Minggu, 28 Agustus 2016

Tembang Daun Jati [Cerpen Duta Masyarakat Agustus 2016]



Minten masih ingat ketika suatu malam, ada lelaki dan perempuan tua datang ke rumahnya. Mereka tak pernah menerima tamu sebelumnya. Maksudnya tidak pernah ada yang benar-benar bertamu ke rumah mereka. Kalau pun ada, biasanya hanya orang-orang yang pesan daun jati. Itu pun di halaman saja, tidak pernah masuk rumah.
            “Maksud kedatangan kami ini, untuk melamar Minten.”
            Lelaki itu membawa keranjang berisi gula, teh dan kopi. Begitulah orang-orang di kampung Minten ketika melamar.
Minten duduk di atas lipatan kakinya, di samping Emak, mendengarkan baik-baik kalimat-kalimat Emak dan tamunya.
“Ya, seperti rencana kita beberapa  waktu lalu,  menjodohkan anak kita,” kata salah satu tamu itu.
 Minten menatap orang itu, kemudian berpaling pada emaknya. Dia melihat wanita yang rambutnya menipis dan abu-abu itu beberapa kali menarik napas panjang. Kemudian, setelah mengusap wajah, Emak menepuk pundaknya.
            “Ada yang melamarmu, Minten,” ucap Emak, lalu berhenti sejenak.
“Begini, emak dan orang tuanya dulu pernah bicara untuk menjodohkan kalian.”
Minten menangkap suara Emak bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
“Tapi ya, itu terserah kamu. Menerima atau tidak.”
            Dijodohkan.
Aneh sekali rasanya bagi Minten mengucapkan kalimat itu, meski hanya dalam hati.
            “Menurut emak, kamu sudah mampu untuk menikah.” Emak menggenggam tangan Minten, erat.  “Kamu mau kan menerima perjodohan ini?”

