Masih kuingat dengan jelas saat kita bertemu seekor rayap yang tak lagi menemukan kayu
Saat kita mengamati cenggeret yang kehilangan sarangnya
Saat hujan adalah impian dan kemarau adalah harapan
Begitulah
Kita selalu memiliki kisah dari secangkir pagi, meski kadang hanya daun kering yang diseduh dengan air dingin
Dan di sini, bersama bulan tua kutulis rinduku kutitipkan lewat angin kecil, untukmu di tanah yang entah
Bilakah waktu bisa diputar ulang dan kita melangkah ke arah yang sama Mungkin aku tak menghapus air mata ini dengan jariku sendiri
*Menulis kadang membawaku ke tempat-tempat yang tak pernah kusangka. Mencoba menjadi sosok lain, merasai rasanya meski aku tak pernah benar-benar mengerti
Siapa bilang dua emak-emak cantik dan satu jejaka tampan gak boleh ngerumpi? Tentunya bukan rumpian ala infotainment ya, melainkan ngebahas sesuatu yang jauuuh lebih mutu ‘n’ lebih bermanfaat.
Yup! Bermula dari obrolan non gossip, makin lama makin berlanjut, untungnya sebelum terjerumus ke dalam jurang kesesatan, akhirnya terselamatkan oleh cahaya terang berupa ide cemerlang untuk mengumpulkan karya-karya bersama. Dan kumpulan cerpen, menjadi pilihan kami.
Kumpulan cerpen dan puisi ini terbagi atas 3 (tiga) chapter. Di dalam Chapter I - Rindu, Anda akan menemukan betapa rasa rindu memiliki makna begitu dalam, mampu menggoreskan berbagai rasa dan peristiwa hingga berakhir pada harapan tak terduga.
Pada Chapter II – Rumah, adalah goresan kami untuk mewujudkan ungkapan akan makna ‘rumah’, lebih dari sekedar sebuah kediaman belaka. Rumah tak hanya sekedar tempat berteduh, namun rumah adalah tempat terhangat bagi hati yang direkatkan oleh rasa kasih sayang.
Chapter III – Bias, berisikan kisah-kisah yang menyoroti sisi humanis dan sosial yang selama ini mungkin luput di tengah kesibukan dan tak lagi mampu menarik perhatian kita namun nyatanya mereka ada, membutuhkan goresan lembut agar warna gelap dan suram itu kelak juga mampu untuk menyinarkan seberkas cahaya terang.
Ini pengalamanku setelah "mengunyah" Mencari Nay! Kenapa aku bilang ‘mengunyah’? karena saat membaca Mencari Nay, itu bagiku kayak makan keripik kentang kesukaanku, gurih dan gak mungkin didiemin di mulut. Jadi harus terus dikunyah. Kalo dah habis tangan akan reflek ngambil lagi, memasukkan ke mulut dan dikunyah lagi. Renyah dan cepet. Tahu-tahu dah habis deh sebungkus. Hehehe
Nah, begitu juga pas baca buku hijau ini. Saat aku cicipi diawalnya, sama kayak pertama kali dulu waktu makan keripik kentang, agak ada yang gimanaa gitu di lidah. Tapi pas udah beberapakali kunyahan, aku mulai mengunyah dengan cepat dan ngambil lagi. Mulai menikmati setiap halaman, balik lagi, dibalik lagi daaaaan…hingga selesai jam 2 pagi. hihihi…enggak ngantuk lho, padahal waktu aku mo baca tuh, aku habis ngetik, capek dan maunya tidur. Awalnya aku niat baca dulu satu bab saja. Eh…ternyata…kayak dimantra-mantrai aku, lanjut terus hingga ending.
Satu hal yang langsung aku iyakan saat membaca novel ini, bisakah orang jatuh cinta sama tulisan? Ya, bisa! Jawabku cepet. Yaelah kayak pengalaman aja ? Emang! Tulisan/kata-kata itu kekuatannya dasyat banget lho, bisa mencairkan sebongkah es, dan meringankan batu hingga seringan kapas. Nggak percaya? Ya, bagi yang gak ngalamin mungkin gak percaya. Jadi kalau mungkin ada yang bilang, ah, Novel Mencari Nay, mengada-ada deh, masa sih orang sekeren dan sekelas Yudhits bisa jatuh cinta sama Nay hanya gara-gara membaca tulisannya?
