Rabu, 20 Juni 2012

Nyanyian Rindu (dimuat di Annida Online)


Ini, entah malam yang ke berapa aku berada di sini. Rasa ini sudah menggunung, melebihi gunung Satalibu, rasa rindu akan tanahku. Aku tak pernah berpikir untuk pergi dari tanah yang kucintai, tanah di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Tanah yang menyimpan sejuta pesona dan kenangan.
            Aku masih ingat, dulu, setiap hari aku selalu bermandi panas matahari yang melimpah di tengah savana yang wangi, sambil melihat pucuk-pucuk pohon lontar. Aku tidak pernah membayangkan, kalau akhirnya aku akan meninggalkan padang savana yang nyaman dan hangat itu. Pergi entah berapa puluh mil jaraknya. Tak pernah lagi  kulihat gugusan tanahku yang kata mereka adalah dunia tersendiri. Meski kupasang indera penciumanku, aku tak lagi menemukan aroma khas lautku yang biru dan jernih itu.
Dulu, aku  beberapa kali menyaksikan  turis-turis asing dengan wajah berseri-seri menyebut-nyebut tentang pink beach yang romantis, yang kata mereka merupakan tempat paling nyaman untuk  spot diving dan snorkling. Aku juga selalu ingin tertawa setiap melihat turis yang datang begitu histeris saat menginjakkan kaki di padang savana, dan melihat kami yang sedang bermandi sinar matahari. Ah, sungguh aku merindukan semua itu.
          “Ibu, kenapa ibu masih diam?”
“Oh, kau bertanya apa tadi?”
          “Ah, ibu selalu melamun setiap kali akan bercerita.”
“Oh…” aku tersenyum, memandangi anak-anakku.
          “Jadi, aku tanya, kali ini ibu akan bercerita tentang apa?”
          “Kalian mau ibu bercerita tentang apa?”
          “Bagaimana tentang Pink Beach, Ibu?”
         “Kau masih penasaran dengan pantai berpasir merah muda itu, Borassus flabellifer?”
         “Iya, Bu, aku selalu membayangkan keindahannya setiap kali aku mau tidur.”
         “Tapi aku ingin ibu bercerita tentang nama-nama kita yang indah.”
         “Baiklah, ibu akan ceritakan dulu tentang nama-nama kalian,” kutatap anak-anakku satu per satu.
         Ya, bukan tanpa alasan kenapa aku menamai mereka dengan nama-nama yang kata teman-temanku aneh. Tapi bagiku, nama anak-anakku adalah nyanyian setiap rinduku.
         “Kau, Borassus flabellifer, arti namamu adalah pohon lontar. Di pulau komodo banyak sekali pohon lontar.”

