanpa bisa mengeluarkan satu kata pun. Banyak yang heran, banyak yang merasa kasihan. Banyak yang menyangsikan pernikahan mereka.
“Orang bisu kok nikah dengan orang bisu?”
“Orang gak waras kok dinikahkan!”
Begitu komentar orang-orang.  Namun dari cara mereka—Hok dan istrinya--   saling memandang, dari cara mereka tersenyum, dari cara mereka bergandengan dan berjalan, tersirat kebahagiaan yang tak perlu dikatakan. Mungkin, inilah yang dikatakan bahwa cinta dan bahagia milik semesta. Semua berhak merasakannya.
Sore itu ketika aku pulang kampung, aku belajar sebuah cinta dari Hok dan istrinya.

6 komentar:

  1. aih mbak, manis sekali ceritanya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, Mbak Dey makasih dah baca :)

      Hapus
  2. hmmm, dan saat ini
    saya pun ikut memetik
    pelajaran
    dari share tentang
    Hok dan istrinya
    makasih banyak ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir dan baca :)

      Hapus
  3. pelajaran berharga dari kisah ini. Salut sama mba Sabrina.
    mbak aku mau tanya nih, ttg penulisan novel untuk di ajukan karyanya setelah di print out.
    biasanya mbak menyertakan kata pengantar apa tidak ??
    ters msalah sinopsisnya itu cerita dari kesluruhan yg dtujukkan pada penerbit? atau sprti yg dicover belakang buku?
    dtunggu jawabannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mbak apa kabar? :)
      Iya Mbak sinopsis sangat penting. Sinopsis keseluruhan cerita. Trus halaman2 awal juga sangat menentukan. Jadi halaman2 awal harus menarik. begitu yg pernah saya baca :)
      Salam hangat, sukses untuk Mbak ya.
      Makasih sudah mampir dan baca :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...