Senin, 25 Januari 2016

Sepotong Kisah dari Anjing Tua [Cerpen Solo Pos 24 Januari 2016]


Foto Pinterest


Aku terbangun ketika mendengar lelaki itu terbatuk-batuk. Tubuh kurusnya menggeliat beberapa kali, lalu kembali tidur. Aku mengubah posisi dudukku, mendongak pada awan yang dihalau angin. Menyalak saat kulihat bulan redup tergelincir ke balik punggung bukit.
            “Ghrook…ghrook..”
Lelaki itu kembali bersuara. Aku menjulurkan kepala, menjilat kakinya, menemukan aroma yang sangat kukenali. Aku menyebut aroma tanpa tuan. Lelaki itu memang selalu berkeliaran sepanjang siang. Seperti aku. Kami berjalan mencari apa saja yang bisa masuk ke lambung kami.
Lalu di malam hari, kami akan sama-sama tersungkur di pos gardu ini. Lelaki itu segera meringkuk beralaskan kain yang sudah tak jelas warnanya. Tapi aku masih ingat, apa warna kain persegi panjang itu dulu. Aku juga masih ingat apa gambarnya. Lelaki itu, meringkuk, dengan baju yang sudah robek di beberapa bagiannya, memeluk buntalan karung kusam.
Aku masih ingat, sejak kapan lelaki itu menyeret langkahnya ke sana-kemari, dan tidur di mana saja dia menguap. Seperti aku yang menganggap sepanjang jalan adalah rumahku. Menganggap gardu tua ini sebagai tempat tidur ternyamanku. Dan pada akhirnya  aku harus sering mengalah ketika dia menempatinya, meski aku telah menandainya dengan air kencing sebagai  batas teritori. Namun dia tidak peduli.  Dan sejak saat itu kami berbagi tempat di gardu tua ini.
Aku menyalak lagi dan lelaki itu menggeliat, menggumam tidak jelas sambil mengusap liur yang meleleh di ujung bibirnya,  lalu meringkuk lagi. Aku melengkungkan badanku, berputar beberapa kali, menjilati korengku dan akhirnya menaruh kepalaku di kakinya.
Baru saja aku  memejamkan mata, kudengar suara-suara yang semakin mendekat, aku bangun lagi. Memutar tubuhku, menatap beberapa orang yang lewat. Mereka membawa benda-benda gemuk di punggung. Sebagian di pundak, dan beberapa pria membawanya dengan memikul. Kaki-kaki mereka seperti punya mata, dengan lincah menghindari lubang-lubang yang bergenang air.
Sejak jembatan yang menghubungkan desa ini dengan desa seberang terputus, aku tak pernah lagi melihat kendaraan yang lewat. Sejak saat itu pula orang-orang berjalan beramai-ramai setiap pagi. Aku pernah mengikuti mereka, yang ternyata masuk ke sungai menuju seberang sana. Sebagian badan orang-orang itu terendam hingga lutut. Beberapa  naik rakit bamboo, berpegang pada seutas tali yang dibentangkan.
Aku sendiri, tidak peduli jembatan itu ambruk atau berdiri. Sungai itu meluap atau kering. Sebagai anjing kampung yang lahir di sini, aku tak pernah ke desa seberang. Aku cukup berkeliaran di wilayahku sendiri saja. Mencari makan dari tempat-tempat sampah dan melongok ke rumah-rumah warga. Kadang kalau beruntung aku akan mendapat makanan yang dilempar ibu-ibu dari balik pintu dapurnya. Kalau tidak, aku terpaksa mengorek-ngorek tempat sampah, bergantian dengan beberapa kucing-kucing liar.
Perihal lelaki kurus itu sendiri, aku punya kenangan khusus tentangnya. Dulu, ketika aku masih muda, sebuah truk menyerempetku. Kakiku terluka dan tak sanggup berjalan. Lalu lelaki itu datang, membawaku pulang. Membalut luka-luka dan memberiku makan. Berhari-hari aku meringkuk di samping halaman menunggu luka-lukaku kering. Ketika aku berangsur sembuh, dia melepasku kembali ke jalanan. Namun setiap aku datang, dia masih sering melempariku makanan. Tulang-tulang. Kue basi. Gorengan jamuran.

