Senin, 21 Maret 2016

Percakapan Tengah Malam [Dimuat Republika 20 Maret 2016]




Menjelang tengah malam, Jas mematikan traktornya. Aku segera meniup lampu minyak di meja. Tak berapa lama, terdengar kecipak air dari kamar mandi di belakang rumah. Aku tak bersuara, hingga pintu terbuka, dan cahaya bulan menghambur masuk ruangan.  Aku bisa melihat bayangan Jas yang melangkah masuk.
            “Kamu selalu pulang jam segini?”
            “Ibu?”
            Aku menyulut lampu minyak di meja.
            “Kapan Ibu datang?” Jas duduk di depanku, sambil mengusap rambutnya yang basah.
            “Sore tadi. Ibu bawa opor, biar kupanasi dulu.”
            “Bu, jangan repot-repot.”
            Tanpa bicara, aku menuju pojok ruangan dengan lampu minyak di tangan. Menaruh pada papan kecil di dinding kayu, kemudian menyalakan kompor, dan menjerang panci tanggung berisi opor.
            Aroma harum segera memenuhi ruangan tanpa sekat ini.
            “Ayo makan.”
            Tak  lama, kami telah duduk menghadap meja kayu.  Dalam cahaya lampu minyak, aku masih bisa melihat jakun Jas bergerak, menelan ludah.
Dia menyendok sepotong besar lontong berlumur kuah opor. Aku mengamati tak berkedip. Tenggorokanku seperti dipenuhi dedak jagung ketika suapan-suapan berikutnya, Jas mengunyah seperti orang yang berbulan-bulan tidak makan.
Untuk beberapa saat, hanya terdengar bunyi sendok dan kerupuk.
            “Jadi kamu baru masak sepulang dari sawah tengah malam begini?” tanyaku, setelah Jas mengosongkan piringnya. Aku bertanya begitu karena sewaktu aku datang tak ada makanan.
            Dia mengangguk. “Sekalian untuk sarapan.”
            “Kamu menyiksa dirimu sendiri.”
            “Hanya mengejar masa tanam, Bu.”
Aku menatap Jas lekat-lekat. Cambangnya tumbuh tak beraturan. Rambutnya menyentuh tengkuk. Wajahnya yang dulu bersih, kini coklat kehitaman terbakar matahari. Betapa cepat waktu mengubahnya.      
“Ibu minta maaf…”
            Jas mengangkat kepala.
            “Akhir-akhir ini ibu menyadari ada keputusan masa lalu yang keliru.”
            “Ibu tidak perlu minta maaf.” Jas melipat kedua tangannya di atas meja. “Mbak Yun berhasil kan?”
            “Tapi—“  Aku menelan ganjalan di tenggorokanku.
            “Aku tidak apa-apa, Bu.”
***
             Rasanya baru kemarin, kami bertengkar di meja makan. Terbayang jelas, Jas  masih mengenakan seragam abu-abu putih. Dia berteriak tak terima, ketika  kukatakan itu terakhir kali dia sekolah, karena  kami akan meninggalkan Jawa dan transmigrasi ke Sumatra. Dia merasa tidak adil.
            Kami memang memutuskan pergi setelah Pak Lurah memberitahu, bahwa di tanah trans peluang Yuni yang lulusan SPG, untuk di angkat menjadi pegawai negeri lebih terbuka. Lagipula, saat itu hampir semua harta kami habis untuk membiayai sekolah Yuni selama tiga tahun.
            Aku berjanji Jas akan sekolah lagi. Tapi, aku salah, jangankan melanjutkan SMA, bahkan SMP-pun berjarak ratusan kilo jauhnya. Di wilayah transmigrasi hanya ada satu sekolah SD.
            Yuni memang menjadi guru, tetapi butuh proses beberapa tahun untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Sementara Jas, tumbuh menjadi pemuda pemberontak dan pemalas. Dia sama sekali tak mau turun ke sawah. Setiap kali bapaknya mengajak bekerja, Jas justru mengungkit semua hal tentang dirinya. Sekolah, masa depan. Dan menimpakan kesalahan padaku yang berujung pada pertengkaran.
            Jas baru berubah bertahun-tahun kemudian, ketika dia jatuh hati pada Marini, seorang guru pendatang baru. Dia mulai mau turun ke sawah. Berkecipak dengan lumpur. Lalu memberanikan diri melamar Marini. Dan, mereka menikah.
            Aku merasakan tahun-tahun kelegaan. Setidaknya, Jas tidak hidup sebagai pengangguran. Sebagai kepala rumahtangga, dia cukup bertanggung jawab, dan menjalani hari-hari sebagaimana umumnya para petani trans. Hingga anak-anak mereka lahir, dan tumbuh besar.
            Tetapi,  aku seorang ibu. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi pada kehidupan Jas. Apalagi ketika dia memilih tinggal di pondok ladang dari pada tinggal di rumahnya.
             “Kalian bertengkar?” tanyaku waktu itu.
            “Hanya berselisih paham.”
Tetapi, suatu siang, ketika aku hendak mengantar kue untuk cucuku, tanpa sengaja, aku mendengar pertengkaran hebat antara Jas dan Marini.  Menantuku bicara panjang lebar. Perihal kegagalan panen, cara kerja Jas yang tidak tepat, mengungkit latar belakang pendidikan, hingga harta.