          “Waah, bagus sekali. Kalau namaku apa artinya, Bu?”
          “Calamus sp, artinya rotan. Selain lontar, ada juga rotan di pulau komodo.”
          “Kalau aku, Bu?”
          “Bambusa sp, namamu berarti bambu. Di sini mungkin juga ada bambu, besok akan kutunjukkan padamu.”
“Benarkah, bu?”  mata Bambusa berbinar. Aku mengangguk.
          “Nah, kalau kamu, Tamarindus indica, berarti pohon asam. Di sini ibu pernah melihat pohon asam. Besok sambil melihat bambu, kita juga akan melihat pohon asam.”
“Apakah arti namaku juga sejenis pohon, Ibu?”
“ya, Sterculia foetida, arti namamu adalah pohon kepuh. Sedang kamu, Ziziphus jujuba, arti namamu adalah pohon bidara.”
          “Aku, Bu? Apa artinya Rhizophora sp?”
          “Kalau kamu adalah pohon bakau Rhizophora.”
“Waah...”
           “Dan kalian tahu, semua nama-nama kalian adalah nama-nama tumbuhan yang ada di Pulau Komodo.”
           “Waw…”
Aku tersenyum memandang anak-anakku. Begitulah caraku agar aku tetap merasa dekat dengan tanahku, meskipun kenyataannya aku jauh dari sana. Ah, bukan, bukan hanya jauh dari tanahku, tapi juga jauh dari ibu dan beberapa saudaraku. Ya, memang kehidupan komodo adalah mahkluk penyendiri, tapi bagaimanapun keluarga tetaplah keluarga.
          “Ibu, apakah semua komodo tinggal di satu tempat di padang savana pulau komodo?”
           “Tidak, Rhizophora. Selain di Pulau Komodo, sebagian keluarga kita juga tinggal di pulau Rinca, pulau Gilimotang dan Nusa kode. Tapi memang sebagian besar tinggal di pulau Komodo.”
           “Ah, Ibu…kapan kita bisa melihat tanah nenek moyang kita? Apakah kita bisa ke sana?”
“Zhizipus, mungkin kita tidak akan pernah bisa ke sana, Nak,”
“Kenapa, Bu? Aku kadang bosan tinggal di sini.”
         “Kita adalah binantang penghuni kebung binatang, Nak. Dan yang ibu tahu, binatang penghuni tempat ini memang jauh dari habitat aslinya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Manusia menginginkan seperti ini.”
          “Apakah Ibu tidak rindu untuk pulang?”
          “Rindu? Ah, Nak, bahkan rindu ibu sudah melebihi bukit Sulphurea Hill. Rindu ibu sudah menggunung melebihi gunung Satalibu.”
“Bukit Sulphurrea Hill? Apakah itu nama bukit di tanah kita, Bu?”
“Benar, Bambusa, orang-orang sangat mengagumi bukit Shulphurea Hill. Karena kata mereka, dari puncak bukit itulah lansekap Taman Nasional Komodo terlihat jelas dan indah. Dan…tidak hanya itu, kadang mereka menuju bukit itu untuk mengadakan pengamatan burung Kakatua kecil jambul kuning.”
          Kami diam. Mungkin anak-anakku sedang membayangkan bagaimana indahnya tanah nenek moyangnya. Ah, kalau aku bisa memilih, tentu aku memilih untuk tetap tinggal di sana. Melahirkan dan membesarkan mereka di sana. Bukan di sini. Di kebun binatang ini, meski manusia-manusia itu berusaha memberi kami tempat buatan, namun tetap saja tidak senyaman rumah kami yang asli.
Bahkan, akhir-akhir ini beberapa komodo lumpuh karena kandang kurang mendapat sinar matahari. Ya, sinar matahari sangat penting untuk kelangsungan hidup kami. Maka, aku selalu mengatakan pada anak-anakku agar jangan hanya berdiam di kandang. Aku sendiri jarang masuk kandang. Lagi pula, di tanahku kami tak pernah tinggal di kandang. Kami hidup bebas di padang savana yang hangat dan nyaman.
“Nah, ini dia komodo yang kemarin  dipertaruhkan itu.”
          Aku melihat ke arah dua orang gadis yang sedang melihat kami.
          “Manis, ya?” seorang dari mereka mengarahkan kameranya padaku.
          “Tapi pasti lebih manis jika kita melihat langsung di habitat aslinya.”
          “Di pulau Komodo?”
“Ya. Kadang aku membayangkan bisa ke  pulau yang eksotis itu.”
“Ohya, menurutmu, benar-benar ada efek baik gak sih  dari voting new7 wonder kemarin? terutama bagi turis asing?”
            “Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi bukankah TNK sangat menarik? Aku membayangkan paket wisata Bali itu sekaligus ke TNK. Para turis yang mengunjungi Bali akan menyesal jika melewatkan Taman Nasional Komodo. Toh, yang aku baca hanya butuh waktu 60 menit naik pesawat menuju Labuhan Lajo di Manggarai Barat. Dan setelah itu, semua perjalanan ditempuh dengan perahu. Nah,  perjalanan dengan perahu inilah yang menurutku  menarik. Ooh…aku sering membayangkan kelak setelah menikah aku akan menghabiskan waktu sebulan di sana.”
“Yaah, mulai ngaco deh, kamu.”
“Bukan ngaco, tapi cita-cita, tahu?!”
          Aku tersenyum melihat dua gadis itu. Mereka masih membicarakan kami. Dan pembicaraan mereka tentang komodo, tentang…, oh Tuhan, jadi kami selama ini sedang dipertaruhkan?
Komodo? Keluargaku dan tanahku yang eksotis itu? Aku yakin, jika semua orang tahu betapa menariknya kami,  pasti mereka tidak akan menolak untuk mengakui pesonanya. Tentu saja sangat menyenangkan jika dapat menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia itu. Walaupun itu terjadi, mungkin tak akan berpengaruh apapun bagiku yang ada di sini. Mungkin aku akan tetap di kebun binatang ini dan tak akan pernah kembali ke tanah nenek moyangku. Tak akan pernah bertemu ibu dan saudara-saudaraku lagi. Tapi kalau itu dapat membahagiakan penghuni tanah negeri ini, tentu saja aku turut berbahagia.
Ya, aku bahagia menjadi salah satu dari sekian banyak tanda kebesaran Tuhan di bumi ini. Dan aku berharap, rakyat negeri ini juga berbahagia karena Tuhan telah memilih Indonesia untuk menjadi satu-satunya habitat asli kami.
          “Ibu, ibu…”
          Aku terkejut, Bambusa berlari mendekatiku
          “Ada apa, Bambusa?”
“Ada komodo yang mati, Bu. Paman Ranca yang beberapa hari kemarin lumpuh itu.”
Aku dan Bambusa segera menuju kandang. Kulihat Ranca yang biasa dipanggil anak-anak dengan paman itu, sudah tidak bergerak lagi. Ah, Ranca, aku dan dia dulu bersama-sama dibawa manusia dari Pulau Komodo. Ia selalu bilang padaku ingin sekali kembali ke tanahnya di pulau Rinca. Tapi hal itu hanya menjadi mimpi, seperti juga aku.
Kini, setelah berhari-hari mengalami kelumpuhan karena kurang sinar matahari, Ranca akhirnya pergi untuk selamanya. Menjadi binatang ke sekian di kebun binatang ini yang mati. Ya,  kadang aku berpikir, kenapa kami dibawa ke  kebun binatang ini jika tempat ini tidak layak untuk kami? Setelah beberapa hari lalu harimau Sumatra mati, lalu kanguru dan beberapa rusa juga mati, kini Ranca menyusul mereka.
Aku melirik pada beberapa komodo di dalam kandang. Keadaan mereka sangat memprihatinkan. Beberapa kali aku mengajak mereka untuk berjemur di bawah sinar matahari. Namun mereka sudah tak mampu berjalan karena telah lumpuh.
Sungguh, semakin tak terbendung keinginanku untuk kembali ke tanahku. Tapi, mungkin kelak nasibku juga akan seperti Ranca. Ah, tiba-tiba aku merasa bahwa hidup di kebun binatang ini hanya seperti menunggu giliran untuk mati.
Gading kirana, 031-422291210

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir dan membaca :)

      Hapus
  2. wowwww...cerita yg super keren,mbak. Slm kenal y dari Kudus.Ide ceritanya juga unik n amazing :)

    BalasHapus
  3. subhanallah... sebuah cerita yang mengesankan.
    Mengalir dan temanya menarik untuk disimak.

    Salam kenal ya mbak...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...