Tentu saja, Minten tidak langsung menjawab waktu itu. Dia bertanya, siapa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Di mana rumahnya, dan seperti apa orangnya.
“Namanya Jo.”
Minten menyimpan baik-baik nama itu dalam ingatannya.
“Dia rajin bekerja dan pintar memanjat pohon-pohon tinggi. Kalau kalian mencari daun jati bersama, kamu tak perlu khawatir tidak dapat daun.”
Pencari daun jati. Pekerjaan sama dengan yang  mereka jalani selama ini. Minten mengingat-ingat, beberapa lelaki yang berpapasan dengan mereka di hutan? Apakah dia pernah melihatnya? atau pernah bertemu dengannya?
“Dia pernah menolong kita. Kamu ingat, waktu  tali daun jati putus saat hujan deras?" 
Itu dua musim lalu.
Minten diam, mengingat seorang lelaki yang waktu itu dengan sigap mengambil satu tali yang melingkat di pinggang  dan mengikat daun jati yang berserakan. Lelaki itu mengangguk, ketika Emak mengucapkan terima kasih. Kemudian pergi begitu saja setelah tersenyum pada Emak, tanpa melihat ke arah Minten yang berteduh di bawah pohon.
Mengingat itu, Minten hampir tak bisa tidur semalaman. Esoknya, berkali-kali emak mendesak meminta jawaban. Tetapi gadis itu ragu, bagaimana mungkin, dia menerima seseorang yang menatapnya pun tidak mau?
“Kamu boleh menolak.”
Minten menggigit bibir mendengar kalimat Emak. Dia tahu, saat itu, Emak justru berharap Minten menerima.
            Perjodohan itu, sejujurnya sungguh mengejutkan Minten. Mereka hanya berdua sepanjang ingatannya. Minten dan emak menjalani hari-hari memetik daun jati, dari  gadis itu belum bisa memegang sabit,  hingga kini dia kuat menggendong dua ikat besar daun jati.
            Jadi, kalau tiba-tiba dia menikah dan hidup bersama orang lain, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya?
            “Emak sudah tua. Bisa sewaktu-waktu menyusul bapakmu,” kata Emak lagi. “Kalau kamu menikah, kamu tidak akan sendiri jika emak pergi.”  
            Lalu Emak menjelaskan tentang kehidupan dan kematian. Tentang pergi dan meninggalkan. Tentang pikiran-pikirannya akan Minten. Emak juga mengatakan perihal  kehormatan seorang gadis. Tentang tanggungjawab Emak akan dirinya pada Gusti Allah kelak. Minten memeluk emak pagi itu, sambil mengangguk, menerima perjodohan dengan Jo.
***
            Dan hari pernikahan itu pun tiba. Tidak ada tenda terpasang di halaman seperti orang-orang. Tidak ada suara musik dan lagu-lagu yang diputar dengan pengeras suara. Tidak ada. Hanya beberapa tetangga dekat datang. Dan sedikit kesibukan di dapur yang ditingkahi tawa ibu-ibu tetangga.
Emak membelikan Minten kebaya ungu dan kerudung renda-renda. Minten belum pernah merasakan kebahagiaan seperti itu saat memakai baju. Baju terindah yang dia miliki sepanjang usianya.
            “Minten, ayo salaman sama Tarjo. Dia sudah sah menjadi suamimu.”
Minten terkejut. Tiba-tiba di depannya sudah berdiri Jo. Lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya. Senyum yang tiba-tiba membuat lutut Minten gemetaran. Lalu, dengan gugup dan pipi merona, Minten menyambut uluran tangan itu.
Orang-orang melihat mereka dengan mata berkaca-kaca. Minten bahkan memergoki  Emak berkali-kali mengusap air mata yang menggarisi pipi keriputnya.
***
Paginya, Minten dan Jo pergi ke hutan untuk mencari daun jati. Memang begitulah pekerjaan mereka. Mencari daun jati untuk dijual pada pembuat tempe. Minten pernah dengar, kalau akhir-akhir ini orang-orang kembali lebih menyukai tempe-tempe bungkus daun daripada bungkus plastik.
Tiba-tiba Jo menghentikan langkahnya.
“Akku, ukka amma ammu!” ucap Jo.
Minten berdiam sejenak, mencoba memahami apa yang diucapkan Jo. Lelaki itu meraih tangan Minten, dan membawa ke dadanya. Jo mengucapkan kalimat itu sekali lagi, dengan nada yang sama. Minten tersenyum dan mengangguk.
 “Kasihan sekali ya, Tarjo dan Minten itu, sama-sama keterbelakangan kok dinikahkan.”
“Lha iya. Bagaimana ya mereka kalau  komunikasi?”
“Ah, yang tidak jelas itu ya orang tuanya, sama-sama  begitu kok dijodohkan.”
Dua orang ibu-ibu  berjalan melewati mereka sambil bercakap-cakap. Minten menelan ludah. Sejak kecil, dia memang tidak mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Tapi, Minten selalu memahami apa yang diucapkan orang-orang. Telinganya jelas menangkap semua suara.
“Akku ukka amma ammu!” kata Jo lagi. “Ejak aunn atti emmak uttus.”
Minten bisa merasakan apa yang diucapkan Jo sungguh-sungguh. Dia menangkap itu jelas dari nada suara dan kilau mata Jo. Minten mengangguk, tersenyum. Jo juga. Dengan beberapa huruf yang hilang dari setiap kata yang diucapkan, lelaki itu meyakinkan, agar Minten tak perlu mendengarkan kata orang tentang mereka.
“Allah ebbih ahhu,” ucap Jo sambil menunjuk atas.
Lalu sepanjang jalan menuju hutan Jati, mereka terus melangkah bersisian. Dalam hati, Minten melagukan tembang daun Jati yang dulu sering dinyanyikan emak untuknya.
Daun-daun jati, gugur untuk tumbuh kembali
Jangan sedih hati, apa yang diberikan Illahi.
Biarkan orang-orang menghina.
           Asal kita tak hina di hadapan-Nya.[]

7 komentar:

  1. Keren cerpennya, mba. Btw, tembang daun jati itu memang ada ya, mba Eni?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Ila, 😊
      Nggak tahu ada apa gak, itu muncul begitu saja saat aku mengakhiri cerpen ini 😊

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Mbak Vanda,makasih sudah mampir 😊

      Hapus
  4. Speechless. Suka banget dengan cerpen ini. Ajarin aku nulis lembut begini, dong. :)

    BalasHapus
  5. Ceritanya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami sboplaza.com ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...