Rabu, 20 Juni 2012

Barang-Barang Bekas (dimuat di majalah Ummi)



“Dhek, lihat tempat sabun gak?”
“Tempat sabun?”
“Iya tempat sabun yang putih itu, yang bisa di tempel di dinding kamar mandi.” Tanya Joni, mendekati istrinya yang sedang nyapu lantai.
“Yang sudah nggak lengket itu ya?” Tanya Mirna, istrinya
“Ya, iya. Yang mana lagi coba?”
“Aku buang mas…”kata Mirna kemudian menggigit bibir.
“Apa? Kamu buang?!”
Mirna mengangguk.
“Kamu ini gimana sih? Itu kan masih bisa digunakan, kenapa kamu buang?”
“lah. Aku pikir sudah nggak ada gunanya, dari pada berserakan ya aku buang aja. Maaf ya, mas…”
            “Makanya lain kali jangan asal buang sana buang sini. Sudah berapa kali sih aku peringatkan. Setiap benda itu punya nilai guna, meskipun dia sudah dekil atau rusak.”
Mirna diam, matanya berkaca-kaca.
            “Mas marah ya?”
            “Ya.”
            “Masa sih mas, gitu aja marah.”
            “Karena kamu.membuatku kesal.”
            “Emang penting banget ya, benda itu.”
Dan air mata Mirna mulai jatuh. Ya, Nangis lagi? Kok begitu saja nangis sih? Batin Joni, Dia masih saja heran setiap kali melihat istrinya menangis.sedikit-sedikit nangis. Masa ngilangin barang juga nangis, kan yang salah dia, lagian yang merasa kehilangan aku? Heran deh dengan wanitaku ini. Apa memang wanita paling kaya air mata ya? ucap Joni, tentu saja di dalam hati. Karena kalau dia benar-benar mengucapkan kata-kata itu pasti tangis istrinya semakin menjadi-jadi.
Joni diam. Dibuang? Oh my God. No! Dengan rasa jengkel Joni terus mencari-cari, di kardus-kardus. Di bawah rak-rak. Bagaimana mungkin barang sebagus itu dibuang?
“Nggak ada ya?” Tanya Mirna sambil membungkuk ke sana, membungkuk ke sini. Ikut mencari. Gawat, pasti suaminya akan marah. Dia ingat benar kalau barang itu sudah di buangnya. Dia pernah berusaha memasangnya di kamar mandi tapi tidak berhasil. Tempat sabun itu hanya sebentar lengket di dinding. Dan belum sempat Mirna keluar dari kamar mandi, sudah terdengar bunyi grubak. Dan tempat sabun itu jatuh. Dan setelah berkali-kali jatuh Mirna membuangnya begitu saja ke tempat sampah.
Dan bagi Joni? Tentu saja itu sangat menjengkelkan. Dia suka - bahkan senang dengan istrinya -  yang rajin bersih-bersih, menata rumah menjadi rapi dan enak di pandang. Tapi yang tidak dia sukai adalah kalau tangan –bagi Joni -  “jail” Mirna sudah mulai membuang barang ini dan itu. Setidaknya barang-barang yang menurut Joni masih bisa di pakai.
Pernah suatu hari koleksi tempat polpennya yang sudah habis di buang begitu saja, padahal bagi Joni benda itu masih bisa di belikan isi. Tali-tali raffia juga dibuang, padahal – bagi Joni – benda seperti itu harusnya di simpan kalau butuh sewaktu-waktu bisa digunakan. Dan lagi…botol-botol minuman yang akan Joni gunakan menanam bunga juga dikasihkan tukang sampah.
Lain waktu Mirna memberikan Koran-koran bekas pada penjual sayur.
“Apa? Koran-koran itu sudah tidak ada? Padahal kan masih bisa di kliping beritanya. Kamu tahu nggak sih? aku belum menggunting gimana hebohnya Zidane dapat kartu merah di piala dunia 2006. Padahal itu berita terakhirnya bermain bola. Trus…bagaimana mengharu birunya tim Irak menjadi juara di piala asia. Tabloitku tentang olahraga yang memuat berita tentang Beckham juga  kamu buang? Ya ampun, Mirna, Mirna...”
“Tapi…mas…itu kan koran lama…sudah…bulukan..”
“Tapi? Tidak ada tapi-tapian!”
“Maaf, ya mas…” Kata Mirna dengan mata yang berkaca-kaca. Menyesal? Tentu saja. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan semarah itu. Padahal koran-koran itu sudah menggunung di pojok dapur bertahun-tahun dan sebagian sudah terkena bocoran air hujan berkali-kali.
            Lain waktu ketika kaca helm Joni pecah di jalan, Joni  menyuruh Mirna  memasukkan pecahannya ke dalam tas Mirna. Dan ketika Joni mencarinya Mirna justru bilang, “Memangnya pecahan helm sekecil itu masih mau dipakai lagi? Kan helmnya sudah dekil, mas?”
