Jumat, 04 Oktober 2013

Bersandarlah di Bahuku: Eni Martini





Seorang editor fashion yang cantik, smart, populer, dan trendi menikah dengan pemuda ganteng nan sopan, teduh, dan keturunan priyayi ningrat Keraton Yogya. Bisakah hot pants Guess sang editor diganti gaun batik nan bersahaja? Pumps, ankle boots diganti selop dan sepatu berhak sederhana? Wine diganti dengan secangkir teh hangat? Kafe dan bar diganti dengan galeri-galeri batik dan restoran ala keluarga?

Ah, sepertinya sang editor menggadaikan hidup atas nama cinta.

***

Nadia Lubis merenungkan kilas balik perjalanan hidupnya dengan Wahyu Handjojo yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Sungguh, ia merasa telah kehilangan hidupnya, juga dirinya. Hidup bersahaja dengan keluarga ningrat telah mengebiri bagian dirinya. Ia merasa seperti boneka yang hanya bisa mengiyakan tanpa pernah diperhatikan keinginannya.

Sesaat, Nadia ingin menjauh dari wahyu. Namun, sebagian dirinya masih mencintai laki-laki itu. Saat itu, muncul Sam, pria yang masih mencintai dan mengharapkan Nadia. Tentu dengan bersama Sam, Nadia tidak lagi harus memakai batik, leluasa mengenakan mini dress, bisa meneguk wine, dan puas mengisap Mild. Tapi, apakah otak Nadia sebebal itu menukar cinta dengan mini dress, hot pants, heels, dan pumps?
***
Itu adalah sinopsis yang tertulis di sampul belakang novel ini. Menarik? Lebih menarik lagi karena dulu waktu novel ini masih draf  saya sempat membacanya. Ini kedua kalinya saya membaca novel Mbak Eni Martini. Dulu saya membaca Relasi Kata Tanpa Rupa, yang melempar saya bernostlagia ke tahun yang sama dengan setting waktu di novel itu.

Maka ketika novel ini terbit saya memasukkan dalam daftar belanja. Sayangnya, cerita memang berbeda dari draf sebelumnya. Tapi itu tidak masalah.
Lewat Bersandarlah di Bahuku, Mbak Eni menitipkan pesan pada pasangan muda  (suami istri) bahwa pernikahan bukanlah seperti kisah dongeng yang setelah malam pesta berakhir maka “…meraka akan bahagia selama-lamanya.” Karena, ketika hari baru tiba, itulah kehidupan sesungguhnya baru dimulai. Bangun tidur dengan status dan tanggung jawab berbeda. Kontrak dunia akhirat yang diikrarkan atas nama Tuhan.
Sebelum menikah, kadang semua hal seakan bisa diselesaikan dengan cinta. Begitupun bagai Nadia. Dan memang, awalnya semua berjalan dengan indah. Sampai pada suatu hari,  bapak ibu mertuanya mendadak datang ke rumah Nadia karena ada acara keluarga. Padahal saat itu hari telah malam dan Nadia sedang berada di luar bersama teman-teman kantornya. Bagian ini, Mbak Eni menggambarkan dengan begitu nyata, saya seakan melihat adegan film dan bisa melihat dengan jelas ekspresi Nadia.

“Apakah istrimu tidak pernah kau beri tahu pakem-pakem berbusana di keluarga besar kita”
“Kita masih keturusan cucu Sampeyan Dalem Ingkan Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono, Kalifatullah ingkan kaping wolu yang harus melestarikan budaya Jawa. Termasuk cara berpakaian yang benar karena pakaian akan mencerminkan strata kita” (halaman 61) 

Saya senyum-senyum baca bagian-bagian ini, senang sakali. Benar-benar adegannya seperti nyata dan mendengar suara tokoh-tokohnya.
Begitulah cerita bergulir dengan hah-hal yang menurut keluarga Wahya begitu penting, sementara menurut Nadia hanya ada di dongeng-dongeng. Hingga akhirnya, perjalanan waktu membawa Nadia harus memasuki kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Hidup tidak lagi tentang dirinya. Namun menyangkut suaminya, ibu suami, ayah suami, keluarga besar. Maka, di sinilah konflik sesungguhnya dimulai. 

Nadia seperti hidup di sangkar emas, namun merasa otaknya dikebiri. Keluarga besar Handjojo, merasa sebagai orangtua yang hanya berharap terbaik untuk anak-anak mereka. Sementara Wahyu dihadapkan pada buah simalakama, orangtua yang harus dihormati dan dihargai atau Nadia cintanya sekaligus tanggungjawabnya.

Membaca novel ini seperti melihat film. Tokoh-tokohnya hadir dengan perannya sendiri-sendiri dan saling melengkapi, membuat cerita menjadi utuh. Tokoh favorit saya adalah Rama (baca romo) bapaknya Wahyu. “Istri itu tidak sekadar kanca wingking, walau posisinya seringkali di urutan kedua, Wahyu. Tapi juga untuk kelangsungan hidup keluarga” (Halaman 314)  

Entah kenapa di beberapa novel yang saya baca, saya justru menyukai selain tokoh utama. Seperti tokoh Mama Vio di novel Cinderella Sindrome-nya Mbak Leyla Hana, atau tokoh ibunya Yudha di novel Perjalanan Hatinya Mbak Riawani Elyta.

Kembali ke Bersandarlah di Bahuku, bahwa hidup itu memang tentang memilih. Terserah mau memilih apa. Namun yang tak boleh dilupakan adalah, bahwa ada konsekuensi dari setiap pilihan. 

Semoga novel ini membawa banyak kebaikan. Pesan-pesannya sampai ke pembaca. Dan memperberat timbangan amal kebaikan bagi penulisnya. :)

Judul buku: Bersandarlah di Bahuku; Find a Way Back into Love
Penulis: Eni Martini
Penerbit: Sabil
Cetakan I: Oktober 2012
Tebal : 370 halaman
ISBN: 978-602-7641-65-5



9 komentar:

  1. Aaamiin... sukkka deh.. selalu ada doa di akhir resensi mba Shab :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suwun Mbak Ley, sudah mampiir :)

      Hapus
  2. aku jadi pengen buku ini kemaren cuman pesen rainbow sama mba eni...

    BalasHapus
  3. nyebayangin dialog tokohnya tentang baju tadi, mba. aiihh ga kebayang njomplangnya kalo ada dua manusia beda strata gini, mba. keluarga pasti rewel banget hehe.tapi namanya sudah menikah pasti tau konsekuensi pilihan pasangan hidupnya ya. makasih resensinya mba shabrina :D

    BalasHapus
  4. Mba Ila..soalnya bajunya Nadia...PARAH :D

    BalasHapus
  5. Dalam buku ini ada dua tokoh yang selalu menjadi kecintaan pembaca, menurut mereka: WAHYU DAN ROMO ^_^


    Mba Sarah, novel-novelku sudah readystock semua yaa, tinggal punya Mba Ela dan Lyta

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...