Jumat, 27 September 2013

Syurga yang Terlarang






Saya masih ingat, novel pertama yang saya miliki adalah novel islami yang berkisah tentang seorang mahasiswa baru dengan segala pernik-perniknya. Novel itu saya lihat iklannya di majalah Annida. Novel itu pula yang akhirnya mendampingi saya ketika melangkah dari seragam putih abu-abu ke pakaian bebas tapi sopan.

Pada perjalanannya, sedikit demi sedikit koleksi novel-novel islami saya semakin bertambah. Temanya beragam, mulai dari perjuangan, persahabatan dan romance. 

Saya tidak pernah menyesal setiap kali membeli novel dan membacanya. Meski pada beberapa endingnya bisa ditebak. Namun di lembaran-lembarannya selalu ada perenungan, oase, yang tertinggal dan mengendap lama di hati saya. Sebagian justru menjadi penguat dan petunjuk dalam memutuskan masalah yang saya hadapi. Ya, bisa dibilang, fiksi islami adalah sahabat yang mendampingin masa remaja saya. Bahkan dalam beberapa kisah bisa saya ambil pelajarannya ketika saya sudah berstatus sebagai ibu rumah tangga.

Beberapa waktu lalu ketika saya ke toko buku, rasanya senang sekali melihat novel-novel sejenis berderet-deret di rak buku. Tentu saja, yang paling membahagiakan adalah karena sebagian penulisnya adalah sahabat-sahabat saya.

Salah satunya adalah Syurga Terlarang karya Leyla Hana. Nama itu, yang dulu dalam karyanya sering memakai nama aslinya Leyla Imtichanah adalah salah satu nama yang akrab dalam ingatan saya. Tulisan-tulisannya selalu mengena di hati. Tidak pernah menyangka jika akhirnya media sosial menjadi perantara kedekatan kami.

Ngomong-ngomong tentang Syurga Terlarang, novel itu seperti membawa saya menyusuri  jalan kenangan. Bagaimana perasaan saat awal-awal menjadi mahasiswa baru. Ketika bingung mengikuti kegiatan apa di kamus, hingga memutuskan ikut ini dan itu. Dan juga bisik-bisik beberapa teman yang terkena virus merah jambu.

Syurga Terlarang bercerita tentang Nazma Safira yang mengenal Ahmad Faisal di kegiatan kerohanian Islam di kampusnya. Di matanya, Faisal adalah sosok yang cerdas. Ia jatuh simpati kepada lelaki itu. Perasaan simpati itu menjadi cinta saat hubungan keduanya semakin dekat. Awalnya, pembicaraan mereka hanya berkisar pada kegiatan yang mereka ikuti, lama-lama menjadi curhat pribadi. Kedekatan keduanya membuat teman-teman mereka di kerohanian Islam gerah. Nazma dan Faisal disidang! Mereka ditantang untuk meresmikan hubungan itu dalam pernikahan. Nazma merasa belum siap karena masih duduk di semester lima, Faisal pun demikian. Akhirnya, mereka diharuskan untuk menjaga jarak. 

Apa yang terjadi selanjutnya? Ohoho, silakan saja menebak-nebak. Bahkan sambil membaca saya juga sibuk menebak-nebak, pasti begini, pasti begitu. Dan…ternyata, saya salah! Mbak Leyla dengan piawai membawa pembaca pada liku-liku kisah yang sama sekali tak terduga.
Siapa sangka, jika di kemudian hari Nazma justru dilamar oleh kakaknya Faizal? Apakah Nazma menerima? Lalu apa yang dilakukan Faisal mengetahui hal tersebut. Di sinilah, perasaan pembaca semakin teraduk-aduk.

Pada akhirnya, semua memang kembali pada selera. Namun bagi saya, ini adalah novel yang inspiratif. Bacaan aman dan sehat bukan saja untuk remaja, namun juga  yang sudah bukan remaja. Lewat tokoh-tokohnya pembaca bisa berkaca, bagaimana mengatasi gejolak hati pada saat yang belum tepat, bagaimana mengendalikan perasaan di saat yang benar-benar tidak tepat. Bagaimana menjadi istri, menjadi menantu, menjadi ipar, bahkan menjadi mertua.
Seperti gerimis yang jatuh di tanah gersang retak-retak, itulah gambaran novel ini. Menyejukkan. Kepiawaian  Mbak Leyla  dalam menjalin cerita, membuat novel ini tersaji manis dan terhindar dari jebakan klise.

            Senang sekali bisa membaca novel ini, apalagi mendapat kabar kalau novel ini selain beredar di Indonesia juga dipasarkan di Malaysia. Keren deh.

Tetaplah menulis Mbak Leyla! Remaja-remaja kita butuh bacaan yang tidak hanya sebagai hiburan namun juga mencerahkan. Semoga kalimat-kalimat yang kau rangkai dalam setiap karyamu, menjadi amal yang terus mengalirkan  kebaikan. Aamiin.
Eh, ada cuplikannya di sini.

6 komentar:

  1. Haduh, mba, makasih banget lho udah nulis ini :')
    Aaamiin... semoga doanya menyata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Sama-sama Mbak Ley. Emang dari setelah baca udah niat bikin catatannya :)

      Hapus
  2. Semangat ya mbak Leyla Hana dan jg Mbak Shabrina

    BalasHapus
  3. salam kenal mbak Shabrina :)
    buku ini langsung saya bookmark ah, harus segera dibaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mom, :) monggo silakan :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...