            “Jadi kamu hilangin pecahan helm itu?.”
            “Aku lupa mas, aku nggak ingat.”
            “Pyek! Aku sudah bilang sama kamu, simpan pecahan itu! Suatu hari aku akan lem lagi dan cat lagi helmku biar bagus.”
            “Tapi, mas,”
            “Kamu selalu saja begitu.”
            “Dorr! Ini dia…!”
Mirna memberikan pecahan helm itu. Joni tersenyum. Hmm…, nampaknya Mirna sudah mulai tahu nilai guna suatu benda. Pikir Joni. Ya, memang menurut Joni barang-barang bekas itu jangan buru-buru dibuang. Ambil dulu manfaatnya, jadilah orang yang kreatif. Joni masih ingat pelajaran di SD tentang membuat ketrampilan dari barang-barang bekas. Dan Joni mendapat nilai sembilan koma lima.
Tapi bagi Mirna, pecahan kaca helm sekecil itu, mana helmnya sudah dekil tidak kelihatan warna aslinya? Masih mau di cat? Masih mau dipakai? Bukankah suaminya sudah beli helm yang baru. Dan Mirna hanya menggeleng-geleng dengan kebiasaan suaminya itu.
            “Itu apa?” Kali ini Joni melihat istrinya membawa karung besar.
            “Oh…ini sampah mas.”
            “Kok banyak sekali?”
            “Iya, kotak-kotak susunya Dela. Dari pada numpuk menuhi dapur mau aku buang aja.” Kata Mirna sambil melangkah keluar.
            “Tunggu!”
            “Kenapa, mas?”
            “Kotak-kotak susunya jangan asal di buang itu kan bisa di buat mainan untuk Dela.”
            “Mau dibuat apalagi?”
            “Sudahlah, kapan-kapan kalau ada waktu aku bikin sesuatu yang bagus.”
            “Tapi ini sudah kena kotoran ikan, kena sambal…lagian kan, mas selalu sibuk, mana sempat”
            “Yah…kamu ini, payah. Ya sudah lain kali jangan dibuang lagi ya?”
            “Pokoknya kalau menuhi dapur dan bikin sampah ya akan aku buang.”
            Karena Mirna yang suka seenaknya membuang-buang barang yang dalam pandangan Joni masih memiliki nilai guna, maka Joni menjadikan pojok belakang rumahnya sebagai tempat penyimpanan barang-barang bekas. Joni merasa bahwa dia harus menyelamatkan barang-barang itu dari tangan “jail” istrinya. Dan mereka sepakat. Mirna juga berjanji tidak akan mengganggu dan menyentuh barang-barang koleksi suaminya.
Jas hujan bekas, Joni pikir hanya bolong sedikit masih bisa di tambal dan di buat gonta-ganti kalau hujan. Sepatu, sandal putus…menurutnya suatu hari pasti berguna, bahkan sebatang dahan bambu kering pun bisa untuk mengambil benda-benda yang nyangkut di atas genteng, pot pecah bisa disambung lagi. Celana panjang yang sobek bawahnya bisa di potong di jahit dan jadilah celana pendek yang bagus.CD-CD bekas bisa dibikin hiasan, batu besar bekas galian sumur, suatu hari nanti kalau sudah punya taman bisa dicat dan ditaruh di taman. Dan masih ada banyak barang yang diselamatkan Joni dari pandangan istrinya
            *          *          *
            Joni baru saja sampai di kantor ketika HPnya bergetas. My love, hmm, istrinya, ada apa pagi-pagi telpon?
            “Mas…mesin pompa air bekas itu di mana?”
            “di bawah lemari dapur?”
            “Masih mau dipakai nggak?”
            “Masih. Kenapa?”
            “Ada tetangga sebelah yang butuh mas.”
            “Masih, masih mau aku serviskan dan masih bisa dipakai lagi, buat ganti kalau sewaktu-waktu pompa air yang satunya rusak.”
            “Tapi, mas…aku sudah terlanjur bilang boleh kalau di minta…”
            “Bilang aja, mau aku pakai lagi.”
            “Tapi aku gak enak mas.”
            “Gak enak gimana? itukan milik kita ya terserah kita dong mau kita apakan?”
            “Tapi…” Joni mulai mendengar isak istrinya
“Lho, kok kamu malah nangis?.”
“Dikasihkan aja ya mas. Soalnya aku nggak enak bilang sama orangnya. Masa aku harus bilang mau dipakai. Kan itu sudah rusak parah.”
            “Terserah kamu!” Joni mulai kesal.
