Jumat, 06 Februari 2015

Mawar Biru [Pikiran Rakyat 1 Februari 2015]




“Kutanam mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak ayah akan datang melihat bunganya.”
Aku tidak pernah melupakan satu katapun dari kalimat itu.  Kalimat yang terucap saat senja keemasan. Setelah beberapa saat ayah jongkok di pojok halaman, menaman sebatang bunga mawar yang bisa kuhitung daunnya.
Aku diam saja ketika ayah membawa kepalaku dalam dadanya  yang mendamaikan, dan mendekapku lama. Aku, bahkan bisa mendengar detag jantungnya saat itu. Detag  yang cepat.
Sewaktu kutatap mata ayah, ada semburat lain di sana. Mata itu sepertinya ingin bicara. Tetapi setelah beberapa lama, tetap saja tak ada suara dari bibir kering dan sejak tadi gemetar itu. Hingga, ayah pergi tanpa berucap sepatah katapun,  setelah mencium kepalaku beberapa kali. Samar kudengar isakan. Ingin sekali kulihat apa ada air yang jatuh dari matanya. Namun langkah lebarnya membawanya dengan cepat lenyap di ujung jalan.
Aku tak pernah tahu kalau itu adalah senja terakhirku bersama ayah. Melihatnya, dan menyembunyikan kepalaku dalam dekapan dadanya yang hangat.
Yang aku tahu, ayah selalu pergi di setiap senja? dan akan datang di senja berikutnya? Jadi aku tak pernah berpikir tentang apapun saat itu, kecuali dekapannya yang lama, tatapannya yang seakan bicara, dan tentu saja bunga mawar di pojok halaman.
***
Senja esoknya aku duduk di samping mawar yang bisa kuhitung daunnya. Penuh harap aku menunggu ayah muncul dari ujung jalan, dengan langkahnya yang panjang dan mendekatiku. Meraih kepalaku, membawaku ke pelukannya dan menciumku.

