Selasa, 22 Oktober 2013

Maneser Panatau Tatu Hiang dan Novel BETANG


Kalau dalam menulis VIAJEN alias Always Be in Your Heart saya berburu buku TIMOR_TIMOR Satu Menit Terakhir, karya Rhein Kuntari. Maka ini adalah buku yang mendampingi penulisan novel BETANG: Cinta yang Tumbuh dalam Diam. Maneser Panatau Tatu Hiang, termasuk buku langka. Belinya setelah nyari-nyari di internet, dan sms pada yang bersangkutan. Agak khawatir kalau kena tipus juga sih. Alhamdulillah ternyata beneran.


Maneser Panatau Tatu Hiang artinya menyelami kekayaan leluhur, adalah buku yang disunting berdasarkan buku Kalimantan Memanggil, Kalimantan Membangun, dan dilengkapi catatan-catatan harian, kumpulan naskah dan dokumen-dokumen. Tjilik Riwut, pahlawan nasional dari Kalimantan Tengah. Beliau dengan bangga selalu menyatakan dirinya sebagai orang hutan karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan. Sebagai pecinta alam sejati dan sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya, ketika masih belia, ia telah tiga kali menglilingi Pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit.
Tjilik Riwut adalah salah satu putra Dayak yang menjadi anggota KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampaui batas-batas kesukuan.

Kenapa saya merasa perlu membeli buku ini, karena setting yang saya pakai adalah Kalimantan tengah, di rumah Betang, rumah adat Kalimantan yang beberapa istilahnya tidak saya temukan di internet.
Memang tak banyak yang saya ambil dari buku ini, namun membacanya serasa menjadi si tokoh yang lahir dan besar di tanah Borneo. Apalagi  buku ini juga dilengkapi foto-foto.

Novel Betang sendiri adalah novel yang bercerita tentang kisah hidup Danum. Seorang atlet Dayung yang dihadapkan dengan berbagai pilihan.

Selain buku Maneser Penatau Tatu Hiang dan buku Kalimantan Membangun. Saya juga SKSD dengan atlet Dayung nasional peraih emas Sea Games dan datang langsung ke rumah Betang di TMII, melakukan gerakan-gerakan yang dilakukan tokoh.

Dan inilah penampakan dan synopsis dari BETANG: Cinta yang Tumbuh dalam Diam. Ohya harganya 29.800, di beberapa toko buku diskon 15%.


Tak masalah duduk di haluan atau buritan,
asal kau tetap menggerakkan dayungmu!

***
Danum lahir dan besar di rumah Betang (rumah adat Kalimantan). Dia jatuh cinta pada dayung sejak pertama kali memilikinya. Bersama Dehen sahabatnya, mereka menyusuri sungai-sungai, beradu kecepatan.
“Atlet nasional! Keliling dunia! Dan mengibarkan merah putih di negeri orang!” keinginan Dehen menular padanya.

Tapi, semua tak semudah yang dia bayangkan. Ketika Dehen telah sampai di Pelatnas, Danum harus menerima kenyataan berkali-kali gagal di tingkat daerah.

Hingga ketika kesempatan itu datang, waktu justru mempertemukannya dengan berbagai pilihan.
Tetap tinggal demi orang yang dicintainya, atau pergi demi cita-citanya?
Memelihara benci pada sosok yang telah meninggalkannya, atau memaafkan dan  mengambil ladang syurga?
Menyimpan rapat perasaan yang telah mengendap di hatinya atau melihat sahabatnya terluka?

Dia penah berkali-kali gagal. Dia pernah berkali-kali kehilangan.  Pada akhirnya waktu memberinya pelajaran, bahwa hidup sempurna bukan berarti semua berjalan sesuai keinginannya.[]

1 komentar:

  1. keren kayaknya bukunya mbak....
    banyak unsur2 adatnya ya???
    :D

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...