Eh, eh, aku akan bilang gak mengada-ada kok, bahkan kadang kenyataan itu lebih gila daripada sebuah fiksi lho? Sumanto misalnya makan daging manusia, pasti klo cerita itu fiksi sebelum ada kejadian Sumanto, orang-orang akan bilang “gak mungkiiiin” *lho kok jadi ke Sumanto. Lah, iya…inilah pengalamanku saat baca Nay.
Nah balik lagi ke Nay. Jadi awalnya Yudhits itu hanya iseng keluar masuk blog yang nge-link kemana-mana. Nggak tahunya dia malah kerasan mantengin tulisannya Nay. Dan dia bahkan terasa belum lengkap harinya kalau belum baca tulisan Nay. Ini gue banget! Aku dulu juga iseng lho—gak sengaja malahan-- awalnya membaca tulisan seseorang, yang cuma beberapa kalimat saja, eh tak tahunya aku suka banget dengan tulisan-tulisannya, hingga sudah kulahab habis tuh ratusan tulisannya.hehehe
Kalau si Yudhits dampaknya dari membaca tulisan Nay jadi nekad dari Tunis datang ke Indonesia demi si Nay. Sedangkan dampak yang aku alami, hohoho, tentu saja nggak sampai segitunya ngejar dia (yee aku kan masih waras!) aku sih mikirnya, mungkin dia tak benar-benar ada. Tapi yang jelas aku jadi banyak inspirasi dan bisa menyukai sesuatu yang tidak aku sukai.
Ada lagi nih yang seru, sehabis baca mencari Nay, aku tiba-tiba pengen denger lagu-lagu dangdut deh, lah iya gara-gara si Joan (sepupu Yudhits) yang banyak ceweknya itu cinta banget sama dangdut. Sedikit-sedikit kalau ngobrol sama Yudhits nyanyi dangdut mulai dari Meggy Z hingga Rhoma Irama, beda banget sama si Nay yang sukanya Frank Sinatra. Hem, hem…
Dan… selebihnya, aku suka semua halaman dalam novel ini. kalau mungkin dulu –saat baca naskah mentahnya--aku pernah bilang, ini kayaknya keluar dari Qonita Musa deh, tapi pas baca setelah lahir jadi novel, aku harus meralat ucapanku, kalau ini tetep Qonita Musa kok. Menulis dengan cerdas , dengan menyelipkan istilah-istilah psikologi yang mungkin bagi Qonita sudah yang paling ringan, tapi bagi aku tetap saja mengernyit-ngenyitkan dahi, dan ini bikin seru.
Dan serunya lagi dengan halus Qonita menyelipkan banyak hal tentang bagaimana kita memaknai hidup. Layaknya seorang ibu yang memasukkan berbagai macam cincangan sayuran ke dalam telur dadar. Anak gak ngerasa makan sayur tapi gizinya tetap masuk. *Kaaan?
Aku juga tersenyum-senyum di bagian-bagian tertentu yang kadang muncul ‘Santhi-nya’ banget.
Hem, hem, apalagi ya? Ya-a aku bahkan dengan pe-denya berkata dalam hati “endingnya bakal ketebak, nih, pasti klise!” sambil senyum-senyum. Dan ternyata? Hingga lembaran terakhir Qonita Musa tetap mengaduk-ngaduk perasaanku. Kalau kata aku sih, hingga kunyahan terakhir tetap sedep, dan…mau lagi…bahkan remah-remahnya pun kupunguti.