            “Boleh nggak?”
            “Terserah!”
            “Kok terserah, aku kan jadi bingung. Trus aku bilang apa?”
            “Terserah kamu mau bilang apa?”
            “Nggak enak mas, sama tetangga sendiri, toh itu barang bekas.”
            “Karena itu barang bekas, kenapa dia nggak beli aja yang baru, yang baru juga nggak mahal, dan lagi pula dia juga orang kaya.”
            “Ya, tapi aku gak bisa ngomongnya…dikirain kita pelit mas, masa barang bekas sudah rusak aja nggak boleh diminta”
Joni diam.
            ‘Mas…” Mirna terisak lagi. Joni mematikan telepon. Kalau sudah nangis istrinya akan menghabiskan banyak pulsa jika tidak segera dimatikan.
            MAS…
Mirna mengirim SMS, merajuk…
            Terserah kamu.
Balas Joni, kemudian dia mulai menyalakan komputer dan berkutat dengan angka-angka.  Dan Mirna? Berulang kali dia harus menyusun kata-kata untuk menemui tetangganya.
*          *          *
            “Mas hari ini kerja bersih-bersih yuk.”
Seperti biasa dihari minggu Keluarga Joni menghabiskan separuh pagi untuk jalan-jalan, membaca Koran, minum kopi dan sarapan. Tapi kali ini Mirna menawarkan Sesutu yang lain.
            “Ok!”
            “Aaaauuuu…!” Baru saja Joni  meneguk kopi terakhirnya dia sudah dikejutkan suara Mirna yang lebih dulu mulai bersih-bersih.
            “Tikuusss…!”
            “Keluarga tikus…!”
            “Tikus, ya, tikus! Tutup semua pintu!”
Mirna, dengan wajah pucat dan tubuh gemetar menutup pintu. Joni lari kebelakang dan menemukan beberapa tikus mencoba berlari dan sembunyi. Joni membuka tumpukan museum barang-barang bekasnya. Dan mahkluk-mahkluk belum berbulu itu bercicit-cicit banyak sekali.
            “Waaa!” Joni mundur kebelakang.
            “Barang-barangku dibuat sarang tikus?!”
            “Apa mas? Hih…anak-anak tikus? Segitu banyaknya? Sudah berapa lama mereka beranak pinak di sini?” Mirna bergidik dan mundur ke belakang.
Joni segera bergerilya mengusir tikus-tikus itu. Bahkan dia mengambil dua ekor kucing liar yang ada di depan rumahnya untuk mengusir tikus-tikus itu. Tapi justru kucing-kucing itu hanya diam saja.
            “Ya Tuhan. Barang-barangku? Semua hancur? Tercabik-cabik?”
Pagi itu mereka benar-benar bekerja keras untuk membersihkan tikus-tikus dan kotoran yang berbau menyengat.
            “Coba kalau mas membiarkan aku membersihkan baju-baju itu dan memberikan pada yang membutuhkan,. Coba kalau jas hujan yang bolong lututnya itu di kasihkan pemulung, mungkin sampai sekarang masih berguna. Dan lihat! Pompa air itu membusuk penuh karat. Mas bisa memperbaiki? Mau mas buat apa? Kalau saja itu dipakai orang dia akan tetap memiliki nilai guna tinggi. Sekarang, nilai guna apa yang bisa diambil dari barang-barang itu, mas?”
            Joni  diam.
            “Nilai guna suatu barang itu akan ada jika barang-barang itu bisa diambil manfaatnya, bisa digunakan sebagaimana mestinya, dan digunakan oleh yang membutuhkan bukan disimpan sampai membusuk begini?”
            Mirna yang biasanya tidak banyak bicara kini di telinga Joni berubah mengoceh seperti burung.
            “Mas, tahu nggak, aku dilanda tidak enak berhari-hari gara-gara pompa air ini. Karena aku harus menjaga perasaanku, perasaan tetanggaku, dan perasaan suamiku. Memberi jawaban yang tidak menyinggung tetanggaku dan tidak menjelekkan suamiku. Tapi nyatanya? Hanya begini endingnya?”
            Mirna  diam, cemberut. Joni diam, anaknya yang baru tiga tahun justru berteriak, “Tikuss…!”
            “Mana?”
            “Itu di punggungnya papa…”
            “Huaa…!!!” Joni berjingkat-jingkat sambil mengibaskan tangannya. Mirna menahan tawa. Dalam hati dia berterima kasih pada tikus-tikus yang datang tanpa diundang itu. Dia berharap dengan kejadian ini suaminya akan berubah.
*          *          *
Suatu pagi, 22nop07/09:33