Namun berkali-kali bayangan mendekat, yang muncul bukan ayah. Tapi orang-orang yang kemudian memandangku lama. Sebagian mereka bergumam yang bagiku mirip dengan dengungan lalat, “Kasihan…kasihan…” kemudian pelan-pelan mereka pergi.
Lalu hari-hariku hanya berkutat di pojok halaman. Dari matahari memanjangkan bayang-bayangku di sebelah barat, hingga matahari memanjangkan bayanganku di sebelah timur. Aku tak pernah meninggalkan mawar itu, yang daunnya mulai jatuh satu-satu.
Senja itu, ayah tidak pernah mengatakan kalau daun mawar itu akan jatuh satu-satu hingga habis tanpa sisa. Ayah hanya mengatakan bahwa kelak, dia akan datang melihat bunganya. Ayah juga tidak memberitahu apakah kalau batang mawar kehabisan daun itu artinya bunga akan mati, dan aku tak usah menunggunya lagi? Atau…aku harus terus menyiramnya hingga tumbuh tunas-tunas daun baru?
Tidak, aku tidak pernah mengerti. Yang aku tahu hanyalah, kelak ayah akan datang melihat bunga itu. Dan aku terus berharap, tidak lagi pada sosoknya yang tiba-tiba muncul di suatu senja dari ujung jalan. Tapi aku berharap tunas-tunas baru dari batang mawar itu.
Lalu malam-malamku kemudian menjadi malam-malam yang panjang. Bahkan aku pernah bangun saat purnama  tepat di atas kepala, hanya untuk duduk di pojok halaman, melihat kapan mawar itu kembali memunculkan daunnya.
***
“Kutanam mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
Rasanya, masih segar dalam ingatan, masih terngiang dalam pendengaran kata-kata ayah di senja itu. Kepadaku, ya, hanya kepadaku.
Yang tak pernah aku tahu, kenapa ibu waktu itu tidak mencegah ayah. Apakah ibu juga tidak tahu, sama seperti diriku? Atau ibu seperti biasanya, yang memang tak pernah mengantar ayah pergi di setiap senja?
Aku hanya tahu, setelah senja hilang dan berganti malam, kulihat ibu masih menghadap halaman belakang. Pundaknya terguncang-guncang. Tidak ada suara. Dan aku, aku tak berani untuk memanggilnya, atau mendekatinya. Apakah ibu begitu karena ayah? Aku juga tidak pernah tahu, karena yang aku tahu, ibu akan begitu setiap ayah pergi di senja hari.Dan ibu baru akan masuk ke dalam rumah saat azan magrib terdengar. Mengusap matanya berulang kali, mata yang  memerah dan basah.
***
“Kutanam mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
Kata-kata itulah yang membuatku selalu bertahan di sini. Di pojok halaman, berharap senja membawanya kembali. Aku masih ingat di senja pertama saat mawar itu muncul daunnya satu. Bagiku itu seperti senja  yang penuh harapan.
Tiba-tiba semangatku kembali meluap-luap setelah beberapa senja aku diselimuti kekhawatiran. Bagiku, saat itu, munculnya tunas baru dari batang mawar adalah kembalinya sebuah harapan. Harapan akan muncul lagi daun-daun berikutya, lalu akan muncul bunga mawar biru yang selalu membuatku penasaran. Bahkan lebih dari itu,  karena mawar biru berarti ayah  akan datang.
Aku juga tidak pernah melupakan bagaimana sulitnya aku membahasakan perasaanku saat kuncup mawar pertama muncul. Aku bahkan tidak tidur semalaman.
“Masuklah, nanti kamu sakit” ucap ibu dengan selimut garis-garis hitam putih yang sudah kusam dari ambang pintu. Aku menggeleng. Aku tak mau meninggalkan bunga itu. Aku takut jika aku tidak menjaganya, akan ada tangan jail yang mengambilnya. Atau…akan ada binatang nakal yang memakannya.
Ibu, wanita itu tidak pernah memaksaku. Meski dia tidak pernah bicara banyak, aku tahu ada banyak kalimat yang tersimpan di matanya. Seperti juga setiap kali aku enggan pergi dari pojok halaman. Dia akan masuk  ke dalam rumah, mengambil sarung kumal dan menaruh di punggungku.
Dan di senja yang entah ke berapa, aku memotong beberapa batang mawar. Kubuat lubang di sampingnya lalu kutanam batang-batang mawar itu. Persis seperti dulu ayah  menanamnya. Dan sejak senja itu aku selalu melakukan hal yang sama, dengan rasa percaya yang sama. Bahwa dia, lelaki yang kupanggil ayah itu, akan datang dari ujung jalan. Meski entah kapan.
***
“Kutanam mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
Aku bahkan sudah tidak bisa lagi menghitung senja. Sama seperti aku sudah tidak bisa lagi menghitung bunga-bunga mawar itu. Beberapa kali orang-orang datang, menawar-nawar ingin membeli mawar-mawar itu, aku tak pernah memberikannya. Mawar itu bukan dagangan. Mawar itu tidak akan aku perjual belikan. Bahkan ketika ada orang yang menawarnya dengan lembaran-lembaran warna merah yang banyak. Aku tetap tak bergeming.
Ingin rasanya aku bertanya kepada ibu. Kenapa ayah tak jua datang? Aku juga ingin bertanya apakah ibu yakin ayah baik-baik saja? Apakah ibu tak punya rindu seperti yang kurasakan? Sehingga ibu tak pernah mau sekalipun menemani aku duduk di dekat mawar-mawar itu saat senja?
Ah! Tapi toh semua itu hanya keinginan saja. Terlalu sulit aku mengisyaratkan tumpukan tanya itu pada ibu. Karena ucapan-ucapan itu hanya sampai tenggorokan dan lidahku sulit untuk kugerakkan. Apalagi yang kupilih selain diam? Sementara ibu justru lebih memilih menghadap halaman belakang dengan sesekali pundaknya terguncang-guncang.
***
“Kutanam mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
Senja ini, halamanku penuh warna biru. Bunga itu mekar hampir bersamaan. Dan aku tahu, aku tak perlu khawatir kalau akan kehilangan bunganya. Karena masih banyak kuncup-kuncupnya.
“Mawar biru?”
Aku mencari suara itu, suara yang kukenal, suara yang tidak pernah kulupakan. Aku sudah tidak bisa lagi menghitung berapa senja dia pergi. Yang aku tahu, aku menantinya sebanyak bunga yang ada di halaman ini.
“Mawar biru?” suara itu gemetar, suara seorang lelaki kurus, dengan cambang dan rambut yang tidak terawat.
“Ayah?” ingin kuucapkan itu, tapi suaraku tak pernah keluar.
Kami saling berlari mendekat. Aku segera menyembunyikan kepalaku di dadanya. Dada yang berbeda, dada dengan tulang-tulang yang menonjol.
“Maafkan ayah ya?”
“Pak?!”
Ibu berlari ke arah kami. Lalu tak ada suara lagi selain isak ibu dan ayah, juga isakku. Senja tak lagi emas, langit berubah abu-abu. Kami berpelukan erat.
“Usir dia!”
“Bakar rumahnya!”
 “Tak sudi desa ini diinjak oleh mantan narapidana sepertimu! Pergi!”
Orang-orang itu terus mendekati rumah kami dengan obor-obor di tangan. Aku melihat ibu gemetar dan ayah yang pucat. Lalu kulihat bunga-bunga mawar itu semakin banyak bermekaran. Tumbuh tinggi, memagari kami, memenuhi halaman. Kutarik lengan ayah dan ibu ke dalam rumpun bunga mawar itu. Lalu kami tenggelam di sana.[]

4 komentar:

  1. Aku menahan napas ketika membacanya, dan serasa turut tenggelam ketika sampai ending. Selamat, sahabatku. Jadi inspirasiku, selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Adya.
      Sukses untukmu yaa

      Hapus
  2. Mba, menanti seseorang datang dari ujung jalan... Sesering itukah kau menanti seseorang? :)
    Baru baca ini dan yg dimuat di ummi..keduanya menanti seseorang dtg di ujung jln..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha, masa sih? :D Makasih Mbak Rima

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...