Rasanya kepalaku mendidih saat itu. Aku kembali berjalan pulang dengan sempoyongan. Aku menunggu Jas bercerita. Tetapi dia selalu bilang semua baik-baik saja.
            Malam-malamku tak pernah tenang setelah mendengar pertengkaran itu. Aku selalu diliputi rasa bersalah pada Jas. Ketika aku mengatakan semuanya pada suamiku, dia justru menyalahkan aku karena telah menguping rumah tangga Jas. 
***
            Sekarang, aku di sini, benar-benar melihat dengan mata kepala bagaimana anak lelakiku bekerja membanting tulang tanpa kenal waktu. Ingin kukatakan padanya, bahwa sebagai kepala rumah tangga dia harus tegas. Ingin kukatakan padanya, bahwa sebagai mertua, aku telah terluka oleh kata-kata istrinya. Tetapi, melihat Jas duduk kelelahan dan nampak lebih tua dari usianya, aku menelan kembali semua kalimat yang kusiapkan di sepanjang perjalanan.
            “Ayo kita tidur,” ucapku memecah keheningan.
            Jas mengangguk. Dia berdiri dan membersihkan ranjang kayu beralas tikar. “Tapi tak ada kasurnya.”
            “Di hutan pun ibu bisa tidur.”
            Kami berbaring bersisihan dalam keremangan cahaya lampu minyak yang bergoyang-goyang ditiup angin. Tak lama, terdengan dengkur halus Jas. Aku mengingat sesuatu dan membangunkannya.
            “Jas.”
            “Jas.”
            Tak ada jawaban. Aku miring ke arah Jas, mengulurkan tangan ingin menggoyangkan tubuhnya, tetapi buru-buru kutarik kembali.
            Kutatap wajah Jas yang kelelahan. Bahkan dalam tidur pun, terlihat garis-garis di dahinya. Aku ingat, terakhir kali kami tidur bersisihan adalah saat dia selesai dikhitan. Setelah itu, Jas benar-benar tak pernah berbaring di sampingku.
            Andai dulu, kami bertahan untuk tidak pergi hingga Jas lulus sekolahnya, apakah kejadiannya akan lain? Apakah Jas akan memiliki kehidupan yang lebih membahagiakannya?
            Masalahnya, dulu aku tak pernah berpikir mengirim kembali Jas ke Jawa untuk melanjutkan sekolahnya. Padahal saat itu, mungkin penghasilan kami cukup untuk membiayai Jas. Tetapi, aku justru selalu memarahinya dan menuntutnya bekerja di sawah dengan bapaknya.
            Memikirkan semua itu, aku tak bisa tidur. Bagaimana perasaan Jas, menjalani malam-malam sendiri di tempat terpencil seperti ini? Tiba-tiba pikiran lain kembali melintas. Aku menatap Jas dan berniat membangunkannya.
            “Jas.”
            Kali ini, aku menepuk-nepuk lengannya.
            “Jas.”
            “Hm.” Jas bergerak. “Bu? kenapa?”
            “Apa kamu sudah Isya?”
            “Aduh!” Jas bangun seketika. “Aku bahkan belum Magrib, Bu.” Jas turun dari ranjang dan tergesa berjalan keluar.
            Aku merasakan kelegaan ketika mendengar kecipak air dari kamar mandi belakang.
            “Jangan terbiasa menunda sholat,” kataku begitu dia masuk.
            “Aku biasa pulang magrib dan balik lagi setelah isya,” kata Jas ketika kembali ke dalam rumah. “Tapi tadi nanggung, jadi kuteruskan.”
            Jas mengambil tikar gulung dari pojok ruangan, menggelar di lantai dan berdiri di sana. Mataku memanas saat melihat Jas yang rukuk dan sujud seperti itu. Kukira, ketika dia menghadapi masalah dan menjauh dari keluarga, dia juga menjauh dari yang Maha Kuasa. Ternyata kekhawatiranku tak terbukti.
            Aku tidur dengan perasaan lega. Paginya, ketika bangun, Jas bahkan sudah menyiapkan dua gelas kopi di meja.
            “Jadi kemarin Ibu ke sini di antar siapa?” tanya Jas setelah aku selesai Subuh.
            “Naik ojek.” Aku berjalan medekati kompor dan membuka dandang yang berisi nasi. “Aku minta dijemput lagi nanti jam delapan.”
            “Jaga kesehatanmu, Jas,” kataku lagi sambil menarik kursi.
            “Sena ingin kuliah ke Jawa, Bu. Jadi aku harus bekerja keras.”
            Aku menyesap kopiku. Kalimat Jas membuatku tak bisa bicara. Aku tahu sekarang. Jas tak ingin Sena mengalami nasib seperti dirinya. Aku mengerti, kenapa Jas memilih mengalah pada istrinya. Itu dia lakukan demi anak-anaknya. Dan, aku tak perlu memberi komentar apapun, yang bisa jadi justru terkesan menghakiminya.
            Pagi itu, sepanjang jalan meninggalkan pondok Jas, kulafalkan doa-doa untuk Jas, anak lelakiku yang pernah kukecewakan, dulu.[]
Sidoarjo Februari 2016