Eit, tunggu! Jangan tanya kelebihan dan kekurangan novel ini, tulisanku adalah pengalamanku saat membaca,jadi ini bukan resensi…hihihihihihihihihihi..*dengan tawa yang panjang…*
Eh iya,ini komentar ibuku (48th) saat baca Mencari Nay,
“Sampul-e apik-men. Ayuu, ganteng. Tapi isine aku radha ora mudeng. Piye tha iki? Aku nganti tak bolan-baleni macane.” Dan aku gak tahu apa ibuku menyelesaikan membaca apa enggak. Ya, ya, bagi seorang yang kesehariannya akrab dengan ladang dan pasar tentu saja novel yang dibilang ringan ini tetep berat, seperti sekarung singkong.
‘Dog’ kata itu yang membuat gue tertarik banget sama buku ini. Udahan deh meskipun gak pakai kata ‘love’ gue juga tertarik kalau yang aroma binatang-binatang gitu. Gue gak bisa membayangkan isinya apa, tapi jelas ini bukan kayak fabelnya Beatrix potter.
Maka, Bismillah,mulai gue baca dari halaman ‘thanks!’ hahaha…baru baca kalimat pertama aja gue ikutan jejingkrakan, keingat sama note penulisnya bagaimana perjalanan buku ini. Sedep banget dah.
Glutuk…glutuk..brak! what?! Suara apa tuh? Suara itu bersumber dari Pondok Jayalah Selalu (PJS) tempat kos kusus cowok-cowok. Dido sedang menghindari tatapan Wita (cewek yang diam-diam ditaksirnya) hingga dia terpeleset dan jatuh dari lantai dua, gelutukan di tangga, kepala membentur tiang dan brem! Dia sukses pingsang!
Berdarah-darah? No! Tapi otak Dido sedikit bergeser. Eit, jangan nebak amnesia lho! Tapi, oh Tuhan, so sweet deh bagi gue, karena ajaib, Dido malah jadi ngerti bahasa anjing. *gue jingkrak-jingkrak saking senengnya.(Lho?)
“Pada dasarnya setiap manusia bisa bicara dengan anjing, Bos,” kata Bleki, anjing kampung yang sering nongkrong di kosnya dan anjing pertama yang menyapanya. “Ada bagian kecil otak manusia yang kalau posisinya bergeser dikit bisa mengakibatkan manusia mengerti bahasa anjing. Geseran otaknya harus pas karena klo geserannya semakin jauh justru akan membuat manusia jadi gila!” *kalimat ini gue baca berulang kali, beneran gak ya ini? apa cuma imajinasi penulisnya? Dan kira-kira klo kepala gue kejedug tembok apa gue bisa bahasa kucing?*
Waduuh dari sini masalah datang, Bayu sahabat Dido menganggap Dido gila karena semakin hari makin mesra sama Bleki. Sampai dia nelpon ke bapak Dido di kampung. Parahnya bapak Dido malah menjawab yang membuat pembaca jadi ngikik terkikikkikiK deh. Apa? baca aja sendiri!
Parahnya lagi seisi kos mulai tahu kalau Dido gila, daaaan parahnya lagi *dari tadi parah2 mulu ya gue nulisnya?* adalah, Wita juga tahu kalau Dido yang sering titip salam ke dia lewat Bayu ternyata gila! WO-O-OWW! Dido jadi muntab alias otak mendidih gak terima, karena Dido justru memergoki Bayu makan malam berduaan dengan Wita!pagar makan tanaman!
Yup, Bersama Bleki, Dido menyusun strategi. Apapun caranya dia harus menaklukkan Wita. Padahal Witanya sering keder sendiri tuh diincar cowok gila!
Asli ini novel yang membuat gue terkikik-kikik sendiri sepanjang halamannya. Sebenarnya klo ada waktu novel ini pasti habis sekali lahap deh. Dengan alur cepat dan kriuk-kriuk, vokus ke Dido, Bleki, Bayu dan Wita. *sayang gue butuh tiga tahap alias tiga hari. Tapi gak mengurangi kerenyahan novel ini sih.
Tapiiii…tenyata gue mendapat kejutan di ending novel ini. Setelah sepanjang perjalanan gue tertawa-tawa, gue gak nyangka kalau di halaman terakhir gue bener-bener netesin air mata. Serius, gue sampai mengulang membacanya dan tetep, gue nangis, Rek!
