Jumat, 18 Oktober 2013

Rainbow


Selesai!
Senang sekali bisa menyelesaikan membaca novel ini. Novel yang sejak covernya dipublish oleh penulisnya sudah mencuri hati saya.
Jika dalam Bersandarlah di Bahuku Mbak Eni Martini bercerita tentang Nadia dan Wahyu yang  dihadapkan pada kenyataan bahwa pernikahan mereka sesungguhnya tak semudah yang mereka bayangkan. Maka, Rainbow, berkisah tentang Keisha dan Akna, sepasang suami istri yang sedang mengecap manisnya pernikahan. 

“Kamu itu bidadari tanpa sayap, Sayang. Maka dari itu aku datang diciptakan Tuhan untuk menjadi sepasang sayap buatmu…”
Wanita di belahan bumi mana yang tidak akan merebahkan hatinya pada laki-laki yang datang dengan dua sayap untuk melindunginya? Wanita mana yang tak bersedia untuk dipinang dan menempatkan semua impiannya, mejadi istri, menjadi ibu demi lelaki seperti itu.

Itu kalimat-kalimat yang berderet di sampul belakang novel Rainbow. Menarik kan?
Dan mari kita menuju ke bagian pertama. Cumulus. Bagian yang langsung membawa pembaca pada konflik kisah ini.  Sebuah kecelakaan yang merenggut kaki Akna, tepat di ulang tahun pertama pernikahan mereka. Pembukaan yang langsung ke jantung. Jedder!


Peristiwa itu tidak hanya membuat Akna kehilangan kakinya, tapi juga karier yang telah digenggamnya. Sementara Keisha harus menghadapi segala hal yang terjadi pada  kehidupan pernikahannya. Dia yang selama ini berada di wilayah yang nyaman, harus menghadapi perubahan sikap suaminya yang terpuruk. Di hadapannya tak ada lagi lelaki bersayap malaikat itu, yang ditemui justru monster yang menyeramkan. Mertua yang terus menuntutnya untuk menjadi istri sempurna. Di sisi lain, dia terseok-seok mempertahankan ekonomi keluarganya.
Kisah yang membuat mata saya perih, berkaca-kaca.

Novel yang inspiratif. Saya menangkap tiga point yang saya catat.
1.Bahwa ada bermacam-macam ujian dalam pernikahan. Pernikahan bukan hanya menyatukan dua senyum. Tapi juga sama-sama menghapus air mata. Sama-sama memikul beban, sama-sama membalut luka.  Tidak lantas berlari jika salah satu memunggungi. 

2.Betapa kehadiran sahabat adalah harta berharga yang tak bisa dinilai dengan rupiah. Memang, sahabat bukan selalu orang yang seratus persen sama dan seiring sejalan. Seperti halnya Emi yang barangkali justru memenjalani prinsip kehidupan yang bagi banyak orang akan menentangnya (termasuk saya), namun dia selalu ada untuk Keisha. Atau juga Romi si Playboy botol kecap itu. Di sini, sepertinya penulis ingin menyelipkan pesan  bahwa tidak semua orang bersayap malaikat, tapi tidak seluruh kepala manusia bertanduk setan. Semoga saja pesan  ini sampai ke pembaca.

3.Kalau di Coffee Memorynya Mbak Riawani Elyta pembaca bisa mencuri ilmu bisni kafe, di Rainbow, kita bisa intip bagaimana mengelola bisnis, toko online, hingga proposal pengajuan pinjaman.

Sebenarnya, mau dibawa kemana kisah ini, tidak sulit untuk menebaknya. Bahwa akan ada pelangi setelah hujan, seperti judulnya. Akan selalu ada kesempatan kedua, seperti yang tertulis di sampaulnya. Namun, Mbak Eni membawa pembaca pada perenungan, jalan panjang, berliku, terjal. Tak mudah berdiri tegak pada pekatnya mendung, derasnya hujan, dan kencangnya badai. 

Selamat Mbak Eni atas terbitnya Rainbow. Semoga pesan-pesan dalam novel ini sampai pada pembaca. Dan laris manis tentunya. Aamiin. 

 Judul: Rainbow
Penulis: Eni Martini
Penerbit: Elexmedia Komputindo
#31Hari Berbagi Bacaan

19 komentar:

  1. Widiiih... bisa baca buku cepet gitu, gak nulis ya mba? XD

    BalasHapus
  2. boleh minjem mbak, hehe. Review yang manis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan ya ketemuan di sekolah gitu?

      Hapus
  3. Sama2 menghapus airvmata, membalut luka dan tak berlari saat salah satu memunggungi. Suka ama kalimat ini. Suka resensinys yg keren

    BalasHapus
  4. alamaak resensinya mak nyesss deh, makin mupeng aja sama buku ini. makasih mba

    BalasHapus
  5. Komenku boleh lain sendiri ya? Untung dikau bilang jedder bukan jebret ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, lain sampai tiga kolom hihihi iya untung bukang jebret :D

      Hapus
  6. Komenku boleh lain sendiri ya? Untung dikau bilang jedder bukan jebret ;p

    BalasHapus
  7. Komenku boleh lain sendiri ya? Untung dikau bilang jedder bukan jebret ;p

    BalasHapus
  8. makasih mba Eni, Insaallah jadi semakin semangat menulis*Resensi yang menhidupkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak. Ditunggu buku berikutnya :)

      Hapus
  9. “Kamu itu bidadari tanpa sayap, Sayang. Maka dari itu aku datang diciptakan Tuhan untuk menjadi sepasang sayap buatmu…”
    suka bangeet bagiaan yg ini,,simpeen ah buat istri :p
    EPICENTRUM: Mampir ya kakaak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah tabungan kata2 tuh.
      Iya, saya sudha beberapa kali mampir blog kamu. Makasih udah mampir ya :)

      Hapus
  10. besok bakal muncul juga buku yang berjudul Lulu Ws,hehehe

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...