27 komentar:

  1. Selamat berjuang, jas. Anak lelaki hebat bagi setiap ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Jas, anak lelaki hebat bagi setiap ibu, dan bapak hebat untuk anaknya :)

      Hapus
  2. Ya Allah.... aku berharap menjadi ibu yang terus berjuang untuk anak-anak, aku kesampingkan sis hatiku yang lain. Selamat berjuang, Jas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita jadi ibu yang baik untuk anak-anak kita :)

      Hapus
  3. like this...
    btw. mau tanya dikit nih.. masa tanam sama pulang malam itu korelasinya seperti apa? apakah seharian penuh sampai hari gelap seorang petani harus di sawah?
    makasih sebelumnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum sawah siap tanam, harus dibajak dulu. Nah, pekerjaan membajak ini yang membuat Jas bekerja tak kenal waktu, demi mencapai target. Di awal ada traktor soalnya. Begitu ya, mbak Shabrina? :)

      Eniwey, selamat mbak. Cara bertutur mbak selalu manis dan smooth.

      Hapus
    2. Mbak Prima, makasih sudah mampir. :)

      Iya bener seperti yang dikatakan Mas Irvan. Jas mengejar masa tanam. Karena kadang tanaman kalau ditanam lewat masa tanam, dan tumbuh berjarak beda jauh sama tanaman lain bisa kurang bagus.

      Mas Irvan, makasih sudah sudah mampir :)

      Hapus
  4. Jas, anak laki-laki tangguh yang tak ingin terdengar mengeluh di depan sang ibu. Waktu bisa mengubah segalanya.
    Selamat mbak Eni, duuh itu Republika kok "korupsi" huruf H untuk nama Shabrina WS :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Dwi, makasih sudah baca. 😊 iyaaha kuranga 'h' 😃

      Hapus
  5. Koq saya jadi ingin menangis untuk Jas? Mbak Shab, tanggung jawab!! :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peluk peluuk Mbak Arinta, makasih yaa 😊

      Hapus
  6. whuaa ini ni... daleum banget, brin. sebagai ibu aku berdoa semoga dijauhkan dari berbuat kesalahan pada anak2ku T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Marisa,makasih Dear sudah mampir 😊

      Hapus
  7. Duh, nangis bacanya. Jadi inget anak-anakku. Jangan sampe aku jadi ibu yang menyakiti. :(((((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaah ada Mbak Haya mampir. Makasih, Mbak 😊

      Hapus
  8. Selalu suka dengan cerita Mbak Shabrina :*

    BalasHapus
  9. Sedih bacanya. Pasti rasanya ingin mengulang kembali masa lalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Andai waktu bisa diputar ulang 😊
      Makasih sudah mampir Mbak 😊

      Hapus
  10. menyentuh sekali.. aku jg gak mau mengecewakan anak2 dgn pilih kasih :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita menjadi orangtua yang baik,😊
      Makasih Mbak

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...