10 komentar:

  1. hehehehe...pengen jitak joni.xixixi...

    BalasHapus
  2. kereeen. ihihihi jadi ngaca. kalau itu kebiasaan ku mba. ga mau buang barang2 bekas, sayang. pdhl ngga diapa-apakan juga.

    BalasHapus
  3. Keren mbak. Hidup pemulung ! Mereka adalah sahabatku yang rutin mampir ke rumah minta barang bekas ...hehehe.

    BalasHapus
  4. Horeeee...makasih Mbak Anik udah mo dijitakin hihi, Mbak Windi ati2 ada penghuninya, Mbak Amalia ayo kbar pompom :D

    BalasHapus
  5. cerpenmu tak pernah hilang cerita hewannya:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha...ya meksipun jadi cerita tikus :D

      Hapus
  6. Kayak suamiku dan kakak iparku yang suka ngumpulin barang bekasnya hingga jadi sarang tikus. Kadang bikin tengsi tinggi dan adu otot sama suamiku...karena aku ngga bisa-an liat barang bekas yg ngelumbruk tanpa manfaat gitu numpuk..mending dibuang kalo ngga dimanfaatin segera, duuh kok jadi curhat ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaah...klo saya klo barang2 orang ngelembruk gak bisa betah, padahal barang sendiri berantakan :D
      Makasih Mbak udah mampir :)

      Hapus
  7. pas adegan tikusnya aku ikut geli mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin ada tikus masuk beneran lewat talang :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...