Hingga suatu hari, di rumah lelaki kurus –yang waktu itu masih gemuk dengan perut buncit--  sering didatangi banyak orang. Beberapa berpakaian bagus, tapi beberapa orang memakai baju yang sama. Warnanya sama, dan ada gambar dipunggungnya. Beberapa orang di antara mereka, merentangkan kain lebar di depan rumah itu. Lalu beberapa kain dengan warna yang sama tiba-tiba memenuhi jalan-jalan desa. Tidak hanya itu, beberapa hari kemudian, bermacam-macam kain berdesakan di pinggir jalan. Ada yang diikat dengan kayu, tapi ada juga yang dipaku di pohon. Aku bahkan sering mendengar pohon-pohon itu menjerit kesakitan.
Satu hal yang tak pernah kumengerti, beberapa hari kemudian orang-orang  berbondong-bondong ke lapangan desa, memakai baju dengan warna dan gambar yang sama. Mereka berdiri di bawah sinar matahari yang garang, mendengarkan beberapa orang yang berteriak-teriak di panggung. Setelah itu seorang penyanyi membuat semua badan bergoyang-goyang. Lalu kulihat wajah-wajah penuh peluh pulang menuju rumah masing-masing.
Esoknya lagi, orang-orang kembali berkumpul di lapangan desa, memakai baju yang sama tapi dengan warna dan gambar yang berbeda dari kemarin. Begitu seterusnya untuk beberapa hari. Aku juga melihat wajah-wajah manusia yang sangat besar  menempel di papan lebar dan berdiri di pinggir-pinggir jalan. Tersenyum, siang dan malam.
Aku bahkan sangat terkejut, ketika melewati rumah lelaki kurus itu –yang dulu masih gendut dengan perut buncit—di depan rumahnya, wajahnya yang jauh lebih besar menempel di papan, tersenyum kepadaku. Dia tidak mengusirku sama sekali saat aku lewat, bahkan saat tak sengaja aku menumpahkan sampah. Aku semakin heran, saat di beberapa perempatan desa, aku menemui wajahnya menempel di kayu-kayu dan di pohon-pohon. Berdesakan dengan wajah-wajah lain yang saling tersenyum di antara kain-kain yang berkibar.
“Pilih siapa?”
“Pilih semua saja!”
Ya, berhari-hari, sejak kain warna-warni berdesakan dengan wajah-wajah senyum itu, aku sering mendengar orang-orang berbicara berbisik-bisik. Menyebut nama si ini yang begini, juga si itu yang begitu. Aku hanya bisa menegakkan telingaku, mendengarkan mereka diam-diam dan menyimpannya dalam ingatanku. Tidak, aku tidak akan mengatakan pada siapapun, juga kepadamu.
Dan, waktu menjawab semuanya. Aku menunggui gunungan sampah di depan balai desa ketika beberapa orang  mengucapkan bunyi “Sah! Tidak sah! Tidak sah! Sah! Sah! Tidak sah.” Begitu seterusnya hingga matahari bersembunyi di balik gunung sebelah barat.
Saat aku ingin pulang ke gardu ini, aku melewati rumah lelaki kurus itu—waktu itu masih gemuk dengan perut buncit—beberapa orang meninggalkan rumahnya tanpa senyum.
“Edaaan! Goblook!” Entah siapa yang berteriak dari dalam rumah itu. Lalu kudengar tangisan dan aku pergi begitu saja, meringkuk di gardu desa yang gelap.
Beberapa orang yang lewat berbisik, “Banyak yang rusak.”
Kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu, saat itu aku masih cukup muda, berkeliaran ke mana-mana. Mengorak-ngorek beberapa tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan yang masih terasa nikmat di lidah.
Sekarang aku sudah tidak sekuat dulu lagi. Beberapa bagian tubuhku luka-luka, berdarah dan bernanah. Beberapa anak kecil sering berteriak padaku, “Anjing gilaaa…anjing gilaaa!” sambil melempariku batu.