***
Selamat buat pak Iwok, novelnya keren, sukses membuat saya tertawa dan menangis pada akhirnya. Klo bahasa jawanya ‘bar ngguyu nangis’. Dan ya ampyun jadi ketularan nih saya nulis “gue-gue”J
Eit satu lagi nih novel kayaknya lahirnya bareng deh sama sepupunya Berjuanglah, Bunda Tidak Sendiri. Kisah-kisah melahirkan, berjuta rasa dari Sumatra hingga Australia. Buku yang nongkrong di rak terlaris.*iklan? Bukan sekilas info doank kok*
Emm...Pas ada audisi menulis untuk buku ini, aku udah niat banget pengen ikut. Ya, karena banyak cerita seru yang kualami saat aku jadi anggota pramuka. Dari SD-SLTA. Dan, ada tiga ceritaku di sini:
1. Pin Penggalang Berubah Merah Jambu: ini cerita jaman masih MTs dulu seru banget deh :)
2. Perkemahan Buku: kalau ini cerita waktu kelas dua Aliyah. Kenangan yang indah banget.
3. Hujan dan Bentakan: waaa...yang ini cerita rada serem sih, tersesat gitu ceritanya...
Buku ini terbit POD di www.leutikaprio.com dan kemarin dapat sms dari mbak Nunu, PJ antologi ini kalau bukunya ada di barisan buku terlaris. Alhamdulillah...ini memang buku yang seru untuk dibaca anggota pramuka maupun yang sudah mantan. Eh yang tidak pernah jadi anggota pramuka? waah...kayaknya bakal pengen deh kalau baca ini hihihi.
Deskripsi Buku:
Unbelievable! Indonesia merupakan penyumbang anggota pramuka terbanyak, sebanyak 22 juta dari seluruh anggota pramuka di dunia yang berjumlah 38 juta (Betharie Arrahmani, peserta 22nd World Scout Jambore 2011, Swiss).
Dan, ke-60 kisah dalam buku ini merupakan pengalaman nyata yang dialami dari sebagian anggota pramuka yang tersebar di seluruh dunia. Yang disusun dalam rangka memperingati 50 Tahun Gerakan Pramuka, 100 Tahun Kepanduan Indonesia.
Membaca kisah-kisah dalam buku ini memberikan udara segar bagi “Gerakan Pramuka” di Indonesia yang kadang dipandang sepele bagi sebagian anak-anak muda. Temukan serunya, lucunya, kocaknya, serta ketegangan masing-masing penulis dalam momen-momen yang dialaminya selama menjadi anggota pramuka. Kamu alumni? Atau masih menjadi anggota pramuka? Wajib baca buku ini!
Let's Enjoy The School
Berawal dari sms santai dengan mbak Naqiyyah, tercetuslah ide bikin buku keroyokan ini. Buku mengawal anak memasuki dunia barunya: Sekolah. dilengkapi dengan tips-tips dan menu sehat untuk bekal ananda :)
Penulis : Naqiyyah Syam, dkk
Ukuran : 14 X 20,5 cm
Jumlah Hal : 176
No. ISBN : 978-979-063-279-0
Bulan/Tahun Terbit : Oktober 2011
Harga Jual : Rp. 26.500,-
Editor : Syerif Nurhakim
Desain Cover : Fatmi Septisari
Berat Buku : ± 200 gr
Jenis Kertas
* Isi : HVS 70 gr
* Cover : Art Carton 230 gr
Kategori
* Penerbit : Gurita
* Divisi : PAUD dan TK
* Segmentasi : Umum
* Umur : Umum
* Jenis : Non Fiksi
Penulis:
Naqiyyah Syam
Shinta Handini
Haya Aliya Zaki
Shabrina Ws
Binta Almamba
Riawani Elyta
Anisa Widiyarti
Evatya Luna
Aprilina Prastari
Ella Sofa
Rosintan Hasibuan
Vanda Nur Arieyani
Lia Herliana
Indah Ip
Mamah Ghulam Itu Linda
Ita Dhanietha N Novi
Nunung Yuni Ang