Senin, 07 November 2016

#Puisi Tepukan Semesta [Republika 6 November 2016]


pernah semesta menepukmu, 
lewat guyuran cahaya matahari sepenggalah
menarikmu, dari  jelaga kelumpuhan
pernah semesta mengirim cahaya, 
pada lengkung langit yang penuh gugusan bintang
ke ujung langkahmu yang goyang

lalu angin bersiut kepadamu,
bumi bukan rumah, ia jalan menuju pulang
sementara waktu seperti tombak yang terus berputar
mencongkel kepingan  puzzle yang kaubiarkan  tak terpasang

kini, kaurutuki semesta
kaubilang ia berkoloni mengepungmu,
melumpuhkanmu,
mengikatmu.
kaukumpulkan alasan, kaukumpulkan pembenaran
kenapa,
kenapa tak kau terima saja kesakitan itu
luka-luka itu
nyeri-nyeri itu
barangkali dengannya,
bisa kau bayar sebagian demi sebagian
kesalahan masa lalu yang telah menjauh darimu.

*Untuk pengiriman puisi ke Republika alamatnya 
islamdigest@redaksi.republika.co.id minimal 5 puisi. Kalau cerpen ada konfirmasi pemuatan tiap Kamis, kalau puisi tidak ada konfirmasi.

9 komentar:

  1. kata-kata yang manis namun menghunjam....telak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih dah mampir Mbak Dwi 😍

      Hapus
  2. Mba Sha, pas kirim tgl berapa kah? Saya salah alamat rupanya ... kurang pusing-pusing sih :D

    BalasHapus
  3. Duh.. mashaallah. Keren mbk brina

    BalasHapus
  4. Duh.. mashaallah. Keren mbk brina

    BalasHapus
  5. Bagus bingitssss... MasyaAllah.. He he.. Pingin diajari bagaimana menjala kata kata dari ribuan peristiwa...

    BalasHapus
  6. Bagus bingitssss... MasyaAllah.. He he.. Pingin diajari bagaimana menjala kata kata dari ribuan peristiwa...

    BalasHapus
  7. Gmn mb sabrina untuk mengetahui dimuat/tidaknya puisi yg dikirim? Mksh

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...