Aku hanya bisa menyalak, lalu berlari dan baru berhenti saat aku yakin anak-anak itu tidak lagi mengejarku. Aku terkapar dengan nafas tersengal, sesekali menjilati lukaku. Saat itulah dari arah yang berbeda, anak-anak kecil mengarak lelaki kurus itu sambil berjoget, “Ooorang gilaaa…ooorang gilaa!”
Memang itulah, satu hal yang sama antara aku dengan lelaki kurus—yang dulu masih gendut dengan perut yang buncit—itu. Beberapa hari setelah orang-orang tanpa senyum meninggalkan rumahnya, anak dan istrinya juga pergi. Dia berdiam sendiri, duduk di halaman, hingga dua orang datang dan menempel kertas di pintu rumahnya. Lalu dia menyeret kakinya meninggalkan rumah itu dengan menyampirkan karung di pundaknya.
Sejak saat itu, aku sering melihatnya bicara sendiri. Tertawa sendiri. Bahkan menangis sendiri. Berapa kali aku melihat air mata yang membasahi wajahnya yang ditumbuhi cambang liar. Lalu hari-harinya akan dihabiskan dengan berkeliling menyusuri jalan-jalan desa. Mengambil apa saja yang menarik perhatiannya, lalu memasukkan ke dalam karung. Daun kering, sampah busuk, sobekan kain, sandal jepit putus, apa saja, apa saja. Dan aku senang mengikutinya.
Orang-orang hanya memandangnya sambil berbisik-bisik, “Kasihan ya…kasihan…” sementara yang lain menanggapi, “Dia pernah jadi orang besar, sekarang dia gelandangan. Dulu kita wong cilik, sampai sekarang tetap wong cilik. Dia menang apa kalah ndak ngaruh sama kita…”
Namun beberapa orang masih ada yang sering memberi dia makan di atas daun pisang. Lalu dia akan makan dengan lahap, menyuap besar-besar. Biasanya dia akan menyisakan makanannya untukku. Setelah selesai makan, aku menjilat wajahnya sebagai ucapan terima kasihku. Dia hanya diam.
Ya, tak ada kesepakatan apapun antara aku dan lelaki kurus itu. Kalau aku berbagi tempat dengannya di malam hari, itu sebagai ucapan terima kasihku karena dia sering menyisakan makanannya untukku.  Aku pernah ingin sekali punya keluarga. Punya tuan tempat aku mengabdi dan punya rumah untuk pulang. Aku dulu sering memimpikan bagaimana rasanya tidur di dalam rumah-rumah yang hangat itu.
Dan kini, aku merasa lelaki kurus ini telah menjadi keluargaku. Tak masalah siapa yang menjadi tuan diantara kami berdua. Yang aku tahu, sebagai anjing kampung yang sudah tua dan sakit-sakitan, aku selalu menggeser tubuhku menyisakan tempat untuknya. Kami saling berhimpitan mengusir hawa dingin saat malam berhujan. 
Kami bersama telah begitu lama. Bulan sudah berubah berulang ulang, musim sudah berganti berkali-kali. Lelaki itu semakin sering terlambat bangun. Kadang kudengar dia terbatuk. Lalu merintih-rintih. Tapi sejak kemarin lelaki itu hanya diam. Aku menjilati wajahnya. Dingin. Aku mendorong dengan mocongku. Dia masih tak bergerak. Aku menyalak-nyalak lebih keras. Tapi lelaki itu tetap diam.[]

12 komentar:

  1. Perihnya sebuah kekalahan jika tujuan awal berjuang sekedar "kemenangan semu" :(

    BalasHapus
  2. Selalu suka dengan gaya bercerita Mbak Shabrina.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasih Mbak Arinta :)

      Hapus
  3. Baguss bangettt..
    Aku Suka, Kak :D

    BalasHapus
  4. Selalu suka dengan gaya bercerita Mbak Shabrina.. :)

    BalasHapus
  5. Mba Shabrina ini ya, 'nakal' deh bikin geregetan bacanya.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...